Sekitar Ngawi

Sekitar Ngawi (132)

Ngawi- Sedikitnya Tim SAR yang terdiri dari satuan tugas (Satgas) gabungan baik dari kepolisian, Basarnas, BPBD dan Satgas MTA terus mencari keberadaan Harjowiyoto alias Jono kakek 70 tahun yang diduga terseret arus Bengawan Solo di Dusun Bareng, Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Ngawi. Pada hari kedua pencarian diterjunkan tiga perahu karet dengan memperluas area pencarian hingga 4 kilometer kearah muara.

“Hari kedua ini tadi ada tiga perahu sasaran pencarian kearah bawah. Namun terkendala arus yang lumayan kuat dan banyaknya sampah mengingat kondisi Bengawan Solo sekarang ini banjir,” terang Kapolsek Karanganyar AKP Suyadi, Jum’at (01/12).

Seperti dikabarkan, kakek Harjowiyoto warga Desa Sriwedari dinyatakan hilang atau diduga terseret arus Bengawan Solo pada pukul 10.00 WIB pada Kamis kemarin, (30/11). Pagi sebelum kejadian korban sempat bertemu dengan adik iparnya Suwarni dan menuju ke Bengawan Solo yang hanya berjarak sekitar 25 meter dari rumahnya untuk buang hajat.

“Karena sampai siang tidak pulang ke rumah baru diketahui korban yang mempunyai penyakit sering tidak sadarkan diri ini hilang di Bengawan Solo itu. Kemarin itu warga sudah berusaha mencari keberadaan korban disekitar lokasi kejadian namun hanya ditemukan sandal jepitnya saja,” beber AKP Suyadi.

 

Setelah 3 hari kemudian jasad Harjowijoto alias Jono kakek berusia 72 tahun warga Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Ngawi yang tenggelam di Bengawan Solo ditemukan. Penemuan jasad korban ditemukan sekitar 14.30 WIB di Desa Klagen, Kecamatan Kedungtuban masuk Blora, Jawa Tengah.

“Korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal kondisinya sudah mulai membusuk. Setelah di evakuasi dan di bawa ke rumah sakit jenasah korban langsung dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan,” terang Eko Heru Tjahjono Kepala BPBD Ngawi, Sabtu (02/12).(ARD)

Monday, 04 December 2017 00:00

Penilaian Adipura PKL dilarang Berjualan

Written by

Ngawi- Disayangkan apa yang dirasakan oleh mereka para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasa mangkal di beberapa jalan protokol dalam Kota Ngawi untuk sementara waktu harus bersabar untuk tidak berjualan. Larangan tersebut setelah dikeluarkanya surat pemberitahuan dari Satpol PP daerah setempat tertanggal 21 November 2017 kemarin.

Arif Setiyono Kasi Penegakan Perda Satpol PP Ngawi mengatakan, larangan berjualan bagi PKL yang sering mengais rejeki di area trotoar jalan utama dalam kota sifatnya hanya sementara. Dan itu hanya diberlakukan selama tiga hari mulai 22-24 November 2017.

“Cuma tiga hari saja tidak lama kok. Larangan sementara itu karena mau ada penilaian Piala Adipura oleh tim dari pusat ke Kota Ngawi. Tentunya kami selaku petugas trantib mengharapkan kerjasamanya bagi rekan-rekan PKL untuk mendukung kegiatan ini,” jelas Arif Setiyono, Selasa (22/11).

Ia menegaskan, konsentrasi penertiban PKL diarahkan pada jalan utama di dalam kota seperti Jalan A.Yani, Jalan Teuku Umar, Jalan Hasanudin, Jalan Sultan Agung, Jalan PB Sudirman dan beberapa jalan lainya yang terindikasi bakal didatangi tim penilai Piala Adipura.

Untuk PKL kawasan alun-alun bebernya, meski tidak ada larangan berjualan terkait langsung penilaian Piala Adipura namun diminta untuk menjaga kebersihan dan ketertiban disekitar lapaknya. Jangan sampai seenaknya sendiri tanpa mengindahkan tata tertib yang ada.

“Kalau dikawasan alun-alun tidak. Tapi mereka harus menjaga kebersihan jangan sampai terkesan kumuh dan kotor. Sebab alun-alun ini kan salah satu titik destinasi wisata Ngawi kan,” bebernya.

Tambahnya, para PKL yang berada dikawasan larangan tersebut diharap tidak meninggalkan gerobak maupun barang dagangan serta perlengkapan lainya disekitar trotoar jalan. Jika himbauan ini tidak dihiraukan Satpol PP bakal menindak tegas.

Terkait Piala Adipura, seperti tahun 2016 lalu Kabupaten Ngawi hanya menyabet sertifikat Adipura dari pemerintah pusat. Dan itu terjadi selama dua tahun berturut-turut mulai tahun 2015. Seperti yang diberitakan di tahun lalu gagalnya piala bergengsi dibidang kebersihan tentunya tidak lepas dari buruknya pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berada di Desa Selopuro, Kecamatan Pitu.

Terpisah melalui via selular Bupati Ngawi Budi Sulistyono/Kanang menegaskan, Pemkab Ngawi harus segera keluar mencari terobosan dan berinovasi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah terkait pengelolaan sampah. Tandasnya, langkah itu tentunya dibarengi sistem pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan tidak hanya sebatas pada TPA di Desa Selopuro melainkan secara umum seperti dipasar.

Ujarnya lagi, dengan sertifikat Adipura setidaknya menjadi motivasi semua leanding sector untuk lebih berkreasi menuntaskan permasalahan sampah sampai pada titik ramah lingkungan. Sisi lain diakuinya, penilaian menuju Piala Adipura tahun ini memang super ketat secara nasional hanya diambil 32 kabupaten/kota. 

“Kami mengharapkan kerjasama semaua pihak dalam menyukseskan penialaian adipura ini agar kiranya dapat berjalan dengan lancar, para PKL dapat bersabar dan menanamkan warga untuk hidup sehat dengan membuang sampah pada tempatnya” tegasnya.(ARD)

Page 10 of 66