bahanafm

bahanafm

Ngawi- keberhasilan pihak aparat kepolisian Satreskrim Polres Ngawi patut di acungi jempol, bagamana tidak kebolehan koordinasi dan pengembangan kasus, akhirnya berhasil menangkap NH (24) pria asal Dusun Wadangkerep, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Senin (02/10). Bukan karena asal tangkap oleh petugas karena Pria ini diduga yang sebagai pelaku pembacokan terhadap istrinya Lasmi (37) asal Dusun Sidomulyo, Desa Mendiro, Kecamatan Ngrambe, Ngawi pada 20 September 2017 lalu. “Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak keberhasilan penangkapan pelaku berinisial NH kemarin 29 September 2017 dirumahnya. Pelaku ini ditangkap setelah sempat kabur ke Ponorogo dan sekarang keberadaanya di sel Mapolres Ngawi,” jelas Kasubbag Humas Polres Ngawi AKP ES Martono, Kronoogis kejadian ini berawal penganiayaan yang dilakukan pelaku NH terhadap korban Lasmi terjadi pada Rabu, (20/09), sekira pukul 17.30 WIB. Saat itu terduga pelaku menyuruh adiknya Diki untuk memberi pakan kambing ternaknya. Setelah itu terjadi salah paham dengan adiknya berlanjut terjadinya penganiayaan menggunakan senjata tajam jenis golok ke Lasmi yang tidak lain istri pelaku. “Dari keterangan awal pelaku tidak terima dengan perkataan adiknya, istri korban berusah melerai. Ada salah paham dengan korban, pelaku ini memukul kepala korban dengan batu disusul pembacokan menggunakan golok mengenai pergelangan tangan kanan korban,” jelas AKP ES Martono. Terpisah, Wariyanti adik korban membenarkan adanya aksi penganiayaan yang dilakukan kakak iparnya yang menyebabkan Lasmi terluka. Saat di Tanya perihal penyebab adik korban tidak bisa menjelaskan dari aksi kekerasan yang menimpa Lasmi kakak kandungnya itu. “Usai kejadian kakak ipar saya ini menyerahkan Mbak Lasmi kepihak keluarga di Desa Mendiro sini yang katanya sudah tidak kuat lagi. Tetapi untuk penyebab penganiayaan itu saya sendiri tidak tahu pastinya,” pungkas Wariyanti. Pihak keluarga mengharapkan kepada petugas berwajib memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.(ARD)

Ngawi-Jelang Pesta Demokrasi yang dimulai tahun depan hal ini menjadi persiapan bagi panitia penyeleggara pemilu sepertihalnya Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Ngawi membenarkan sudah menggelar sosialisasi kepada partai politik peserta Pemilu 2019 di Aula Notosuman Jalan Raya Ngawi-Mantingan, Kamis kemarin, (28/09). Dalam sosialisasi tersebut disampaikan beberapa hal tentang tata cara pendaftaran dan verifikasi sebagai langkah penetapan partai politik peserta Pemilu 2019.

“Kegiatan sosialiasi itu kami laksanakan berdasarkan Peraturan KPU Nomor 07 Tahun 2017 tentang tahapan, program, dan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019. Parpol calon peserta Pemilu wajib melakukan pendaftaran dan verifikasi, 03-16 Oktober 2017,” kata Toni sapaan akrab Ketua KPUD Ngawi via selular, Sabtu (30/09).

Alasan menyelenggarakan sosialisasi karena sesuai acuan yang tertuang dalam PKPU Nomor 11 Tahun 2017 tentang pendaftaran, penelitian, administrasi, verifikasi faktual, dan penetapan calon peserta pemilu 2019 pasal 12. Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan data dari KPU pusat ada 73 Parpol calon peserta Pemilu 2019, sehingga mereka harus melakukan pendaftaran dan verifikasi jika mereka ingin bertarung di pesta demokrasi pada 2019.

Hanya saja hingga saat ini yang terdaftar di Kesbangpol Kabupaten Ngawi baru 15 partai terdiri 12 partai lama ditambah 3 partai baru yakni Partai Perindo, Partai Berkarya dan PSI. Sedangkan pada proses pendaftaran antara tanggal 03-16 Oktober 2017 pihak KPUD di daerah hanya menerima foto copy KTA dan KTP dengan jumlah masing-masing 1.000 lembar .

“Untuk partai baru memang kami lakukan verifikasi faktual dan untuk pelaksanaanya nanti sesuai jadwal dan tahapanya. Dimana akan dilaksanakan pada 15 Desember 2017 sampai 04 Januari 2018 setelah itu penyampaian hasil verifikasi faktual,” urainya.

Diakuinya, didalam pasal 173 ayat 1 Peraturan KPU Nomor 07 Tahun 2017 hingga sekarang masih berpolemik dan terjadi gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Menyusul pasal yang dimaksudkan itu dinilai masih diskriminatif antara partai lama dengan partai baru.

“ Kami mengharapkan kepada partai untuk segera melaksanakan pemenuhan persyaratannya agar bisa masuk sebagai partai yang memenuhi perundangan” tegasnnya (ARD)

Ngawi-Sudah tidak mendapatkan toleransi kembali bagi nekat melakukan peredaran pil siap beruurusan dengan petugas. Ketegasan ini di ungkapkan oleh Kasat Narkoba Polres Ngawi AKP Mukid. Hal ini mendasar peredaran pil koplo sekarang ini cukup marak disalahgunakan dan terindikasi melibatkan konsumen maupun pengedar kalangan remaja tidak terkecuali lagi di daerah kecil seperti Ngawi, Jawa Timur. Data yang diperoleh dari Satnarkoba Polres Ngawi dalam pekan terakhir September 2017 ini sukses menggulung tiga orang terduga pelaku penyalahgunaan pil koplo berbagai jenis.

Satu bukti yang membuat miris, dalam sehari saja pada Rabu kemarin, (27/09), pihak kepolisian berhasil mengamankan tiga orang masing-masing berinisial DP (25) warga Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, AS (23) dan RAS (17) keduanya tercatat sebagai warga Desa Hargosari, Kecamatan Sine.

Penangkapan para terduga pelaku penyalahgunaan pil koplo tersebut bermula dari DP yang ditangkap petugas sekitar pukul 18.30 WIB, Rabu (27/09), saat nongkrong didepan minimarket Jalan Raya Jogorogo-Ngrambe tepatnya masuk Desa/Kecamatan Jogorogo. Dari informasi DP inilah petugas berhasil menangkap lagi dua orang terduga pelaku lainya sekitar pukul 21.30 WIB baik AS maupun RAS di wilayah Desa Hargosari.

Dari tangan DP petugas berhasil mengamankan 16 pil koplo jenis Trihexyphenidil dan satu unit handphone. Sedangkan dari tangan AS ada 7 butir pil koplo jenis Trihexyphenidil dan dua unit handphone serta terakhir RAS berhasil disita 26 butir pil koplo jenis Trihexyphenidil plus 10 butir pil jenis Tramadol, satu unit handphone dan uang tunai Rp 90 ribu.

“Keberhasilan kami tidak lepas dari peran masyarakat Ngawi yang memberikan informasi kepada petugas, dan juga hasil kerjasama cyber net” ungkap AKP Mukid.

Ketiga orang ini dianggap melanggar dan tidak memiliki ijin edar sesuai terjemahan UURI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dimana setiap orang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi berupa obat atau pil koplo jenis Trihexyphenidil maupun Tramadol dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan kasiat dan kemanfaatan mutu.

“ Dari penangkapan tersangka ini kita akan terus mengembangkan kasus hingga lintas propinsi”  Tegasnnya.(ARD)

Tewasnya Neny Agustin gadis berumur 16 tahun asal Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi akibat tebasan parang Muh Mudiono pada Selasa lalu, (26/09), tidak sebatas membawa duka bagi keluarganya. Tetapi kabar tersebut membuat duka mendalam bagi teman korban semasa sekolah maupun teman bermain dilingkungan tempat tinggal korban.

Tina Mariyani siswi kelas 3 MTs Al Firdaus Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi yang merupakan teman sekelas korban ketika masih duduk dibangku kelas 2 mengaku kaget peristiwa yang dialami Neny. Padahal beberapa waktu sebelum kejadian korban sempat pamit kepada dirinya sebulan lagi mau nikah dengan Muh Mudiono.

“Pas ketemua dia (korban-red) sempat bilang katanya mau nikah bulan Sapar atau sebulan lagi (Oktober akhir-red). Dan saya disuruh kesana dan saya bilang insyaallah,” terang Tina Mariyani.

Menurut Tina yang rumahnya tidak begitu jauh dari korban menceritakan jika Neny Agustin memang sudah keluar dari MTs Al Firdaus sewaktu kelas 2 semester 2 akhir atau sekitar 5 bulan lalu. Seingat Tina keluarnya korban yang masih familinya ini tanpa sebab yang jelas, hanya saja sebelum Neny keluar sekolah sempat dibawa kabur pelaku (Muh Mudiono-red) selama dua hari dua malam.

Mungkin merasa malu dengan temanya membuat korban memutuskan keluar dari MTS Al Firdaus. Hanya saja saat itu korban sempat bilang kepada Tina mau pindah sekolah yakni ke SMP PGRI yang ada di Jogorogo. Sejalan dengan waktu kenyataanya korban berada dirumah terus tanpa melanjutkan sekolah lagi.

Untuk sikap Neny sendiri dihadapan teman-temanya ketika masih sekolah tambah Tina terbilang sebagai anak pendiam dan tertutup. Bahkan dalam pergaulanya justru dengan orang-orang atau temanya luar sekolah demikian juga setiap kali curhat. Sehingga secara persis seperti apa permasalahan yang dialami Neny pada masa itu hingga keluar sekolah, teman satu kelasnya pun tidak tahu pasti.

Meski demikian sambung Tina, dia cukup berduka atas kehilangan teman sekolah dan masa kecilnya itu. Sebab apapun alasanya, korban diberlakukan secara keji oleh pelaku hingga berujung maut. Dan Tina berharap pelaku harus diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya.

Terpisah, Jayin Kepala MTs Al Firdaus, Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar membenarkan jika Neny Agustin korban pembacokan hingga tewas dulunya tercatat sebagai siswi di sekolahnya. Hanya saja ketika sampai di bangku kelas 2 Neny pamit keluar sekolah tanpa alasan pasti. Demikian juga pihak orang tuanya sudah meminta ijin kepada sekolah kalau si Neny ingin keluar dengan alasan tidak mau melanjutkan sekolah lagi.

“Saat itu dia (Neny Agustin-red) berbicara tidak meneruskan sekolah, terus saya tanya lagi mau kemana jawabanya tidak tahu. Dan pihak orang tuanya juga sudah pamit kalau anaknya itu tidak mau sekolah lagi,” kata Jayin.

Keluarnya Neny tandas Jayin, bukan masalah biaya sebab korban semasa sekolah mendapatkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) sehingga gratis tanpa dipungut biaya apapun. Hanya diduga ada permasalahan di internal keluarganya namun demikian pihak sekolah juga tidak tahu.

Menurut Jayin, kepribadian Neny Agustin sewaktu duduk di sekolah  terbilang sebagai anak pendiam dan penurut serta taat semua aturan sekolah. Dengan kejadian yang dialami korban membuat pihak sekolah merasa kaget sebab selama di sekolah Neny terbilang sebagai anak yang rajin dan tertib masuk sekolah.

“Jadi pihak sekolah tidak ada kecurigaan seperti itu maupun peristiwa seperti itu. Justru yang menonjol dari korban dulunya itu dari ketertibanya dia paling awal ketika berangkat dan sampai sekolah. Dan selama disekolah tidak ada catatan jelek si korban ini meskipun secara prestasi biasa saja dan dia cukup punya sopan santun kepada guru-gurunya sehingga kaget banget dia menjadi korban pembacokan itu,” kupas Jayin.

Dengan keterangan dari teman maupun pihak sekolah semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus bisa disimpulkan ada beberapa hal. Pertama dari keterangan Tina Mariyani kalau korban sempat pamit mau nikah dengan pelaku, maka si korban ini sebelumnya sudah mengamini kalau mau dinikah oleh pelaku.

Padahal di satu sisi dari keterangan Muh Mudiono dia kalap lantaran cintanya tidak disetujui padahal semua administrasi pernikahan sudah dipersiapkan. Kalau demikian siapa yang tidak memberikan lampu hijau pernikahan antara pelaku dengan korban ataukah pelaku sendiri ada motif lain maupun salah paham dibalik aksi kejinya itu.

Dan kedua dari keterangan pihak sekolah yang menyebutkan semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus sebagai anak yang taat dan baik kepribadianya. Maka dari itu ada sederet pertanyaan, kenapa pelaku berbuat keji terhadap korban, apakah pelaku memang punya karakter yang beringas seperti itu.

Sementara dari pengakuan Sumiyem ibu korban kepada bahana menjelaskan pihaknya tidak menyangka bila calon menantunya berbuat senekat itu.(30/9) saat di temui di kediamannya ibu korban mengaku sudah menerima persyaratan yang di bawa pelaku sedikitpun dari neny dan Sumiyem melontarkan kata penolakan. Ibu korban menyempatkan menghaturkan makan siang dan menawarkan secangkir kopi tapi keduanya malah di sabet dengan parang. 

“ Saya sudah mempersilahkan masuk dengan baik-baik dan menawarkan makan serta secangkir kopi kebiasaan pelaku namun saat membalikkan badan usai dari dapur kedua korban di sabet dengan parang berkali-kali” ungkapnya 

Sementara Jumari ayah korban mengharap hukuman yang paling berat atas apa yang dilakukan muhdiono kepada keluarganya.

“ hukuman mati atau seumur hidup saya tidak terima dengan apa yang lakukan Muh” tegas Jumari.(ARD)

Thursday, 28 September 2017 00:00

Di Duga Kelaparan Pembunuh Neny Keluar Hutan

Ngawi-Muh Mudiono (31) pelaku pembacokan calon istrinya Neny Agustin (16) warga Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi hingga tewas pada Selasa lalu, (26/09), akhirnya tertangkap petugas kepolisian. Penangkapan terhadap pelaku yang tercatat sebagai warga Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo menyudahi perburuan selama dua hari yang dilakukan petugas kepolisian dari Polsek Jogorogo di back up Polres Ngawi bersama warga masyarakat Desa Dawung.

Dari keterangan yang ada Muh Mudiono ditangkap petugas Unit Reskrim Polsek Jogorogo bersama personel Satreskrim Polres Ngawi sekitar pukul 18.00 WIB, Rabu kemarin (27/09), dilokasi warung kopi masuk Dusun Gagar, Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo. Penangkapan terhadap pelaku tidak lepas dari peran Mujiyono seorang PNS Polsek Jogorogo.

Menurut keterangan Mujiyono sendiri asal Dusun Manyul, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo bermula ada pesan whatsapp masuk di handphonenya sekitar pukul 16.15 WIB. Saat itu dirinya sedang membantu pekerjaan pembangunan mushola dilingkungan rumahnya.

“Ketika saya bekerja di mushola tahu-tahu ada pesan whatsapp dari orang Dusun Sadaan, Desa Umbulrejo masih satu Kecamatan Jogorogo sana yang mengatakan melihat ada orang yang mencurigakan wajahnya mirip dengan pelaku jalan kaki kearah Dusun Manyul. Setelah itu langsung saya tindaklanjuti,” terang Mujiyono, Kamis (28/09).

Dengan kejadian itu Mujiyono yang mengetahui keberadaan pelaku sudah sampai di Dusun Gagar, Desa Ngrayudan. Lantas dia memutar otak dengan Suprapto untuk meringkus pelaku dengan berbagi tugas bersama adiknya itu. Tidak kalah akal Suprapto mencoba memancing Muh Mudiono masuk ke warung kopi.

“Saat itu kondisinya hujan ternyata adik saya Suprapto berhasil mengelabui pelaku untuk bisa masuk kedalam warung dan pelaku ini sempat minum es teh. Dihadapan Suprapto pelaku mengaku jujur kalau toh dirinya asal Dusun Pondok sebagai pelaku pembacokan,” urai Mujiyono.

Tandasnya, tanpa membuang waktu lagi langsung memberikan informasi ke Unit Reskrim Polsek Jogorogo. Selang beberapa menit kemudian dua personel kepolisian datang ke lokasi sasaran dan berhasil membekuk Muh Mudiono. Saat itu juga untuk menghindari amuk massa pelaku langsung dijemput oleh petugas Satreskrim Polres Ngawi.

Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiarja membenarkan penangkapan Muh Mudiono mendasar informasi dari warga dalam hal ini Mujiyono seorang PNS Polsek Jogorogo yang kemudian ditindaklanjuti proses penangkapan. Malam itu juga kata perwira menengah ini pelaku langsung digelandang ke Mapolres Ngawi guna diproses lebih lanjut. Tegas Kapolres hingga saat ini baru 1 senjata yang di temukan oleh petugas sementara pengakuan pelaku ada 2 senjata tajam clurit dan parang.(ARD)

Ngawi -Peristiwa pembacokan secara brutal yang dilakukan Muh Mudiono terhadap calon istrinya Neny Agustin hingga tewas membuat kesedihan mendalam bagi kedua orang tua pelaku. Saat dijumpai dikediamanya Dusun Pondok, RT 05/RW 02, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi pada Selasa kemarin sore sekitar pukul 16.30 WIB ada sederet cerita tentang Muh Mudiono putra bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Sukatmi (70) ibu pelaku menuturkan, pagi kemarin sebelum kejadian tidak ada gelagat apapun terhadap putranya Muh Mudino bakal melakukan aksi keji terhadap calon menantunya tersebut. Seperti biasa aktivitas putranya itu pun layaknya pemuda desa lainya tidak ada sikap atau perilaku yang mencolok. Usai sarapan pagi Muh Mudiono kata Suyatmi mempersiapkan berkas dan syarat pernikahanya untuk dikirim ke calon istrinya Neny di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo.

“Kados biasane enjing sakderenge kedadosan perkawis niku anak kulo sarapan terus ngumpulke surat-surat kangge nikah (Seperti biasanya pagi sebelum kejadian anak saya sarapan terus mengumpulkan surat untuk nikah-red),” terang Suyatmi.

Urainya, setelah semuanya dirasa komplit Muh Mudiono pamit mau pergi ke rumahnya Neny guna mengirim surat kelulusan yang telah jadi. Menyusul sehari sebelum kejadian terang Suyatmi, Muh Mudiono melengkapi diri persyaratan nikah salah satunya surat kesehatan maupun foto. Tanpa menaruh curiga selaku orang tua Suyatmi mengamini pernikahan Muh Mudiono yang hanya lulusan SD dengan gadis pujaanya Neny Agustin yang masih duduk dibangku kelas 2 sekolah setingkat MTs diwilayah Kecamatan Kedunggalar.

Namun bak disambar petir ketika mendapat informasi jika Muh Mudiono melakukan aksi pembacokan kepada calon istrinya demikian juga kepada calon ibu mertua, kakek Neny berikut tetangganya. Suyatmi dengan kalimat terbata-bata menuturkan, dirinya hanya bisa pasrah mendengar kalau anak kandungnya itu berbuat keji kepada calon istrinya dengan cara dibacok secara membabi buta menggunakan parang. Seketika itu kabar pembacokan langsung disampaikan ke suaminya Parno (62) yang tidak lain bapak angkat pelaku Muh Mudiono.

“Kulo langsung lemes mboten saged nopo-nopo bakdone mireng kabar ngoten niku (Saya langsung lemas tidak bisa berbuat apa-apa sesudah mendengar kabar seperti itu-red),” sambung Suyatmi.

Sambungnya hubungan antara Muh Mudiono dengan calon istrinya Neny Agustin sudah berlangsung sekitar 5 bulan. Pada awalnya selaku orang tua Suyatmi tidak begitu setuju terhadap rencana nikah anaknya dengan korban. Mengingat Neny masih duduk dibangku sekolah dan harus menyelesaikan sekolahnya dulu. Tetapi apa boleh buat, seringkali ketika Neny diajak pelaku kerumahnya selalu ditanya kenapa mau dengan Muh Mudiono. Jawaban korban Neny saat itu tuturnya, sudah mencintai Muh Mudiono dan siap untuk dinikah.

“Kulo nyuwun anak kulo enggal kepanggih kaliyan pak polisi punopo nyerahke awake mboten sah mlayu kersane perkarane niku enggal rampung (Saya minta anak saya secepatnya ketemu oleh pak polisi atau menyerahkan diri tidak usah melarikan diri supaya perkaranya cepat selesai-red),” jelasnya.

Pungkasnya, Muh Mudiono dimata keluarganya terbilang sebagai anak kreatif dan tekun bekerja mencari perekonomian terbukti selama tiga tahun terakhir sebagai pencari kroto. Selain itu selaku orang tua Suyatmi tidak tahu asal muasal senjata parang yang dipakai untuk membacok korban dan tiga orang lainya itu. Sebab, yang dia tahu ketika berangkat ke rumahnya Neny tidak membawa senjata tajam apapun.

Terpisah Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono menuturkan, hingga pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB Rabu, (27/09), keberadaan pelaku pembacokan Muh Mudiono belum tertangkap. Diprediksi pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe. Selain itu pihaknya bersama Satreskrim Polres Ngawi terus mendalami motif pelaku menghabisi korban berikut darimana mana asal senjata parang yang dipakai pelaku.

Hingga kini hari kedua pasca pembunuhan sadis yang dilakukan Muh Mudiono untuk melakukan perburuan terhadap pelaku Satreskrim Polres Ngawi menerjunkan dua anjing pelacak dari Unit Satwa K-9 Polda Jatim, Rabu (27/09).

“Untuk memaksimalkan perburuan terhadap pelaku (Muh Mudiono-red) hari ini kami menerjunkan anjing pelacak dari Polda Jatim. Lokasi penyisiran tetap pada area yang kami prediksi awal yakni di kawasan hutan Krandegan dan sekitarnya,” terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Meski demikian pencarian terhadap pelaku tetap melibatkan puluhan anggota Satreskrim Polres Ngawi di back up petugas Polsek Jogorogo, warga masyarakat Desa Dawung dan relawan dari RAPI. Dalam pantauan, sekitar pukul 12.30 WIB dua anjing pelacak langsung diterjunkan dengan konsentrasi perburuan dikawasan hutan Dares masuk Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren atau sekitar 10 kilometer dari lokasi kejadian. (ARD)

Ngawi- Dawung mencekam demikian pasca kejadian yang menimpa keluarga Neny Agustin (16) korban pembacokan yang dilakukan calon suaminya Muh Mudiono jenasah  tiba dirumah duka Dusun Kapungan, RT 01/RW 03, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi tepat pukul 21.00 WIB. Kedatangan jenasah putri bungsu dari pasangan Sujari – Sumiyati disambut tangisan histeris sanak familinya dan beberapa warga yang merasa terpukul atas kejadian yang menimpa.

Terlihat Sujari demikian juga Atin kakak kandung korban tangisnya langsung pecah ketika peti jenasah diturunkan dari mobil ambulan RSUD dr Soeroto Ngawi. Selang beberapa waktu demikian  usai di sholatkan jenasah Neny langsung dimakamkan di TPU di desa setempat.

 Neny menghembuskan nafas terakhirnya ketika di rawat di RS At Tin Ngawi setelah mendapatkan perawatan medis. Korban diketahui mengalami luka cukup parah akibat bacokan parang pelaku dibagian leher, kepala belakang dan jari tanganya putus. Setelah dinyatakan meninggal jenasah Neny langsung dikirim ke RSUD dr Soeroto Ngawi untuk dilakukan visum.

“Bekas luka yang terdapat di bagian tempurung alami pecah dan bagian belakang alami robek. Kuat dugaan pelaku menggunakan alat tajam yang diarahkan ke tubuh korban beberapa kali,” ungkap tim medis RSUD dr Soeroto Ngawi.

Kemudian hingga malam ini keberadaan Muh Mudiono pelaku pembacokan asal Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo terhadap empat orang hingga salah satu korbanya tewas keberadaanya masih diburu petugas kepolisian. Diperkirakan pelaku yang keseharianya sebagai pencari kroto ini masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe.

Untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut Satreskrim Polres Ngawi mengamankan satu orang berinisial PR warga Desa Macanan untuk dimintai keterangan. Menyusul sebelum kejadian pria ini mengantarkan pelaku ke rumah korban untuk mengantarkan surat lulusan sebagai salah satu syarat nikah antara pelaku dan korban. Hanya saja ketika sampai dirumah korban dan beristirahat beberapa saat PR disuruh pulang oleh pelaku.

“kami sudah mengamankan rekan pelaku yang saat ini masih kita mintai keterangan guna pengembangan penyidikan lebih lanjut,” terang Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono. (ARD)

Wednesday, 27 September 2017 00:00

Petugas Menyisir Hutan Jaring Pelaku

Ngawi-Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko tidak ingin buruannya lari jauh, langsung turun tangan memimpin olah TKP kejadian pembunuhan di Dusun Kapungan, RT 02/RW 03, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi. Namun hingga sejauh ini motif pembunuhan yang dilakukan pelaku Muh Mudiono (31) warga Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo terhadap Neny Agustin (16) belum diketahui secara jelas. Dari hasil olah TKP dan beberapa keterangan saksi mata perwira yang baru bertugas dua pekan di mapolres Ngawi memerintahkan kepada bawahannya untuk melakukan pengejaran. 

Dari lokasi kejadian terlihat petugas masih meminta keterangan dari beberapa orang saksi. Hanya saja secara detail peristiwa pembunuhan yang terjadi sekitar 10.00 WIB, Selasa (26/09) tersebut belum bisa dikonfirmasi baik kronologi maupun saat kejadian. Mengingat saat peristiwa terjadi kondisinya sepi warga sekitarnya melakukan aktifitas disawah.

“ Kejadian begitu cepat, kami para warga masih sibuk di sawah dan menghampiri asal suara minta tolong dari salah satu korban,” terang Sukardi tetangga korban.

Ungkapnya, sesaat setelah kejadian dirinya juga melihat kakek korban Pawiro Sikas (65) berada didepan rumah tidak jauh dari lokasi kejadian dengan kondisi berlumuran darah dibagian kepalanya. Sedangkan posisi ibu korban Sumiyati (45) maupun tetangga korban Samiyem sudah ditolong warga lainya.

Sementara itu kondisi bapak korban Sujari (55) terlihat shock dengan peristiwa tragis yang dialami keluarganya itu. Maklum ketika peristiwa terjadi Sujari tengah bekerja pada proyek irigasi di lokasi wisata Srambang masuk Desa Girimulyo,Kecamatan Jogorogo. Bahkan dikabarkan sebelumnya begitu mendapat kabar  anak bungsunya Neny Agustin meregang nyawa ditangan calon menantunya Muh Mudiono kondisi Sujari langsung pingsan.

Kemudian posisi Muh Mudiono terduga pelaku pembunuhan tersebut belum tertangkap oleh petugas. Hingga sore ini puluhan personel Polres Ngawi melakukan pengejaran terhadap pria yang berprofesi sebagai tukang kroto ini. Diduga pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe atau sekitar dua kilometer dari rumah korban. Dengan di bantu para sekitar warga petugas melakukan penyisiran menggunakan alat penerangan untuk menembus hutan berharap mendapatkan pelaku.(ARD)

Ngawi-Nekat memang dengan apa yang dilakukan oleh Mudiono alias Mahmudi (28) seorang tukang kroto asal Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi sekitar pukul 10.00 WIB pada Selasa, (26/09), nekat membacok dengan cara membabi buta terhadap empat warga Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi. Akibat kejadian ini satu orang tewas atas nama Neny Agustin (16) yang merupakan calon istri pelaku dengan luka bacok dileher dan jari tangannya putus.

Sedangkan tiga warga lainya yang mengalami luka-luka antara lain Sumiyati (45) ibu korban terkena sabetan parang mengenai pergelangan tangan, Pawiro Sikas (65) kakek korban mengalami luka dibagian pundaknya dan Samiyem (40) tetangga korban luka dibagian pergelangan tangan. Usai kejadian semua korban oleh warga setempat langsung dilarikan ke Puskesmas Jogorogo dan dirujuk lagi ke RS At Tin Ngawi.

Mengingat luka bacok cukup parah dibagian leher membuat Neny Agustin menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan perawatan medis beberapa menit  di RS At Tin Ngawi . Dari kronologinya mendasar keterangan warga, Mudiono mendadak mendatangi rumah korban dan mencari keberadaan Neny. Setelah ketemu tanpa diketahui penyebabnya secara jelas pelaku langsung membacok korban dengan parang beberapa kali.

“Ketika pelaku datang langsung marah-marah dan berusaha mencari calon istrinya itu. Setelah bertemu malah dia itu membacok dengan beringasnya terhadap korban. Melihat kejadian seperti itu ibu korban demikian juga kakeknya dan satu tetangga korban berusaha melerai namun malah terkena bacokan,” terang salah satu warga sekitar lokasi kejadian.

Setelah melakukan tindakan sadis pelaku langsung lari kearah hutan masuk wilayah Desa Krandegan, Kecamatan Ngrambe atau sekitar dua kilometer dari rumah korban. Untuk menangkap pelaku puluhan petugas Satreskrim Polres Ngawi demikian juga petugas Polsek Jogorogo langsung melakukan pengepungan lokasi persembunyian Mudiono tersebut. (ARD)

Ngawi-Berdasarkan hasil autopsi tim medis RSUD dr Soeroto dan Polres Ngawi berhasil memastikan penyebab meninggalnya Harjo Sumarto seorang kakek berumur 90 yang jasadnya ditemukan warga di Petak 32 RPH Bulaktimun masuk Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Ngawi murni akibat hilang ingatan dan bukan di karenakan sebab lain. Mendasar keterangan petugas tersebut, keluarga korban pun menerima sebagai musibah dan memakamkan di TPU desa setempat.

Data yang diperoleh dari Satreskrim Polres Ngawi jasad korban telah di autopsi di kamar mayat RSUD dr Soeroto Ngawi pada Minggu kemarin, (24/09), sekitar pukul 09.00 WIB. Hasil dari pemeriksaan medis terhadap jasad korban diketahui telah terjadi patah tulang iga dan patah tulang bagian tangan kanan yang diakibatkan tulang rapuh dan terbakar. Dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban baik akibat hantaman benda tumpul maupun tajam.

“Di tubuh korban tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan misalkan tanda-tanda kekerasan atau segala macam yang mengarah pada tindakan penganiayaan,” terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Jelas dia, hasil dari olah TKP mendasar keterangan beberapa orang saksi disebutkan terbakarnya jasad Harjo Sumarto diakibatkan lahan disekitar lokasi kejadian memang terbakar akibat kekeringan musim kemarau. Bahkan kejadian terbakarnya lahan berdasarkan keterangan dari petugas Perhutani setempat selama sebulan terakhir telah terjadi kebakaran dua kali.

“Selain itu kalau korban sebelum ditemukan meninggal kondisinya memang sudah pikun lantaran usianya. Dan korban sesuai keterangan dari anak kandungnya telah meninggalkan rumah sudah sebulan lebih dan menerima kejadian itu sebagai musibah,” pungkas AKP Maryoko.

Seperti diketahui sebelumnya, jasad Harjo Sumarto yang tercatat sebagai warga Dusun Grasak, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen ditemukan warga Desa Tambakboyo sekitar pukul 19.00 WIB di Petak 32 masuk RPH Bulaktimun. Saat ditemukan, kondisi jasad korban dalam keadaan membusuk dan terbakar hingga nyaris tidak dikenali lagi. Setelah menginformasikan kepada warga pada akhirnya ada yang merasa kehilangan dan berhasil mengungkap identitas korban.(ARD)

Page 9 of 18