Sekitar Ngawi

Sekitar Ngawi (207)

Sunday, 11 November 2018 00:00

Tugu Kartoyono di Kecam Banyak Pihak

Written by

Ngawi-Setelah diperlihatkan kepada public, tugu kartonyono Ngawi menjadi sorotan berbagai pihak. Pengerjaan  Tugu Kartonyono versi baru yang digarap oleh PT. Asimuru Mitra Mulya dibawah leanding sektor Dinas Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Ngawi. Menuai banyak kecaman dari warga masyarakat kota orek-orek, mereka menanggapi dari nilai proyek yang dibilang terlalu besar hingga finishing cukup tidak memuaskan jauh dari angan-angan warga Ngawi.

Pernyataan ini seperti diungkapkan oleh pemerhati  Ngawi, Agus Fathoni yang akrab disapa Atong dari komunitas Langgar Sawo Ijo (LSI) Ngawi. Menurutnya pekerjaan tugu monumental yang tepat dijantung Kota Ngawi itu perlu di evaluasi. Selain menghabiskan anggaran Rp 3,1 miliar bersumber APBD Kabupaten Ngawi 2018 juga disorot tentang pekerjaan akhir yang terbilang ‘kasar’ sama sekali tidak memuaskan jauh dari bayangan kita.

 “ Bila penganggaran yang cukup besar untuk pengerjaan tugu,sekarang berdiri tegak cukup di sayangkan.  Terlebih lagi finishing yang tidak memuaskan mata,” jelas  Atong, Selasa, (06/11/2018).

Sementara menjawab  keluhan publik Teguh Suprayitna selaku PPK atas pembangunan Tugu Kartonyono dari DPUPR Ngawi langsung ambil suara. Menurutnya, meskipun pekerjaan tugu sudah rampung dan progresnya mencapai 100 persen namun secara administrasi belum diserahkan dari rekanan ke pemerintah daerah sehingga masih dalam kajian.

Pengerjaan proyek tugu monumental itu masih di evaluasi oleh tim PHO sebelum diserahkan. Jadi, apabila ditemukan sesuatu yang kurang pas terutama pada hasilnya maka pihak PT. Asimuru Mitra Mulya tetap bertanggungjawab untuk melakukan perbaikan sesuai yang tertera dalam detail engineering design (DED).

“ Saat ini masih dalam pengkajian pihak tim PHO. Apabia nanti ditemukan yang kurang sesuai dengan desain di DED nya itu jelas pihak kontraktor akan memperbaiki lagi sesuai dengan keinginan,” Jelas Teguh.

Masih menurut Teguh,  dengan alasan pembangunan Tugu Kartonyono memang ada dua item besar. Terkait pembangunan tugu itu sendiri secara teknis dan ditambah pengaturan landscape jalan, laveling jalan, pengunduran marka dan lampu merah. Disebutkan juga oleh Teguh, kalau Tugu Kartonyono tersebut sesuai DED nya berubah arah atau berputar 90 derajat setiap 3 jam sekali. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi penggunaan anggaran yang seharusnya dikeluarkan. 

Menyoal mengapa keberadaan Tugu Kartonyono tidak sesuai dengan desain prototipnya. Teguh membeberkan, kalau sesuai desain memang tinggi tugu berkisar 8 meter dengan lebar sekitar 13, 6 meter. Namun mengingat dari kondisi yang ada yakni posisi tugu berada di jalur nasional secara otomatis dikonsultasikan ke Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

Akhirnya hasil dari asistensi, tinggi tugu menjadi 6 meter dengan diameter bawah sekitar 8 meter. Dengan demikian, menyusul dari posisi titik tugu berada di jalur nasional mau tidak mau harus menyesuaikan dengan faktor kecepatan kendaraan. Dimana, dalam jalur nasional kecepatan rata-rata kendaraan memang 60 kilometer per jam kalau keberadaan Tugu Kartonyono tetap pada diameter awal akan mengganggu lalu-lintas. Perubahan dari pembangunan Tugu Kartonyono ini, tidak lepas dari pengawasan dan pengawalan dari berbagai pihak yang memiliki kebijakan hokum.  

“Kami tidak sendiri perencanaan pembangunan Tugu Kartonyono dari awal hingga akhir ini selalu kita konsultasikan ke tim TP4D (Tim Pengamanan dan Pengawalan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi. Tujuanya agar tidak terjadi penyimpangan dan memiliki kekuatan hukum,”  Tegas Teguh Suprayitna.(Ard)

Thursday, 01 November 2018 00:00

2 Hari Tidak Mengantor Ditemukan Membusuk di Dalam Rumah

Written by

 Ngawi-Tragis memang dengan apa yang dialami oleh Dwi Nur Hariadi 53th warga asal Desa Beran 1 gang Rajawali  ditemukan tewas membusuk. Kapolsek Ngawi Kota AKP Kristanto menerangkan, saat ditemukan kondisi jenazah sesosok pria yang berada di ruang tengah sudah membengkak dan membusuk.

 

Dari hasil pemeriksaan awal petugas memperkirakan meninggal karena sakit, pria tersebut sudah tewas  sejak dua hari yang lalu. Korban tercatat sebagai karyawan BPR Caruban Indah.

 

"Berdasarkan pengamatan kami, saat ditemukan kondisi mayat sudah membengkak dan busuk, diperkirakan sudah lebih dari dua hari," ujarnya saat ditemui bahana , Kamis (1/11/2018).

 

 

Sementara menurut saksi warga Sukarminto menjelaskan kecurigaan warga mendasar setiap kali melintas. Di depan rumah korban mencium bau busuk dan banyak lalat yang keluar masuk rumah korban. Karena di rasa ada sesuatu yang janggal sekira pukul 18. 00 wib, warga berusaha membuka rumah korban secara paksa dan dikejutkan menemukan korban meninggal dengan tubuh yang sudah membengkak. 

 

" korban dengan posisi terlentang dengan  kipas angin dan tv masih menyala" ungkap Sukarminto. 

 

 

Korban memakai kaos dan celana pendek pada jenazah korban, polisi juga tidak menemukan luka ataupun tanda bekas pukulan atau penganiayaan lainnya. Korban tinggal seorang diri karenakan istri bekerja sebagai TKW di hongkong. 

 

"Secara kasat mata tidak ada luka di pukul atau tanda penganiayaan lainnya," jelas Kapolsek Ngawi.

 

Hingga kini, pihak kepolisian pun masih menunggu hasil visum untuk mengetahui penyebab kematian pria tersebut.

 

"Penyebab kematian masih dalam penyelidikan, masih akan dilakukan visum untuk mengetahui penyebab kematian," ujarnya. (Ard)

Page 4 of 104