Sekitar Ngawi

Sekitar Ngawi (135)

Sunday, 04 March 2018 00:00

Diduga Terpeleset Nenek Paron Ngawi Terseret Arus

Written by

 NGAWI - Tragis dengan apa yang dialami oleh korban, sebut saja Sani seorang nenek 80 tahun warga Dusun Gnetong Kidul, RT 02/RW 03, Desa Gentong, Kecamatan Paron, Ngawi menjadi korban ganasnya arus sungai di wilayah Desa Soco, Kecamatan Jogorogo, Ngawi pada 14.30 pada Jum’at kemarin, (02/03). Menurut keterangan salah satu saksi, saat kejadian melihat baju maupun peralatan untuk mencari pasir milik korban berada dipinggiran sungai.

 

“Saya lihat ada baju dan peralatan itu saja apalagi kondisi sungan banjir mebuat curiga. Lantas saya informasikan kepada keluarganya dirumah sore itu juga dengan dibantu warga sekitarnya langsung mencari keberadaan korban dengan melakukan penyisiran disekitar sungai,” terang Suyanto salah satu saksi mata, Sabtu (03/03).

 

Atas kejadian tersebut aparat kepolisian dari Polsek Jogorogo bersama tim Sikatan Rescue langsung berusaha melakukan upaya pencarian terhadap korban. Proses pencarian akhirnya membawa hasil sekitar pukul 23.30 WIB pada Jum’at malam, (02/03), jasad korban ditemukan dialiran sungai masuk wilayah Desa Gentong atau berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian.

 

“Saat itu juga jenasah korban Mbah Sani itu langsung di evakuasi dari sungai. Hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda tanda kekerasan dan meninggalnya korban murni karena terseret arus sungai sewaktu banjir. Malam itu juga jenasahnya langsung kami serahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” pungkas Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono.

Pihaknya mengharapkan kepada warga Ngawi untuk lebih berhati-hati dan waspada terhadap aliran sungai yang saat sekarang mulai sering deras dengan cuaca musim penghujan saat sekarang. (ARD)

Ngawi – Tidak ingin kecolongan dengan kedatangan 2 suporter besar masuk Ngawi guna mengantisipasi kerusuhan yang dilakukan Bonek suporter militan Persebaya Surabaya membuat polisi harus berjaga full waktu terutama di daerah Ngawi yang merupakan wilayah perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Kabagops Polres Ngawi Kompol Wahono saat dihubungi wartawan via selular menyatakan, pengerahan ribuan suporter Bonek memang harus dikawal ketat untuk mengantisipasi kerusuhan.

“Pokoknya kami selaku polisi utamanya di Ngawi ini melayani saudara kita Bonek dengan baik. Jangan ada kerusuhan yang ditimbulkan oleh oknum Bonek maupun dari pihak luar yang tidak bertanggung jawab. Lihat sendiri bisa dikatakan tiga hari kami tidak tidur mengawal mereka menuju dan kepulanganya nanti dari Solo,” terang Kompol Wahono, Sabtu (03/02).

Disepanjang perlintasan Ngawi ujarnya, telah dipersiapkan 37 truk untuk mengangkut Bonek yang tercecer ditengah perjalanan. Mengingat masih banyaknya Bonek diluar koordinator menuju Stadion Manahan Solo untuk melihat tim kebanggaanya Persebaya Surabaya berlaga di Piala Presiden 2018.

“Alhamdulilah semua kendala dilapangan hingga sekarang ini terselesaikan dengan baik. Dari awal telah disiapkan puluhan truk dari jajaran Polsek untuk mereka. Dan terpantau tidak ada insiden apapun sampai saat ini semoga saja berlaku sampai proses kepulanganya nanti dari Solo,” tandasnya.

Imbuhnya, diprediksi ribuan Bonek yang terkoordinir akan pulang langsung dari Stadion Manahan usai Persebaya berlaga. Tetapi bagi Bonek yang tidak terkoordinir belum dipastikan jadwalnya balik lagi ke Surabaya. Meski demikian pihaknya mempersiapkan diri melakukan pengamanan dengan mengerahkan 400 personel kepolisian hingga Minggu besok, (04/02).

Seperti diberitakan sebelumnya, guna mencegah terjadinya persinggungan antara suporter Persebaya dan Arema dalam perjalanan menuju Stadion Manahan Solo, Kepolisian Daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur saling berkoordinasi untuk memisahkan jalur keberangkatan rombongan kedua suporter.

Untuk jalur Bonek menempuh jalur Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto-Madiun-Sragen-Solo. Sebaliknya Aremania melintasi jalur selatan yakni Malang-Ponorogo-Wonogiri-Sukoharjo-Solo. Pemisahan jalur untuk dua suporter yang selama ini dikenal sebagai musuh bebuyutan itu juga berlaku saat proses pemulangan mereka dari Solo ke Jawa Timur. Mereka sengaja kami atur keberangkatan dan kepulangan mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diiinginkan.(ARD)

Page 5 of 68