bahanafm

bahanafm

Ngawi -Peristiwa pembacokan secara brutal yang dilakukan Muh Mudiono terhadap calon istrinya Neny Agustin hingga tewas membuat kesedihan mendalam bagi kedua orang tua pelaku. Saat dijumpai dikediamanya Dusun Pondok, RT 05/RW 02, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi pada Selasa kemarin sore sekitar pukul 16.30 WIB ada sederet cerita tentang Muh Mudiono putra bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Sukatmi (70) ibu pelaku menuturkan, pagi kemarin sebelum kejadian tidak ada gelagat apapun terhadap putranya Muh Mudino bakal melakukan aksi keji terhadap calon menantunya tersebut. Seperti biasa aktivitas putranya itu pun layaknya pemuda desa lainya tidak ada sikap atau perilaku yang mencolok. Usai sarapan pagi Muh Mudiono kata Suyatmi mempersiapkan berkas dan syarat pernikahanya untuk dikirim ke calon istrinya Neny di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo.

“Kados biasane enjing sakderenge kedadosan perkawis niku anak kulo sarapan terus ngumpulke surat-surat kangge nikah (Seperti biasanya pagi sebelum kejadian anak saya sarapan terus mengumpulkan surat untuk nikah-red),” terang Suyatmi.

Urainya, setelah semuanya dirasa komplit Muh Mudiono pamit mau pergi ke rumahnya Neny guna mengirim surat kelulusan yang telah jadi. Menyusul sehari sebelum kejadian terang Suyatmi, Muh Mudiono melengkapi diri persyaratan nikah salah satunya surat kesehatan maupun foto. Tanpa menaruh curiga selaku orang tua Suyatmi mengamini pernikahan Muh Mudiono yang hanya lulusan SD dengan gadis pujaanya Neny Agustin yang masih duduk dibangku kelas 2 sekolah setingkat MTs diwilayah Kecamatan Kedunggalar.

Namun bak disambar petir ketika mendapat informasi jika Muh Mudiono melakukan aksi pembacokan kepada calon istrinya demikian juga kepada calon ibu mertua, kakek Neny berikut tetangganya. Suyatmi dengan kalimat terbata-bata menuturkan, dirinya hanya bisa pasrah mendengar kalau anak kandungnya itu berbuat keji kepada calon istrinya dengan cara dibacok secara membabi buta menggunakan parang. Seketika itu kabar pembacokan langsung disampaikan ke suaminya Parno (62) yang tidak lain bapak angkat pelaku Muh Mudiono.

“Kulo langsung lemes mboten saged nopo-nopo bakdone mireng kabar ngoten niku (Saya langsung lemas tidak bisa berbuat apa-apa sesudah mendengar kabar seperti itu-red),” sambung Suyatmi.

Sambungnya hubungan antara Muh Mudiono dengan calon istrinya Neny Agustin sudah berlangsung sekitar 5 bulan. Pada awalnya selaku orang tua Suyatmi tidak begitu setuju terhadap rencana nikah anaknya dengan korban. Mengingat Neny masih duduk dibangku sekolah dan harus menyelesaikan sekolahnya dulu. Tetapi apa boleh buat, seringkali ketika Neny diajak pelaku kerumahnya selalu ditanya kenapa mau dengan Muh Mudiono. Jawaban korban Neny saat itu tuturnya, sudah mencintai Muh Mudiono dan siap untuk dinikah.

“Kulo nyuwun anak kulo enggal kepanggih kaliyan pak polisi punopo nyerahke awake mboten sah mlayu kersane perkarane niku enggal rampung (Saya minta anak saya secepatnya ketemu oleh pak polisi atau menyerahkan diri tidak usah melarikan diri supaya perkaranya cepat selesai-red),” jelasnya.

Pungkasnya, Muh Mudiono dimata keluarganya terbilang sebagai anak kreatif dan tekun bekerja mencari perekonomian terbukti selama tiga tahun terakhir sebagai pencari kroto. Selain itu selaku orang tua Suyatmi tidak tahu asal muasal senjata parang yang dipakai untuk membacok korban dan tiga orang lainya itu. Sebab, yang dia tahu ketika berangkat ke rumahnya Neny tidak membawa senjata tajam apapun.

Terpisah Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono menuturkan, hingga pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB Rabu, (27/09), keberadaan pelaku pembacokan Muh Mudiono belum tertangkap. Diprediksi pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe. Selain itu pihaknya bersama Satreskrim Polres Ngawi terus mendalami motif pelaku menghabisi korban berikut darimana mana asal senjata parang yang dipakai pelaku.

Hingga kini hari kedua pasca pembunuhan sadis yang dilakukan Muh Mudiono untuk melakukan perburuan terhadap pelaku Satreskrim Polres Ngawi menerjunkan dua anjing pelacak dari Unit Satwa K-9 Polda Jatim, Rabu (27/09).

“Untuk memaksimalkan perburuan terhadap pelaku (Muh Mudiono-red) hari ini kami menerjunkan anjing pelacak dari Polda Jatim. Lokasi penyisiran tetap pada area yang kami prediksi awal yakni di kawasan hutan Krandegan dan sekitarnya,” terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Meski demikian pencarian terhadap pelaku tetap melibatkan puluhan anggota Satreskrim Polres Ngawi di back up petugas Polsek Jogorogo, warga masyarakat Desa Dawung dan relawan dari RAPI. Dalam pantauan, sekitar pukul 12.30 WIB dua anjing pelacak langsung diterjunkan dengan konsentrasi perburuan dikawasan hutan Dares masuk Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren atau sekitar 10 kilometer dari lokasi kejadian. (ARD)

Ngawi- Dawung mencekam demikian pasca kejadian yang menimpa keluarga Neny Agustin (16) korban pembacokan yang dilakukan calon suaminya Muh Mudiono jenasah  tiba dirumah duka Dusun Kapungan, RT 01/RW 03, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi tepat pukul 21.00 WIB. Kedatangan jenasah putri bungsu dari pasangan Sujari – Sumiyati disambut tangisan histeris sanak familinya dan beberapa warga yang merasa terpukul atas kejadian yang menimpa.

Terlihat Sujari demikian juga Atin kakak kandung korban tangisnya langsung pecah ketika peti jenasah diturunkan dari mobil ambulan RSUD dr Soeroto Ngawi. Selang beberapa waktu demikian  usai di sholatkan jenasah Neny langsung dimakamkan di TPU di desa setempat.

 Neny menghembuskan nafas terakhirnya ketika di rawat di RS At Tin Ngawi setelah mendapatkan perawatan medis. Korban diketahui mengalami luka cukup parah akibat bacokan parang pelaku dibagian leher, kepala belakang dan jari tanganya putus. Setelah dinyatakan meninggal jenasah Neny langsung dikirim ke RSUD dr Soeroto Ngawi untuk dilakukan visum.

“Bekas luka yang terdapat di bagian tempurung alami pecah dan bagian belakang alami robek. Kuat dugaan pelaku menggunakan alat tajam yang diarahkan ke tubuh korban beberapa kali,” ungkap tim medis RSUD dr Soeroto Ngawi.

Kemudian hingga malam ini keberadaan Muh Mudiono pelaku pembacokan asal Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo terhadap empat orang hingga salah satu korbanya tewas keberadaanya masih diburu petugas kepolisian. Diperkirakan pelaku yang keseharianya sebagai pencari kroto ini masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe.

Untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut Satreskrim Polres Ngawi mengamankan satu orang berinisial PR warga Desa Macanan untuk dimintai keterangan. Menyusul sebelum kejadian pria ini mengantarkan pelaku ke rumah korban untuk mengantarkan surat lulusan sebagai salah satu syarat nikah antara pelaku dan korban. Hanya saja ketika sampai dirumah korban dan beristirahat beberapa saat PR disuruh pulang oleh pelaku.

“kami sudah mengamankan rekan pelaku yang saat ini masih kita mintai keterangan guna pengembangan penyidikan lebih lanjut,” terang Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono. (ARD)

Wednesday, 27 September 2017 00:00

Petugas Menyisir Hutan Jaring Pelaku

Ngawi-Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko tidak ingin buruannya lari jauh, langsung turun tangan memimpin olah TKP kejadian pembunuhan di Dusun Kapungan, RT 02/RW 03, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi. Namun hingga sejauh ini motif pembunuhan yang dilakukan pelaku Muh Mudiono (31) warga Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo terhadap Neny Agustin (16) belum diketahui secara jelas. Dari hasil olah TKP dan beberapa keterangan saksi mata perwira yang baru bertugas dua pekan di mapolres Ngawi memerintahkan kepada bawahannya untuk melakukan pengejaran. 

Dari lokasi kejadian terlihat petugas masih meminta keterangan dari beberapa orang saksi. Hanya saja secara detail peristiwa pembunuhan yang terjadi sekitar 10.00 WIB, Selasa (26/09) tersebut belum bisa dikonfirmasi baik kronologi maupun saat kejadian. Mengingat saat peristiwa terjadi kondisinya sepi warga sekitarnya melakukan aktifitas disawah.

“ Kejadian begitu cepat, kami para warga masih sibuk di sawah dan menghampiri asal suara minta tolong dari salah satu korban,” terang Sukardi tetangga korban.

Ungkapnya, sesaat setelah kejadian dirinya juga melihat kakek korban Pawiro Sikas (65) berada didepan rumah tidak jauh dari lokasi kejadian dengan kondisi berlumuran darah dibagian kepalanya. Sedangkan posisi ibu korban Sumiyati (45) maupun tetangga korban Samiyem sudah ditolong warga lainya.

Sementara itu kondisi bapak korban Sujari (55) terlihat shock dengan peristiwa tragis yang dialami keluarganya itu. Maklum ketika peristiwa terjadi Sujari tengah bekerja pada proyek irigasi di lokasi wisata Srambang masuk Desa Girimulyo,Kecamatan Jogorogo. Bahkan dikabarkan sebelumnya begitu mendapat kabar  anak bungsunya Neny Agustin meregang nyawa ditangan calon menantunya Muh Mudiono kondisi Sujari langsung pingsan.

Kemudian posisi Muh Mudiono terduga pelaku pembunuhan tersebut belum tertangkap oleh petugas. Hingga sore ini puluhan personel Polres Ngawi melakukan pengejaran terhadap pria yang berprofesi sebagai tukang kroto ini. Diduga pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe atau sekitar dua kilometer dari rumah korban. Dengan di bantu para sekitar warga petugas melakukan penyisiran menggunakan alat penerangan untuk menembus hutan berharap mendapatkan pelaku.(ARD)

Ngawi-Nekat memang dengan apa yang dilakukan oleh Mudiono alias Mahmudi (28) seorang tukang kroto asal Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi sekitar pukul 10.00 WIB pada Selasa, (26/09), nekat membacok dengan cara membabi buta terhadap empat warga Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi. Akibat kejadian ini satu orang tewas atas nama Neny Agustin (16) yang merupakan calon istri pelaku dengan luka bacok dileher dan jari tangannya putus.

Sedangkan tiga warga lainya yang mengalami luka-luka antara lain Sumiyati (45) ibu korban terkena sabetan parang mengenai pergelangan tangan, Pawiro Sikas (65) kakek korban mengalami luka dibagian pundaknya dan Samiyem (40) tetangga korban luka dibagian pergelangan tangan. Usai kejadian semua korban oleh warga setempat langsung dilarikan ke Puskesmas Jogorogo dan dirujuk lagi ke RS At Tin Ngawi.

Mengingat luka bacok cukup parah dibagian leher membuat Neny Agustin menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan perawatan medis beberapa menit  di RS At Tin Ngawi . Dari kronologinya mendasar keterangan warga, Mudiono mendadak mendatangi rumah korban dan mencari keberadaan Neny. Setelah ketemu tanpa diketahui penyebabnya secara jelas pelaku langsung membacok korban dengan parang beberapa kali.

“Ketika pelaku datang langsung marah-marah dan berusaha mencari calon istrinya itu. Setelah bertemu malah dia itu membacok dengan beringasnya terhadap korban. Melihat kejadian seperti itu ibu korban demikian juga kakeknya dan satu tetangga korban berusaha melerai namun malah terkena bacokan,” terang salah satu warga sekitar lokasi kejadian.

Setelah melakukan tindakan sadis pelaku langsung lari kearah hutan masuk wilayah Desa Krandegan, Kecamatan Ngrambe atau sekitar dua kilometer dari rumah korban. Untuk menangkap pelaku puluhan petugas Satreskrim Polres Ngawi demikian juga petugas Polsek Jogorogo langsung melakukan pengepungan lokasi persembunyian Mudiono tersebut. (ARD)

Ngawi-Berdasarkan hasil autopsi tim medis RSUD dr Soeroto dan Polres Ngawi berhasil memastikan penyebab meninggalnya Harjo Sumarto seorang kakek berumur 90 yang jasadnya ditemukan warga di Petak 32 RPH Bulaktimun masuk Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Ngawi murni akibat hilang ingatan dan bukan di karenakan sebab lain. Mendasar keterangan petugas tersebut, keluarga korban pun menerima sebagai musibah dan memakamkan di TPU desa setempat.

Data yang diperoleh dari Satreskrim Polres Ngawi jasad korban telah di autopsi di kamar mayat RSUD dr Soeroto Ngawi pada Minggu kemarin, (24/09), sekitar pukul 09.00 WIB. Hasil dari pemeriksaan medis terhadap jasad korban diketahui telah terjadi patah tulang iga dan patah tulang bagian tangan kanan yang diakibatkan tulang rapuh dan terbakar. Dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban baik akibat hantaman benda tumpul maupun tajam.

“Di tubuh korban tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan misalkan tanda-tanda kekerasan atau segala macam yang mengarah pada tindakan penganiayaan,” terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Jelas dia, hasil dari olah TKP mendasar keterangan beberapa orang saksi disebutkan terbakarnya jasad Harjo Sumarto diakibatkan lahan disekitar lokasi kejadian memang terbakar akibat kekeringan musim kemarau. Bahkan kejadian terbakarnya lahan berdasarkan keterangan dari petugas Perhutani setempat selama sebulan terakhir telah terjadi kebakaran dua kali.

“Selain itu kalau korban sebelum ditemukan meninggal kondisinya memang sudah pikun lantaran usianya. Dan korban sesuai keterangan dari anak kandungnya telah meninggalkan rumah sudah sebulan lebih dan menerima kejadian itu sebagai musibah,” pungkas AKP Maryoko.

Seperti diketahui sebelumnya, jasad Harjo Sumarto yang tercatat sebagai warga Dusun Grasak, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen ditemukan warga Desa Tambakboyo sekitar pukul 19.00 WIB di Petak 32 masuk RPH Bulaktimun. Saat ditemukan, kondisi jasad korban dalam keadaan membusuk dan terbakar hingga nyaris tidak dikenali lagi. Setelah menginformasikan kepada warga pada akhirnya ada yang merasa kehilangan dan berhasil mengungkap identitas korban.(ARD)

Monday, 25 September 2017 00:00

Tahun ini para pendekar tertib hukum

Ngawi-Sosialisasi dan pendekatan kepada para calon pendekar dari seni bela diri di kabupaten Ngawi membuahkan hasil. Terbukti Pihak aparat kepolisian yang sejak awal sudah memberikan warning bagi para pendekar silat dalam menggelar tradisi mereka di bulan Muharam/Syuro ini secara tertib berlalu-lintas ketika berangkat ataupun pulang dari padepokan mereka masing-masing. Kalau tidak, penegakan hukum tetap akan dilakukan di tempat oleh kepolisian terhadap para oknum pendekar silat yang terkesan bandel dengan melanggar tata tertib di jalan.

Seperti yang dilakukan Kasatlantas Polres Ngawi AKP Rukimin sejak awal sudah memperingatkan dengan keras akan melakukan penindakan jika terbukti ada pendekar silat melanggar aturan lalu-lintas di jalan raya. Disisi lain untuk warga atau pendekar silat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pihaknya mengapresiasi positif atas kepedulian terhadap ketertiban lalu-lintas baik keberangkatan maupun kepulanganya dari lokasi pengesahan. Para pendekar memakai atribut lengkap dalam mengendarai kendaran baik roda 2 dan roda 4. 

“Secara umum memasuki bulan Syuro yang identik dengan beberapa acara maupun kegiatan perguruan silat mereka cukup mematuhi semua aturan lalu-lintas. Seperti saudara kita dari PSHT selama ini mereka mentaati semua ketentuan berkendara meskipun ada satu dua yang melakukan pelanggaran dijalan,” terang Kasatlantas Polres Ngawi AKP Rukimin via selular, Senin (25/09).

Dia memberikan satu contoh selama prosesi pengesahan pendekar PSHT masing-masing ranting baik menuju maupun kepulanganya dari padepokan PSHT Cabang Ngawi Jalan Bernadib memasuki hari ketiga ini cukup kondusif serta aman. Hanya 10 persen saja yang melakukan pelanggaran tertib lalu-lintas seperti tidak dilengkapi surat kelengkapan berkendara maupun tanpa helm demikian juga knalpot brong.

“Dibanding tahun lalu untuk saat ini pelanggaran lalu-lintas yang dilakukan para pendekar silat bisa ditekan semaksimal mungkin. Terbukti hanya 10 persen saja yang melakukan pelanggaran tetapi apabila ditemukan lagi mereka melanggar ya tetap ditilang terutama tanpa dilengkapi helm maupun sengaja memasang knalpot diluar standar atau brong,” jelasnya. 

Tahun ini kami para petugas memberikan salam hormat kepada para pendekar yang telah menaati  peraturan lalu lintas hal ini terbukti mereka menghormati para pengguna jalan dan keselamatan diri sendiri. (ARD)

Monday, 25 September 2017 00:00

Mortir Gegerkan Warga Pitu

 Ngawi- Dua bom jenis mortir kaliber 81 milimeter yang ditemukan Mardi warga Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, Ngawi dipinggiran aliran Bengawan Solo langsung diserahkan ke TNI yakni Yon Armed 12 Angicipi Yudha Ngawi, Rabu (20/09). Dari pemeriksaan yang ada meski kondisi kedua mortir berkarat patut diduga masih aktif dan sangat membahayakan warga sehingga langsung diamankan pihak TNI.

Dua mortir itu ditemukan pada Kamis pekan lalu, (14/09), sekitar pukul 13.50 WIB saat dirinya mencari bambu di pinggiran Bengawan Solo tepatnya di Dusun Sepreh, Desa Selopuro. Ketika istirahat usai menebang bambu mendadak melihat ada dua batang besi berbentuk lonjong dan berkarat dibawah semak pohon bambu. Merasa penasaran lantas Mardi pun mengambilnya dan dibawa pulang ke rumah.

Setelah diyakini barang temuanya itu bom selang dua hari kemudian Mardi menyerahkan ke personel TNI. Sementara itu dari hasil pemeriksaan TNI menyebutkan jika dua mortir yang diserahkan Mardi merupakan bom peninggalan Belanda. Kemungkinan sebelum ditemukan oleh warga dua mortir tersebut hanyut terbawa arus banjir Bengawan Solo pada musim sebelumnya. 

“ Kami berharap kepada siapa saja khususnya warga Ngawi apabila menemukan alat senjata atau bahan senjata untuk segera melapor atau menyerahkan kepada pihak berwajib agar kiranya tidak menimbulkan bahaya dan kerugian” jelas Perwira TNI AD (ARD)

Wednesday, 20 September 2017 03:33

Gara-Gara Bakar Sampah RSUD Hampir Terbakar

Ngawi- Petang kemarin warga lingkungan  dr Soeroto Ngawi di buat geger  karena amukan si jago merah, akibatnya seisi rumah sakit kalang kabut mengantisipasi rambatan api. Kejadian yang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB pada Selasa, (19/09), tepatnya bangunan bagian belakang atau ruang instalasi diklat yang ditempati para dokter muda dan garasi mobil operasional. Dugaan sementara warga di belakang rumah sakit membakar sampah hingga merambat ke lokasi dekat rumah sakit yang berjarak hanya satu meter dengan bangunan. 

Api yang mulai merambatr cukup membuat petugas rumah sakit dibuat panik, beruntung dua unit kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) dari Pemkab Ngawi langsung tiba dilokasi kejadian. 

“Awalnya sulit di kendalikan karena banyak material kering di sekitar lokasi sepertihalnya tumpukan ban bekas sehingga menyulitkan proses pemadaman. Terpaksa didatangkan lagi satu unit kendaraan Damkar untuk menghalau kobaran api yang merembet kemana-mana tetapi kurang dari satu jam api berhasil dipadamkan,” terang Eko petugas Damkar.

Sementar,  Restu Widiyanto Wakil Direktur RSUD dr Soeroto Ngawi saat dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kejadian kebakaran rumpun bambu dibelakang rumah sakit sudah terjadi kedua kalinya. Untuk kali ini dia menduga sumber api berasal dari luar pagar rumah sakit. Dan diduga ada sampah yang terbakar dan percikan apinya merembet ke rumpun bambu yang kondisinya kering. Kami berterima kasih atas kesigapan petugas Damkar yang berhasil menghalau api hingga tidak mengakibatkan kerugian bagi pihak rumah sakit.

“Kejadian ini sudah kedua kalinya memang ini cukup besar di banding sebelumnya, kami berterima kasih kepada petugas Damkar karena kesigapannya dalam mengendalikan api,” Jelas wakil diriktur RSUD.(ARD)

Wednesday, 20 September 2017 03:02

Eka Tewaskan Penumpang Pariwisata

Ngawi-Raja jalanan demikian warga awam menyebut kendaraan bujur sangkar ini dalam mengusai jalur darat di wilayah Jawa Timur. Bagaimana tidak keahlian dan kenekatan para pengemudinya diakui warga mampu mengusai arus lalu lintas kendati jalur padat sekalipun. Kejadian kecelakaan di jalur tengkorak Ngawi semakin menambah catatan profesi pengemudi Bus ini dalam daftar hitam pihak satlantas polres Ngawi. Tabrakan maut antara Bus Eka kontra Bus Pariwisata Arjuna Samba terjadi di jalur rawan Ngawi-Solo tepatnya kilometer 31-32 masuk Desa Kedungmiri, Kecamatan Mantingan, Ngawi sekitar pukul 00.30 WIB Senin, (18/09). Akibat tabrakan ini seorang penumpang diinformasikan  dari Bus Pariwisata Arjuna Samba atas nama Tutik Pujiati (51) seorang PNS asal Desa/Kecamatan Lembeyan, Magetan tewas dilokasi kejadian dan satu penumpang lagi mengalami patah tulang tangan kiri setelah korban keluar dari bus akibat benturan keras antara kedua bus serta delapan penumpang lainya mengalami luka ringan.

Dari keterangan saksi kejadian menyebutkan, peristiwa tragis ini berawal Bus Eka nopol S 7360 US yang dikemudikan Sugeng (45) warga Desa Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Sragen melaju kencang dari arah Ngawi menuju Solo. Sedangkan dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan sedang Bus Pariwisata Arjuna Samba nopol B 7067 FGA yang dikemudikan Tri Susilo (46) warga Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Sesampai dilokasi kejadian dengan karakteristik jalan yang menikung Bus Eka menyalip kendaraan didepannya melebihi marka jalan akibatnya tabrakan dari arah depan dengan Bus Pariwisata Arjuna Samba tak dapat terelakkan. Dari kejadian ini Sugeng sopir Bus Eka sempat terjepit kabin bus namun berhasil diselamatkan petugas Satlantas Polres Ngawi yang datang dilokasi. Sedangkan penumpang yang tewas jenasahnya langsung di evakuasi ke RSUD dr Soeroto Ngawi dan penumpang yang mengalami luka-luka dilarikan ke Puskesmas Mantingan.

“Setelah mendapatkan laporan dari warga atas kejadian kecelakaan tersebut kami bersama petugas berusaha mengeluarkan sopir bus dari kabin kemudi karena terjepit, korban meninggal kami serahkan petugas medis RSUD dr SOertto sedangkan korban luka langsung di evakuasi ke puskesmas Mantingan, petugas lainnya melukukan pendataan dan keterangan warga atas kejadian tersebut,” terang Kasatlantas Polres Ngawi AKP Rukimin.

Ungkapnya, posisi penumpang yang tewas berada dikursi belakang sopir Bus Pariwisata. Karena kerasnya tabrakan membuat tubuh Tutik Pujiati terpental kedepan kabin dan jatuh tepat dibawah bus.  Mendasar dari keterangan saksi kejadian petugas pada akhirnya menetapkan SG (45) sopir Bus Eka asal Desa Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Sragen statusnya langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh Satlantas Polres Ngawi atas kasus tabrakan kontra Bus Pariwisata Arjuna Samba di Jalan Raya Ngawi-Solo kilometer 31-32 masuk Desa Kedungmiri, Kecamatan Mantingan, Ngawi  pada pukul 00.30 WIB pada Senin, (18/09). 

 “Kami sudah melakukan pemeriksaan dan penyidikan sopir telah mengakui kesalahanya dan meminta maaf kepada pihak keluarga korban. Dengan kasus ini dia selaku sopir akan mempertanggungjawabkan secara hukum,” jelas AKP Rukimin.(ARD)

 Ngawi- Kembali Satnarkoba Polres Ngawi menorehkan keberhasilan dalam mengungkap sindikat peredaran narkoba di wilayah hukumnya. Keberhasilan tersebut diungkapkan perwira  bersama sejumlah wartawan diketahui bahwa SW seorang ibu muda beranak satu sebagai terduga penyalahgunaan narkoba mempunyai cara unik untuk menyimpan barang haram tersebut. Untuk mengelabui petugas ia menyimpan sabu-sabu seberat 0,38 gram didalam pakaian dalam yang dipakai. Hal ini untuk mengelabui pemeriksaan petugas di saat pelaku berhadapan petugas lak—laki, namun hendak melepas pelaku petugas enggan hingga mendatangkan polwan untuk melakukan pemeriksaan.

“Penangkapan terhadap terduga pelaku ini mulanya atas kepemilikan ganja namun ketika diperiksa lagi oleh anggota kita dari personel Polwan ternyata ada sabu-sabu didalam pakaian dalam yang pelaku pakai  pakai,” terang Kasatnarkoba Polres Ngawi AKP Mukid, Senin (18/09).

Dia menjelaskan, SW yang tercatat sebagai warga Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Madiun berhasil disergap oleh petugas ketika hendak membeli peralatan hisap seperti pipet disalah satu minimarket di kawasan Desa Klitik, Kecamatan Geneng, Ngawi sekitar pukul 21.15 WIB pada Selasa kemarin, (12/09). Dari keteranganya, peralatan yang akan dibeli tersebut sesuai rencana akan dipakai untuk pesta sabu bersama rekan-rekanya disalah satu penginapan.

Selain sabu-sabu sambung Mukid, dari tangan SW berhasil diamankan dua paket daun ganja masing-masing seberat 3,48 gram dan 0,72 gram yang ditaruh di saku jaket warna biru merk brother boss. Dan barang-barang narkoba ditangan SW baik ganja maupun sabu-sabu didapat dari seseorang yang berada di luar daerah.

“Dari pengakuan SW ini ganja maupun sabu ia dapatkan dari seseorang luar daerah. Dan ia mengaku baru terlibat dalam penyalahgunaan narkoba sekitar tiga bulan lalu. Meski demikian yang bersangkutan ini tetap kami periksa secara intensif untuk mengungkap jaringan yang ada,” jelas AKP Mukid.

Untuk memberikan efek jera pungkasnya, SW dijerat dengan Pasal 111 ayat 1 dan atau Pasal 112 ayat 1 dan atau Pasal 131 UURI Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman penjara minimal 4 tahun.(ARD)

Page 7 of 16