bahanafm

bahanafm

SURABAYA -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur menggelar deklarasi kampanye damai pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim 2018 di halaman Maspion Square, Jalan Frontage Ahmad Yani Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Ahad (18/2). Deklarasi ini dihadiri kedua pasangan calon yakni Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno

Deklarasi tersebut juga dihadiri ribuan para pendukung dari kedua pasangan calon. Dilengkapi berbagai atribut kanpanye, kedua kubu pendukung terus menyuarakan  dukungan. Dukungan tersebut ditunjukkan lewat nyanyian, tari-tarian dan lain sebagainya.

 

Ketua KPU Jatim Eko Sasmito menyatakan, deklarasi kampanye damai tersebut dimaksudkan agar gelaran Pilgub Jatim 2018 bisa berlangsung aman dan damai. "Deklarasi kampanye damai ini digelar dengan maksud agar proses Pilgub Jatim 2018 ini bisa berjalan aman, damai, tertib, dan bergembira," kata Eko dalam sambutannya.

Eko melanjutkan, deklarasi kempanye damai tersebut juga merupakan bentuk pernyataan perang terhadap semua kegiatan kampanye yang berbau SARA dan politik uang. Selain itu, deklarasi kampanye damai juga dimaksudkan untuk melawan ujaran kebencian dan memerangi berita-berita bohong.

 

"Deklarasi ini juga menekankan kita untuk memberantas semua kegiatan yang berbau SARA. Kita juga akan memberantas money politic, kita akan melawan ujaran kebencian, maupun berita hoax," ujar Eko

Eko melanjutkan, proses pergantian pemimpin merupakan suatu yang biasa dilaksanakan. Artinya, setiap lima tahun sekali, mau tidak mau, suka tidak suka, proses pergantian pasti dilaksanakan. Maka dari itu, sudah sewajarnya semua pihak bisa menerima, sehingga proses Pilgub Jatim 2018 bisa berjalan aman dan damai. (Sumber: Republika.co.id)

 

Thursday, 15 February 2018 00:00

Tahapan Pilkada Serentak 2018

Tahapan pilkada Serentak 2018.

12 Februari 2018 - Penetapan pasangan calon.
13 Februari 2018 - Pengumuman dan pengundian nomor urut pasangan calon 
 5 Februari-23 Juni - Kampanye

15 Februari-23 JuniDebat

Juni 2018
1. Kampanye melalui media masa, cetak, dan elektronik (10-23 Juni)
2. Masa tenang dan pembersihan alat peraga (24-26 Juni)
3. Pemungutan suara (27 Juni)
4. Rekapitulasi tingkat kecamatan (28 Juni-4 Juli)

Juli 2018
1. Rekapitulasi tingkat kabupaten/kota (4-6 Juli)
2. Rekapitulasi tingkat provinsi (7-9 Juli)

 

SURABAYA -- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur Eko Sasmito mengungkapkan batas maksimal dana kampanye pada kontestasi Pilgub Jatim 2018 sebesar Rp 494.146.064.100. Jumlah tersebut berdasarkan kesepakatan antara KPU Jatim, Bawaslu Jatim, serta tim kampanye dari kedua pasangan calon yang akan nerkontestasi.

 

 

"Itu sudah berdasarkan kesepakatan dan sudah ditandatangani oleh tim kampanyenya dari pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, dan tim kampanye Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak," kata Eko di Kantor KPU Jatim, Jalan Tenggilis Nomor 1, Surabaya, Senin (12/2)

Eko kemudian mengingatkan setiap pasangan calon untuk mematuhi kesepakatan soal batas maksimal dana kampanye tersebut. Artinya, setiap pasangan calon dalam kampanyenya tidak boleh menggunakan anggaran lebih besar dari batas yang sudah ditentukan.

 

 

Jika kesepakatan batas maksimal dana kampanye tersebut ternyata dilanggar, Eko mengingatkan akan ada sanksi yang diterima oleh si pelanggar. Sanksi tersebut bisa bermacam-macam, bahkan hingga pembatalan keikutsertaan pasangan calon dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018.

 

 

"Bagaimana kalau lebih dari itu? Ya enggak boleh. Sanksinya apa? Ya dicek nanti. Apakah itu legal apa tidak, perolehan duitnya dari mana, kalau perolehan duitnya tidak legal kan bisa kemudian sampai pembatalan," ujar Eko.

Eko juga memastikan, besaran batas maksimal dana kampanye yang ditetapkan sudah berdasarkan perhitungan yang matang. "Contohnya berapa kali pertemuan digelar, berapa audiens yang hadir itu sudah kita hitung semua," kata Eko.

 

 

Eko juga mengingatkan para tim kampanye kedua pasangan calon untuk segera menyerahkan rekening yang akan digunakan untuk menghimpun dana kampanye tersebut. Penyerahan rekening tersebut, Eko mengatakan, paling maksimal diserahkan pada 14 Februari 2018, atau satu hari sebelum masa kampanye. (sumber: Republika.co.id)

SURABAYA - KPU Jatim telah melakukan pengundian dan pengumuman nomor urut pasangan calon dalam pilgub Jatim 2018 di Hotel Mercure, Surabaya, Selasa (13/2/2018). Hasilnya, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto mendapat nomor urut 1. Sedangkan pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno mendapat nomor urut 2.

Proses pengundian nomor urut berlangsung ramai dan semarak. Pasalnya, kedua pasangan calon tersebut membawa massa pendukung ke lokasi pengundian. "Hasil pengundian nomor urut hari ini, pasangan Khofifah-Emil mendapat nomor urut 1, sedangkan pasangan Gus Ipul-Puti mendapat nomor urut 2," terang Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito, saat dikonfirmasi.

Setelah proses pengundian, sambung Eko, pihaknya akan menggelar deklarasi damai yang akan diikuti kedua pasangan calon di Taman Bungkul, Surabaya pada 18 Februari 2018. Diharapkan para pasangan calon mengikuti aturan main yang ada dalam berkampanye nanti.

"Masa kampanye sendiri akan dimulai pada 15 Februari hingga 23 Juni 2018. Disusul masa tenang selama tiga hari, dan pemungutan suara pada 27 Juni 2018," kata Eko.

 

Sementara itu, calon Gubernur Jatim, Khofifah menyampaikan terima kasih terhadap KPU Jatim atas seluruh proses yang baik selama ini. Angka 1 tersebut diharapkannya jadi sinyal atau pertanda kemenangannya di Pilgub Jatim kali ini.

"Ini nomor yang baik, satu berarti mempersatukan atau menyatukan seluruh entitas masyarakat Jawa Timur. Persatuan menjadi modal utama membangun Jawa Timur ke arah yang lebih berkeunggulan ," ungkap Khofifah.

Menurutnya, angka satu sangat mudah diingat oleh masyarakat. Selain itu, angka satu juga bermakna sesuatu yang baru, harapan baru, sekaligus menunjukkan suatu kualitas.

"Insya Allah, saya dan mas Emil akan membawa perubahan yang berkeunggulan bagi Jawa Timur di berbagai lini dan kehidupan masyarakat," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan calon Gubernur Jatim, Gus Ipul. Ia mengaku bersyukur atas penetapan dirinya sebagai calon Gubernur oleh KPU Jatim dan proses pengundian nomor urut yang berjalan lancar.

"Terbuka lebar jalan kami untuk membawa Jatim lebih makmur. Selama saya menjadi Wagub Jatim ada prestasi yang didapat perlu ditingkatkan dan ada PR yang harus dikerjakan secara bersama," ucap Gus Ipul.

Gus Ipul menambahkan, dirinya ingin menyelesaikan permasalahan yang masih ada dengan baik. Memasuki masa kampanye harus berpesta ide yang pada akhirnya menuai kemenangan.

"Kami akan melakukan kampanye sehat, menyenagkan dan menggembirakan, melahirkan kebaikan dan memperkokoh persatuan kita untuk Jatim makmur. Mohon doa restunya," tukasnya. (Sumber: Okezone.com)

Tuesday, 13 February 2018 00:00

Sejarah Hari Radio Sedunia!

Diawali oleh sebuah rekomendasi dari Dewan Eksekutif UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan & Kebudayaan PBB) kepada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Hari Radio Sedunia (World Radio Day) mulai ditelaah. Dari rekomendasi itu, banyak pihak mulai melihat betapa strategis/vital peranan dan fungsi radio di tengah khalayak. Ini penting, pasalnya walaupun UN Radio sudah terbentuk sejak 1946, namun belum ada satu hari pun diperingati sebagai Hari Radio Sedunia saat itu. Mengapa penting? 

Radio adalah media massa yang mampu menjangkau audiens terluas di dunia. Radio juga dikenal sebagai alat/instrumen komunikasi yang kuat/powerful dan medium yang berbiaya rendah. Radio secara spesifik cocok untuk menjangkau komunitas-komunitas yang berada di tempat terpencil atau audiens yang terus bergerak alias mobile, juga  orang-orang yang berkebutuhan khusus, seperti jauh dari akses literasi, disabled, perempuan, pemuda dan kaum miskin. Radio juga menawarkan diri sebagai ajang bertukar informasi/pengetahuan melalui diskusi ringan dan alat mengembangkan wawasan ataupun tingkat pendidikan seseorang. 

Secara khusus, radio memiliki peran yang spesifik dan strategis saat masa kedaruratan ataupun bencana terjadi di suatu tempat. Itu yang menjadi penekanan dalam peringatan World Radio Day 2016! 

Saat ini, layanan radio tengah memasuki masa konvergensi, masa radio wajib beradaptasi dengan perkembangan teknologi jaman. Sejumlah perkembangan teknologi yang kekinian tersebut antara lain teknologi pita lebar alias broadband, mobile gadget dan tablet.  Namun hingga kini, walaupun peran dan fungsi radio masih sedemikian vital, UNESCO masih menyayangkan tak sedikit orang (bahkan ditengarai milyaran orang di dunia ini) masih belum mendapatkan akses siaran radio.  

Kembali ke soal sejarah World Radio Day, usai direkomendasikan, sejumlah proses konsultasi yang luas pun digelontorkan mulai Juni 2011, difasilitasi oleh UNESCO. Proses konsultasi atas rekomendasi UNESCO itu diikuti oleh semua pemangku kepentingan radio, diantaranya asosiasi penyiaran, publik, negara/pemerintah, unsur swasta, komunitas, para penyiar internasional, agensi PBB, penyandang dana, Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM terkait,  akademisi, yayasan, agensi pembangunan bilateral, dan tentunya UNESCO Permanent Delegations and National Commissions.

Tanggal 13 Februari, tanggal terbentuknya UN Radio di tahun 1946, diusulkan menjadi tanggal peringatan World Radio Day pertama kali oleh Direktur Jendral UNESCO. Objektif dari peringatan Hari Radio Sedunia adalah meningkatkan kepedulian masyarakat dan media mengenai betapa pentingnya radio, untuk mendorong para pengambil keputusan untuk membangun dan menyediakan akses informasi melalui radio, dan sekaligus mengembangkan jejaring dan kerjasama internasional antar para praktisi penyiaran radio/broadcaster.

Pada akhirnya, proses konsultasi menghasilkan peringatan Hari Radio Sedunia melalui penggunaan secara masif media sosial, tema tahunan, website yang didedikasikan khusus untuk radio (http://www.worldradioday.org) yang salah satunya menampung partisipasi publik dunia melalui media daring, program-program radio spesial, pertukaran program radio, dan masih banyak event spesial lainnya. 

Di tanggal 14 Januari 2013, Sidang Umum PBB secara formal mendorong UNESCO memproklamasikan Hari Radio Sedunia. Saat itu pula ditetapkan, 13 Februari sebagai World Radio Day!

Monday, 11 December 2017 00:00

Gigitan Aedes Tahun Ini Tak Lagi Mengganas

 Ngawi -Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi selama tahun 2017 ini mengklaim angka penderita penyakit demam berdarah akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypty maupun Dengue Shock Sindrom (DHS) mengalami penurunan drastis dibanding tahun sebelumnya. Bahkan data yang berhasil dihimpun dari 24 puskesmas di wilayah Ngawi tidak ada laporan korban meninggal lantaran penyakit yang satu ini.

“Kalau menurut angkanya penyakit demam berdarah untuk tahun ini memang ada penurunan.Meski demikian kita tetap mewaspadai akan serangan penyakit tersebut,” terang Jaswadi Kasi P3M Dinkes Ngawi, Jum’at (08/12).

Ia pun membenarkan selama setahun ini tercatat ada sekitar 203 pasien demam berdarah akan tetapi untuk akhir tahun ini atau Desember belum ada laporan tentang penderita demam berdarah. Hanya saja wilayah terparah adanya epidermi demam berdarah berada di kawasan Kota Ngawi. Pasalnya, di Puskesmas Ngawi Kota tercatat ada 25 pasien demam berdarah yang menjalani rawat inap.

“Di Ngawi ini serangan demam berdarah paling parah terjadi dua tahun silam dan saat itu kita terapkan kejadian luar biasa (KLB-red) mengingat dari jumlahnya pasienya,” tuturnya.

Jelas Jaswadi, dikeluarkan status KLB pada 2015 tercatat ada 778 pasien demam beradarah dan 6 pasien diantaranya meninggal dunia. Dan setahun kemudian 2016 malah lebih parah dari datanya ada 782 pasien dan 10 orang diantaranya meninggal dunia. Meski demikian ulasnya, angka yang dikumpulkan oleh Dinkes Ngawi telah dikoordinasikan dengan tiga rumah sakit yang ada untuk mengantisipasi kasus demam berdarah yang tidak dilaporkan.

“ Selama warga Ngawi bisa menjaga kebersihan dan  bisa mencegah berkembangnya jentik nyamuk, penekanan penyakit yang pernah KLB ini bisa di cegah sedini mungkin “ tegasnya(ARD)

Ngawi- Apes memang nasib 2 warga satu ini, inginnya mendapatkan hasil melimpah dari hasil judi malah berurusan dengan petugas. Bisa jadi namanya pemilihan kepala desa (pilkades) dimana tempat sudah ditunggu-tunggu oleh para botoh alias penjudi yang ingin taruhan dengan nilai tertentu bahkan mencapai jutaan rupiah. Tetapi jika kurang waspada dan terkesan sembrono melakukan transaksi bisa berujung nasib apes.

Nasib apes seperti yang dialami PR (57) seorang perangkat desa atau pamong Desa Tulakan, Kecamatan Sine, Ngawi dan SG (40) warga Desa Sidomukti, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Keduanya ditangkap petugas dari Tim Resmob Polres Ngawi setelah diduga melakukan tindak perjudian atau botohan pada pilkades di Desa Wonosari, Kecamatan Sine, sekitar pukul 14.45 WIB, Minggu kemarin, (03/12).

“Mereka kita tangkap setelah diyakini melakukan perjudian di dekat pasar desa setempat (Desa Wonosari-red). Motifnya salah satu pelaku menjagokan calon kades dengan memberi potongan tertentu kepada lawan taruhanya,” terang KaPolres Ngawi AKPB Pranatal H, Senin (05/12).

Ulasnya, dari tangan kedua orang tersebut baik PR maupun SG berhasil diamankan sejumlah barang bukti diantaranya uang tunai Rp 1 juta dan dua handphone. Kedua botoh ini bakal dijerat dengan Pasal 303 ayat 1 ke 1e, 2e KUHP junto UURI Nomor 07 Tahun 1974 tentang penertiban perjudian. Sekarang ini kedua botoh yang bernasib apes tersebut langsung dilakukan penahanan di Mapolres Ngawi.

“ Tidak, tidak ada yang berstatus perangkat dalam kasus ini “ tegasnnya .(ARD)

Ngawi – Nahas nasib salah satu warga Geneng Ngawi ini bermaksud untuk membantu rekannya dari tenggelam malah menjadi korban ganasnya sungai. Sebut saja korban dengan identitas  Pristi Yudi Dwi Handoko pria berumur 21 tahun asal Desa Klitik, Kecamatan Geneng, Ngawi ditemukan tidak bernyawa di sungai Ketonggo masuk Dusun Munggur, Desa Tempuran, Kecamatan Paron. Peristiwa yang mengenaskan dialami korban tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB pada Minggu, (03/12).

Menurut keterangannya, sebelum kejadian korban bersama tiga rekanya yakni Niko, Alfian dan Mustofa hendak berburu biawak dengan menyeberangi sungai Ketonggo. Namun mendadak saat menyeberang sungai itu Alfian terlihat tenggelam kontan saja Handoko sapaan akrab dari korban berusaha melakukan pertolongan.

Sayangnya, ketika dilakukan proses penyelamatan justru antara korban dengan Alfian sama-sama tenggelam. Melihat ada yang tidak beres dengan keselamatan jiwa kedua rekanya membuat Niko yang sudah berada dipinggiran sungai langsung menceburkan diri. Tetapi yang berhasil ditarik tanganya oleh Niko hanya Alfian sedangkan Handoko tidak lekas nongol ke permukaan air sungai.

“Si korban ini pada awalnya menolong satu rekanya yang tenggelam tetapi kedunya malah masuk kedalam air. Kemudian satu rekanya atas nama Niko berusaha menolong kedua temanya akan tetapi yang bisa ditarik ke atas permukaan air sungai hanya Alfian sedangkan korban tidak berhasil ditarik,” jelas Kapolsek Paron AKP I Wayan Murtika, Minggu (03/12).

Hal ini semoga menjadi pelajaran berharga bagi orang tua untuk terus melakukan pengawasan dan perhatian kepada buah hati kita agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.(ARD)

Ngawi- Patut di acungi jempol untuk para panitia penyelenggara pemilihan kepala desa di kabupaten Ngawi di buktikan dapat menyelesaikan tahapannya hingga tuntas tanpa ada permasalahan. Pilkades serentak yang dilaksanakan di 13 desa dari 9 kecamatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur sukses digelar pada Minggu, (03/12). Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Ngawi selaku penanggungjawab kolektif meyakini pelaksanaan pilkades secara umum tidak menemui hambatan maupun kendala dilapangan.

Meski tata cara pelaksanaan pilkades pertama kalinya memakai sistim TPS mendasar Perda Nomor 01 Tahun 2015 namun masing-masing panitia di tingkat desa langsung beradaptasi dengan menerapkan sistim terbarukan secara baik. Kabul Tunggul Winarno Kepala DPMD Ngawi menuturkan, pihaknya mengapresiasi posistif terhadap panitia desa yang sukses melaksanakan pilkades.

“Semua panitia yang ada desa kami support terus untuk melaksanakan pilkades secara baik transparan dan sesuai aturannya. Dan terbukti tidak ada kendala yang cukup berati meski demikian ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terkait pilkades yang ada di Desa Baderan,” terang Kabul demikian sering disapa, Minggu (03/12).

Bebernya, jumlah keseluruhan proses pilkades serentak dari 13 desa terdapat 54 TPS dengan jumlah pemilih tetap (DPT) tercatat 46.248 orang. Kabul mengharapkan bagi desa yang melaksanakan pilkades segera mengajukan ke BPD agar calon kepala desa yang telah ditetapkan segera dilantik.

Berikut data pilkades serentak di Ngawi tahun 2017, untuk Desa/Kecamatan Gerih tercatat dalam DPT mencapai 10.774 orang dan hadir di TPS hanya 8.625 orang dan hasilnya dengan nomor urut 1 Agus Choiri mendapatkan 4.789 suara sedangkan nomor 2 Sholikin memperoleh 3.750 suara. Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin dengan DPT 4.368 jiwa hadir tercatat 3.566 orang dan 1. Munaji-1.151 suara, 2. Budiyono-290 suara, 3.  Suwarno-736 suara, 4. Pujianto-1.008 suara, 5. Danwit-337 suara.

Disusul Desa Sirigan, Kecamatan Paron dengan DPT 2.524 jiwa dan hadir mencapai 2.116 orang dan untuk 1. Suyanto-1.117 orang, 2. Markaban-975 suara. Desa Kebon, Kecamatan Paron tercatat dalam DPT 1.788 jiwa 1. Pan Gunadi-1.132 suara, 2. Slamet-119 suara, 3. Endah Sri Wulandari-272 suara. Sedangkan Desa Tambakromo, Kecamatan Padas dalam DPT 2.420 jiwa nomor urut 1. Tutik Purwati-1.200 suara, 2. Sungkono-950 suara.

Hal yang sama untuk Desa Banjaransari, Kecamatan Padas di DPT ada 2.317 jiwa untuk calon kepala desa 1. Puniyati-65 suara, Agus Widodo-1.932 suara. Desa Paras, Kecamatan Pangkur terdapat sesuai DPT 2.007 jiwa nomor urut 1. Siti Zhulaikan-876 suara, 2. Suyatno-881 suara. Tidak kalah ramainya bagi Desa Wonosari, Kecamatan Sine dengan DPT 1.669 jiwa nomor urut 1. Hartanto-762 suara, 2. Suyanto-636 suara.

Hal serupa untuk Desa Gendol, Kecamatan Sine ada DPT 1.142 jiwa nomor urut 1. Moch Syahid-680 suara, 2. Suyekti-87 suara. Terus berlanjut di Desa Campurasri, Kecamatan Karangjati dengan DPT 2.031 jiwa nomor 1. Darno-106 suara, 2. Sutrisno-1.515 suara. Desa Gempol, Kecamatan Karangjati dalam DPT tercatat 2.031 jiwa nomor 1. Susilo-1.515 suara, 2. Sriyatun-106 suara. Desa Simo, Kecamatan Kwadungan DPT 1.280 jiwa nomor 1. Sudarjo-1.047 suara, 2. Hartatik-33 suara dan terakhir untuk Desa/Kecamatan Kedunggalar DPT 8.040 jiwa nomor 1. Joko-5.238 suara, 2. Wendhy-253 suara. 

“ Setelah ini masih menjadi PR untuk segera di selesaikan adalah kasus Baderan dan pelantikan kepala desa yang sudah menjadi pemilihan rakyat masing-masing” tegasnya. (ARD)

Monday, 11 December 2017 00:00

Jelang Pilgub Gus Ipul Dekati Pemilih

 Ngawi- Genderang pesta demokrasi pemilihan kepala daerah dalam hal ini Gubernur sudah memasuki tahapannya. Intensitas politik jelang pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim 2018 mulai naik. Para kandidat pun mulai ambil start guna memantapkan langkah menuju kursi prestisius jabatan gubernur. Tidak ingin kecolongan seperti Syaifullah Yusuf/Gus Ipul tidak mau peta wilayah kekuatanya melemah dirinya mulai mendatangi sejumlah wilayah. Kali ini ia menyambangi kalangan kader partai bergambar banteng moncong putih di gedung DPC PDIP Ngawi, Minggu (03/12).

Dengan gaya blak-blakan dihadapan para wartawan Gus Ipul mengaku jika kedatanganya untuk melakukan konsolidasi bersama PDIP Ngawi guna menyusun langkah-langkah strategi pemenangan menuju Pilgub Jatim 2018. Mengingat Ngawi sebagai kantongnya PDIP di wilayah Mataraman atau Jatim barat.

“Jelasnya untuk melakukan konsolidasi pemenangan Pilgun Jatim nanti. Jadi semua hasil perencanaan yang telah dibahas tadi bisa ditindaklanjuti dilapangan,” terang Gus Ipul, Minggu (03/12).

Ia pun mengaku sangat percaya terhadap pola maupun konsep penggalangan massa yang dilakukan para kader PDIP selama ini. Alasan itu bukan tanpa sebab, pada dasarnya PDIP Ngawi sudah berpengalaman membangun kepercayaan politik di level bawah atau akar rumput yang dibuktikan pada pemilu legislative (Pileg) maupun pemilihan kepala daerah (Pilkada)

Disinggung strategi pemenangan wilayah Mataraman, orang nomor dua di Jatim sekarang ini lebih cenderung membangun komunikasi politik secara sinergi dan lebih intens antara kalangan nahdliyin dengan PDIP dalam satu keterpaduan agamis nasionalis. Dengan demikian akan saling menutup kelemahan pada semua lini.

Selain itu Gus Ipul mengaku adem-adem saja menyikapi barisan Muslimat yang notabene satu organisasi dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) jika Khofifah Indar Parawansa jadi macung merebutkan Jatim 1. Sebab di dalam NU sendiri sudah menjadi hal biasa apabila terjadi perbedaan politik maupun cara menyikapinya.

“Biasa saja dan adem-adem saja sebab di NU sudah biasa ada perbedaan itu. Justru kita melihat itu bukan kendala maupun hambatan jalan saja seperti biasanya,” urainya.

Hal senada diucapkan Ketua DPC PDIP Ngawi Dwi Rianto Jatmiko terkait kedatangan Gus Ipul memang erat kaitanya dengan rapat kerja internal PDIP untuk menyusun strategi pemenangan Pilgub Jatim 2018. Dalam kesempatan itu sekitar 600 kader dari jajaran pengurus PDIP Ngawi yang dilibatkan untuk lebih merapatkan barisan menuju tahun politik.

“Mulai sekarang ini sudah kita persiapkan bagaimana menyusun tentang strategi pemenangan demikian juga perangkat kerjanya. Maka dari itu kita menyusun schedulenya dan tahapan menuju proses pemenangan nanti seperti apa. Tentu semua itu menjadi tugas pokok dan wajib bagi kita untuk mengamankan perintah partai,” tegas Antok panggilan akrab Ketua DPC PDIP Ngawi.

Bicara target PDIP kata Antok adalah menang namun belum berani mematok berapa persentase perolehan suara yang dicapai. Karena sejauh ini belum bisa mengukur peta kekuatan lawan karena yang muncul ke permukaan baru pasangan Gus Ipul-Anas. Namun demikian apapun lawanya Antok mengaku optimis memperoleh suara mutlak untuk Gus Ipul-Anas dari wilayah Ngawi.

“ Dengan mengandalkan basis Merah untuk PDI P dan basis hijau untuk pendukung gus Ipul kami optimis Ngawi bakal mendapatkan suara yang signifikan” tegasnya. (ARD)

Page 3 of 18