bahanafm

bahanafm

Wednesday, 30 August 2017 23:28

Di Sumsel, Transmigran Asal Ngawi Tergusur

Ngawi-Cukup pelik atas apa yang dialami oleh puluhan transmigran asal Ngawi yang berada di Desa Sungai Naik, Kecamatan Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan (Sumsel). Bagaimana tidak menyedihkan selain nasib mereka belum menentu, masih di tambah lahan yang selama ini mereka garap bakal di gusur oleh perusahaan swasta . Lahan yang di terima oleh pemerintah daerah kepada para transmigran karena kesedianya menempati lahan kosong dan sebagai salah satu jaminan hidup.  Dengan setiap KK mendapatkan lahan untuk di kerjakan dan di manfaatkan sedemikian rupa untuk menyambung hidup di area transmigrasi. 

Mengalami  kerugian secara sepihak, melalui perwakilan transmigran masalah tersebut di keluhkan kepada anggota dewan perwakilan Kabupaten Ngawi. Dalam intinya tujuan mereka mengadu kepada para anggota DPRD Ngawi guna mendapatkan keadilan dan solusi atas apa yang mereka alami,(29/08). 

“Kami sudah lebih dari 5 tahun tinggal di daerah Musiwaras namun secara semena-mena mendapatkan perlakuan pihak swasta, dengan rasa hormat untuk kiranya para anggota legeslatif bisa memberikan solusi masalah kami di perantauan,” terang Lilik Prayitno salah seorang transmigran asal Ngawi.

Lanjut Lilik, pihaknya meminta pejabat didaerah asal untuk mengadvokasi transmigran agar mendapatkan nasib yang jelas. Mereka menuntut hak dan kewajiban yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) bernomor 475.1/14/404.012/2012 dan 180/12/Nakertrans/2012 silam. Sesuai pasal 7 PKS tersebut Pemkab Musirawas berkewajiban menyediakan lahan seluas 2 hektare. Tidak hanya DPRD Ngawi yang pihaknya berikan  masalah ini,  namun sudah melewati Bupati dan dinas yang memberangkatkan kami ke Sumsel. 

“Puluhan KK asal Ngawi di Sumsel mengharapkan uluran tangan untuk lepas dari masalah sengketa tersebut,” tambahnya.

Lilik menuturkan total ada 200 KK transmigran yang tinggal di wilayah tersebut. Dari ratusan KK itu, 11 diantaranya berasal dari Ngawi. Para transmigran yang mengadu nasib di Musirawas, Sumsel itu mencoba bertahan dari berkebun sawit dan karet. Sesuai perjanjian kerjasama yang ditanda tangani Pemkab Ngawi dan Musirawas lima tahun silam transmigran mendapatkan lahan seluas dua hektare. Penyerahan dilakukan oleh Pemkab Musirawas secara bertahap. Tahap pertama 0,25 hektare dan rumah tipe 36. Kedua LU 0,75 hektare, dan terakhir LU 1 hektare.

“Mengejutkan,  Jatah jaminan hidup (Jadup) kami berakhir tahun ini, tidak ada penghasilan yang didapat setelah penggusuran padahal baru  tahap 2 penyerahan lahan dari pemkab setempat,” jelasnya.

Menanggapi masalah pelik para transmigran Ketua Komisi II DPRD Ngawi Khoirul Anam Mukmin,  usai menerima keluhan dari para transmigran  dalam waktu dekat kita bakal melakukan koordinas dengan pejabat Ngawi mendasar karena pihaknya di komisi II bukan menjadi leading sector masalah ini pihaknya secara internal lembaga bakal menyerahkan kewenangannya kepada komisi III.

“Sebagai wakil rakyat kami menerima keluhan masyarakat terlebih lagi warga Ngawi, namun saat sekarang permasalahan tersebut di naungi oleh komisi III akan kami limpahkan secara internal guna di tindaklanjuti,” Jelas Anam demikian panggilan akrabnya. (ARD)

Ngawi-Musim kemarau yang cukup panjang saat sekarang, secara tidak langsung mempengaruhi iklim pertanian. Tidak sedikit para petani mengeluh akan kekurangan air sebagai salah satu media tanaman padi, akibatnya dampak terburuk  yang di rasakan petani adalah tingginya biaya produksi. Mendasar hal tersebut Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan pusat terdiri Aster Kasad Mayjen TNI Widakdo H.Sukoco dan Aslog Kapolri Irjen Pol Eko Hadi S. melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi gudang penggilingan beras di Jawa Timur. Sebagai salah satu daerah sampling di wilayah Ngawi, tim satgas menyasar di kabupaten orek-orek ini di bagian barat. 

Kegiatan sidak Tim Satgas Pusat ini di dampingi para  perwira diantaranya Komandan Kodim 0805/Ngawi Letkol M.Triyandono dan Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiarja langsung sasar ke UD.Brian Putra milik Yudianto di Dusun Durenan, Desa/Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, sekitar pukul 09.00 WIB, Selasa (29/08). Dalam sidak tersebut selain melakukan pengecekan langsung ke lokasi juga sedikit mengecek kwalitas beras di kabupaten  Ngawi baik dari harga sampai kesulitan para petani. 

“Kedatangan kami ingin mengetahui secara langsung kondisi pertanian di Jawa Timur, seperti di ketahui Jawa merupakan lumbung padi nasional sehingga pihaknya mengecek kwalitas dan juga stabilitas harga,”   jelas Aster Kasad Mayjen TNI Widakdo H.Sukoco, Selasa (29/08).

Sebelum meninggalkan Kabupaten Ngawi, usai Satgas Pangan Pusat tidak  menemukan penyelewengan dan juga masalah yang dapat menghambat kegiatan ketahanan pangan yang ada di wilayah Ngawi khususnya dan umumnya Jatim. 

“ Kami ingin usai sidak ini tidak ada masalah yang berarti, pertanian dapat di tingkatkan berdasarkan mutu dan kwalitas padi dengan menjaga harga tanpa harus melebihi harga yang telah ditetapkan pemerintah.”  Tambahnya. 

Sementara secara terpisah pemilik UD.Brian Putra dimana yang menjadi sample sidak mengakui produksi beras yang belum di salurkan ke konsumen baru di tingkat agen maupun  pengecer. Gudang dengan kapasitas 32 ton di bandroll  untuk  harga beli gabah Rp 5.100/kilogram, selanjutnya usai menjadi beras setengah jadi di bandroll Rp 7.900/kilogram. 

Untuk sasaran pemasaran  di wilayah Jawa Timur Ngawi Magetan dan Karangayar , sementara untuk wilayah Jawa Tengah dari Sragen hingga perbatasan Solo. (ARD)

Tuesday, 29 August 2017 05:13

Bermain Di sungai Pelajar MTsn Tenggelam

Ngawi-Kurang pengawasan dan mungkin kelalaian dari para orang tua, peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran tentang pentingnya larangan kepada buah hati bermain di sungai tanpa mendapatkan pengawasan orang tua. Sepertihalnya apa yang dialami Rian Eka Prasetya pelajar kelas VII MTsn 1 Paron ditemukan meninggal setelah tenggelam di Bengawan Solo sekitar pukul 15.30 WIB pada Minggu, (27/08). Seperti diketahui korban yang tercatat sebagai warga Dusun Pramesan, Desa Ngale, Kecamatan Paron, Ngawi sebelum kejadian berangkat dari rumahnya sekitar pukul 15.00 WIB untuk mandi di Bengawan Solo bersama beberapa orang temannya. Diduga karena asiknya bermain hingga tanpa menyadari bahaya yang menghampiri korban. 

Dari pengakuan saksi teman korban,sesampai di pinggir sungai korban tanpa melepaskan baju langsung menjeburkan diri ditengah derasnya arus. Selang beberapa menit kemudian terdengar korban teriak minta tolong kontan saja Mohammad Rizal Bintang temanya berusaha memberikan pertolongan dengan berusaha menarik tangan korban. Karena terlalu deras air Bengawan Solo saat itu membuat pertolongan salah satu saksi mata ini pun sia-sia. Korban terseret arus sungai dan tidak muncul kembali di permukaan. 

“Diduga korban tidak pandai berenang disaat terpeleset di dalam air korban panic dan terseret arus sungai yang cukup deras,” terang Kapolsek Paron AKP I Wayan Murtika, Minggu (27/08).

Keberhasilan warga dan petugas melakukan penyisiran sungai dari lokasi kejadian mendapatkan hasil, tidak memakan waktu lama jenasah korban berhasil ditemukan warga sekitar. Kemudian korban yang sudah meninggal ini langsung dibawa kerumah duka yang tidak begitu jauh dari lokasi kejadian. Kematian korban murni karena tenggelam di buktikan dari pemeriksaan medis dan tidak di temukan tanda kekerasan.(ARD)

Ngawi- Tidak ingin di nilai melempem, petugas polres Ngawi berhasil menangkap tangan pelaku pencuri, sempat terjadi aksi kejar-kejaran yang di menangkan oleh buser polsek Paron. Nekat memang dengan apa yang dilakukan oleh salah satu warga Kabupaten Ponorogo, siang hari ngembat motor sial yang didapatnya. Sebut saja pelaku dengan inisial SH (25) pria asal Kelurahan Lengkong, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, terpaksa harus berurusan dengan petugas Polsek Paron dampak kenekatannya.

Peristiwa yang terjadi pukul 10.00 WIB pada Senin, (28/08), bermula saat korban Mukhlis (28) sebagai sales obat-obatan asal Dusun Kedungprawan, Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Ngawi tengah bekerja sebagai sales. Dengan mengendarai sepeda motor jenis Honda Supra Fit nopol AE 6276 NC tengah berhenti disalah satu toko dekat minimarket di Dusun Sidorejo, Desa Gentong, Kecamatan Paron untuk menawarkan dagangannya.

Diduga korban lupa, tidak mencabut kunci kontak yang masih menempel disepeda motornya itu dan bergegas ke toko untuk melakukan transaksi. Nahas selang beberapa menit kemudian sepeda motornya tersebut dibawa kabur seseorang pria dengan ciri-ciri tubuh bongsor kearah Ngawi atau utara. Untung saja tidak hanya korban yang mengetahui kejadian tersebut para wargapun berusaha meneriaki maling, kontans saja melakukan pengejaran di bantu petugas. 

 Mengetahui Korban mengalami pencurian langsung menghubungi petugas Polsek Paron. Tidak berhenti begitu saja pihak polsek Paron langsung koordinasi lintas dengan memblokir jalan kearah Ngawi Kota dengan melibatkan petugas Satlantas Polres Ngawi. Penyanggongan petugas berbuah hasil, pelaku melintas di Jalan Siliwangi sebelum masuk Jalan Ring Road Soekarno Hatta dan berhasil dibekuk. Cukup mengejutkan pelaku nampaknya tidak bisa di kenakan pidana pejara atas tindakannya.

“Pelaku memang tidak melakukan perlawanan dari Polsek Paron setelah diinterogasi dan mengejutkan ternyata pelaku ini pasienya Ponpes Condromowo Jogorogo. Setelah berkoordinasi dengan pihak ponpes memang dibenarkan kalau SH ini tengah menjalani perawatan jiwa, usai identifikasi pelaku kami serahkan ke pihak keluarganya dan sepeda motor yang dibawa kabur kami serahkan ke korban lagi dan kasus ini kami anggap selesai,” jelas Kapolsek Paron AKP I Wayan Murtika. 

Karena selesai secara kekeluargaan kasus pencurian sepeda motor ini kami anggap selesai tidak di perpanjang. (ARD)

Ngawi- Stadion Ketonggo menjadi saksi panasnya pertandingan  akhir musim laga Grup 5 Liga 2 PT LIB 2017 antara tuan rumah Persinga Ngawi kontra Madiun Putra FC (MPFC), Minggu (27/08), diwarnai insiden kekisruhan kedua tim ditengah lapangan setelah babak kedua berakhir. Dimana seperti yang terlihat beberapa pemain terlibat adu gontok meski tuan rumah Persinga Ngawi memetik kemenangan telak 2-0 atas MPFC.

Tidak sebatas itu saja, ditengah laga babak kedua pertandingan sempat dihentikan oleh wasit Totok Fitrianto asal Manado setelah dipicu lemparan batu masuk ketengah lapangan dari arah tribun selatan. Kabagops Polres Ngawi Kompol Wahono menyebut suporter MPFC yakni kubu The Mad Mania dan Great Bull Boys (GBB) diwarnai aksi saling lempar batu. Kondisi itu terjadi diduga karena dua kelompok suporter itu saling ejek dan salah paham.

“Ada insiden kecil lempar batu akibat kesalahpahaman antara GBB dengan The Mad Mania yang keduanya sama-sama suporter asal Madiun. Memang kedua suporter ini tidak mau digabung dalam satu tribun yang satunya ada di sisi selatan dan satunya lagi ada disisi barat bagian selatan. Tetapi secara umum kondisi keamanan terpantau semuanya dan kondusif,” terang Kompol Wahono.

Pengamanan sendiri tandasnya, juga diberlakukan secara ketat kepada tim MPFC baik kedatanganya maupun kepulanganya ke Madiun dengan mengerahkan puluhan petugas dari satuan Dalmas Polres Ngawi. Kompol Wahono memprediksi total suporter MPFC yang masuk ke Stadion Ketonggo hanya berkisar antara 500-600 orang.

Sementara dalam laju pertandingan itu sendiri, dibabak pertama Persinga Ngawi berhasil menjebol gawang tim tamu yang dijaga ketat penjaga gawang Ricky Fajar. Gol terjadi pada menit ke-21 lewat sentuhan kaki Harris Yudha disusul menit ke-34 melalui striker Persinga Ngawi Slamet Larso. Hingga babak pertama berakhir MPFC tidak mampu berbuat banyak dan tertinggal 2-0 dan itupun berlangsung sampai akhir laga babak kedua.

“Babak pertama maupun babak kedua permainan berlangsung bagus hanya saja sempat diwarnai insiden baik dari suporter maupun pemain. Hal ini dipicu oleh keputusan wasit tentunya kami mohon maaf,” asisten pelatih MPFC Catur Riyanto.

Dengan kemenangan telak Fachrudin coach Persinga Ngawi menandaskan, tercipta atas kerjasama disemua lini dengan kepercayaan penuh masing-masing pemain yang diturunkan. Secara laju pertandingan ia akui kedua tim memainkan teknik bagus hanya saja bagian tuan rumah dengan hasil 3 poin sebagai modal laga tandang berikutnya sekaligus yang terakhir kali kontra Persebaya Surabaya. 

Setelah pertandingan kesebelasan Persinga dan Madiun Putra kembali terjadi insiden buruk yakni antar pendukung Persinga yang tidak di sangka oleh para petugas yang berkonsentrasi mengawal kepulangan supoter Madiun. Insiden aksi lempar dan intimidasi  sesama pendukung kesebelasan Persinga ini di picu dari oknum salah satu pendukung Persinga. Seperti di ketahui bahwa selama ini Persinga mempunyai dua kubu pendukung yang tak dapat di satukan, berawal dari saling ejek terjadi aksi tawuran dan lempar batu sesama pendukung. Untung saja kejadian ini di ketahui oleh pihak petugas dan melerai kedua belah pihak, hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (ARD

Monday, 28 August 2017 22:05

Selondo Punya Gawe Raih Rekor MURI

Ngawi- Kembali di gelar untuk kedua kalinya Festival Gravitasi Bumi (FGB) Selondo  yang oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di bumi perkemahan Selondo masuk Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, selama dua hari mulai kemarin 26-27 Agustus 2017. Kegiatan yang di kemas secara apik nan original ini  memberikan kesan tersendiri terhadap dunia pariwisata  dan para pengunjung daerah setempat. Bagaimana tidak kegiatan bersih desa mendapat apreasisasi nan cantik dari parwita seniman tidak hanya local Ngawi saja, namun hingga keluar daerah. Terlebih lagi puncak kegiatan yang dilaksanakan, Minggu (27/08), yakni pawai mengarak 200 tumpeng dan panggang ayam start dari kantor desa setempat ke Selondo berjarak sekitar 1 kilometer mendapat apresiasi dari rekor MURI.

Sedikitnya ratusan tumpeng dan panggang ayam di bawa oleh para warga Jogorog, dikawal oleh para seniman dari Sekar Pangawikan Yogyakarta, pasukan Sendiko Dawoh dari Kraton Solo, Pentul Melikan dipimpin langsung Kepala Desa (Kades) Ngrayudan Suwarno. Setelah di arak kemudian diserahkan ke Wakil Bupati (Wabup) Ngawi Ony Anwar yang sudah berada dilokasi terlebih dahulu.

“Awalnya kita menggelar festival gravitasi kemudian bekerja sama  dengan pokdarwis, Festival gravitasi yang kedua ini di kemas sedemikian apik yang pertama menunjukkan wisata Ngawi, kedua bahwa kita mampu menunjukkan ke luar Ngawi bahkan ke manca bahwa kita punya tradisi bersih desa yang cukup sacral. Pihaknya berharap kegiatan yang berlangsung  secara continue  yang  mempunyai pesan terhadap lingkungan  nantinya bisa dijadikan agenda  setiap tahunnya,” terang Suwarno Kades Ngrayudan, Minggu (27/08).

Ony Anwar Wabup Ngawi pihaknya mengapresiasi langkah konstruktif terhadap kepedulian lingkungan dari Pokdarwis Desa Ngrayudan yang dibalut maupun dikemas melalui seni FGB yang kedua. Selain menjadi kegiatan etnik budaya lokal dengan adanya FGB tersebut bisa memberikan dampak positif bagi dunia pariwisata demikian juga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekitar lokasi kegiatan. Bahkan yang cukup membanggakan kegaiatan Selondo ini mendapatkan penghargaan dari MURI dengan kategori original culture yang mendatangkan tumpeng mencapai ratusan dan di hadiri oleh banyak massa. 

“Kegiatan FGB menjadikan motivasi kita bersama bagi pokdarwis yang ada wisata local di Ngawi untuk dijadikan percontohan agar kiranya melestarikan budaya,wisata dan lingkungan. Pengemasan secara seni di selondo ini menjadi cirri khas tersendiri sehingga mendapatkan penghargaan dari MURI seiring dengan Ngawi Visit Years 2017 yang kita gadangkan selama ini,” jelas Ony Anwar.

Seperti diketahui langsung dari Selondo, ajang FGB 2017 melibatkan ratusan seniman penumpuk batu dari seluruh Indonesia, secara khusus mengundang tampil para seniman seperti Bahana Etnika, Doni Suwung, Sri Krishna, Rindu Dendam, Petrus Niko, Aliem Bachtiar, Bjeh Endarto, Sekar Pengawikan, Dongkrek Madiun. Selain itu hadir juga seni Reog, Penthul Melikan, Sendiko Dawuh, Ketoprak DKD Ngawi, Retno Dumilah, Condro Buwono, Pasukan Semut Kraton Ngiyom, iringan tumpeng desa Ngrayudan, serta grup musik ethnic-jazz Bonita and the Hus Band.

 

Awal dari kegiatan  FGB sebagai bagian dari pengembangan pariwisata yang dikelola Pokdarwis Desa Ngrayudan berawal dari hobi Yosef Danni Kurniawan yang gemar menumpuk batu dalam posisi-formasi yang tidak mungkin dengan dikenal melalui istilah gravity. Tentunya seni menumpuk batu dibutuhkan kepekaan rasa dalam keseimbangan-gravitasi, Danni menyusun batu sebagai pokok kejadian dalam seni berdampak (happening art with impact).

“ Kita bersyukur , berawal dari hoby yang mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah setempat sehingga mewujudkan FGB semakin di kenal ke kancah Nasional bahkan Internasional” ungkap Dhani.

Wisata Selondo, salah satu tempat wisata yang masuk Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo. Kedepa, Selondo Village yang menempati areal seluas 3 hektar ini akan dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam renang, tempat pertemuan, restoran dan beberapa kios yang menjajakan hasil khas masyarakat sekitar termasuk hasil agrobisnis berupa sayur mayur.

 

Wisata Selondobakal  menjadi ikon Kabupaten Ngawi, apabila sedikit di berikan sentuhan dari investor akan menjadi lebih menarik. Jarak tempuh menuju wisata Selondo yang dikelilingi pemandangan syarat suasana pegunungan hawa nan sejuk menjadi citra tersendiri bagi para pengunjung. Selain wisata yang alami Selondo sering kali di manfaatkan oleh para pelajar untuk mengenal alam secara lansung dengan menggelar perkemahan. Dengan semangat dari para warga sekitar,  Selondo yang dahulu selalu kumuh dengan berbagai sampah bungkus makanan dan lain-lain, kini menjadi tempat wisata rakyat yang bersih dari sampah dalam radius beberapa kilometer. Bagi anda yang ingin tantangan alam dan juga menenangkan diri Selondo Desa Ngrayudan Kecamatan Jogorogo menjadi salah satu Destinasi Wisata alam yang patut anda coba.(ARD)

Saturday, 26 August 2017 03:37

Tugu Kartoyono Milik Ngawi Bakal Megah

Ngawi- Dalam waktu dekat ini, sesuai dengan janji Bupati Ngawi Tugu Kartonyono bakal berubah. Pembangunan yang direncanakan tahun anggaran 2018 murni diambilkan dari APBD pemkab Ngawi. Mini project ini bukan sembarang orang yang mengerjakan, asli di pikir dan direkayasa oleh anak Ngawi. Historynya, keberadaan tugu yang sudah berumur 34 tahun tersebut berganti wajah yakni berupa gading gajah dengan posisi menjuntai keatas berlatar manusia purba yang ditopang dengan tujuh trap.

Karya indah ini telah mengalahkan puluhan peserta yang mengikuti kontes lomba desain tugu Kartoyono. Sesuai dengan keputusan dewan juri karya besar Triyono seorang arsitektur asli Ngawi yang sudah mempersembahkan desain prototipnya demi keindahan dan tata kota kelahiranya. Jarot Kusumo Yudo staf Tata Bangunan dan Tata Ruang (Tabataru) DPUPR Ngawi mengatakan desain Triyono keluar sebagai pemenang polling dari 5 karya arsitek lainya.

“Setelah kami seleksi dari para kontestan yang mengirim desain itu sekitar 28 gambar dari para arsitek. Namun kita ambil 5 besar dan ternyata desain Mas Triyono inilah yang terpakai nantinya sesuai hasil polling,” terang Jarot  Kamis (24/08).

Mendasar penjelasan dari peserta mengambil tema gading gajah menjuntai keatas versi Triyono sengaja membawa konsep yang sangat khas dan kental dengan keberadaan sejarah tentang Kabupaten Ngawi sendiri. Konsep gading yang menjuntai keatas filosofinya sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melambangkan sesuai visi Kabupaten Ngawi dimana Ngawi Sejahtera, Berakhlak Berbasis Pedesaan Sebagai Barometer Jawa Timur.

Sedangkan tujuh trap sebagai penopang gading gajah itu sendiri bermakna universal antara lain, menanggulangi kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan, meningkatkan pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan yang berkwalitas dan berdaya saing. Selain itu, meningkatkan kwalitas insfrastruktur sesuai daya dukung lingkungan dan fungsi ruang dan beberapa lagi makna sesuai jumlah trap yang ada.

Seperti diketahui Tugu Kartonyono dibangun sekitar tahun 1983 yang sebelumnya berada di pertigaan. Ketika jembatan Dungus dibangun menuju ke timur jalur Ngawi-Caruban maka tugu tersebut berubah total menjadi Perempatan Tugu Kartonyono.

Untuk nama Kartonyono sendiri bukan sekedar asal nama melainkan ada mendasar dari sebuah narasi tentang keberadaan rumah Bapak Kartonyono yang tidak lain seorang kepala desa (Kades) Margomulyo sebelum berubah menjadi kelurahan. Dan rumah tersebut sejalan dengan pembangunan Kota Ngawi terpaksa digusur agar diatas lahan itu bisa dibangun jalan menuju jembatan Dungus sebagai akses ke jalur Ngawi-Caruban sekarang ini.

Tegasnya semoga pembangunan Tugu dapat berjalan dengan lancar menuju Ngawi visit year menampilkan keragaman wisata lokal yang menambah PAD secara langsung peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. (ARD)

 Ngawi-Pencurian dengan pemberatan (curat) nampaknya mulai marak di wilayah hukum polres Ngawi, terbukti beberapa minggu terakhir ini kasus pencurian menghantui Ngawidan belum juga pelak yang diungkap petugas. Kejadian yang terjadi di MTs Al Irsyad masuk Dusun/Desa Wonosari, Kecamatan Sine, Ngawi, menambah pembendaharaan cacatan petugas untuk diselesaikan. Dari informasi yang kami dapat tercatat sekitar 17 layar monitor merek Acer dan 1 server didalam ruangan laboratorium sekolah setempat amblas diembat maling.

Kejadian yang kali pertama di ketahui oleh penjaga sekolah sekira pukul 06.30 WIB Jum’at pagi, (25/08), saat penjaga sekolah melihat ada yang tidak beres pada ruang laboratorium yang berisi perkakas komputer. Ternyata benar setelah di cek ternyata belasan monitor komputer berikut server tidak berada ditempat.

“Setelah mendapatkan informasi anggotanya langsun meluncur dari hasil pemeriksaan olah  TKP kuat dugaan pelaku berhasil masuk setelah terlebih dahulu merusak teralis besi cendela ruang komputer itu,” terang Kapolsek Sine AKP Slamet Suyanto.

Jelas Kapolsek Sine diprediksi melibatkan satu orang pelaku dan memakai kendaraan roda empat untuk mengangkut hasil jarahanya. Hanya saja untuk waktu terjadinya curat sudah lebih dari 24 jam jika melihat dari kerusakan cendela.

“Ruang komputer sekolah ini memang jarang dipakai oleh siswanya dan kemungkinan kejadian curatnya itu sudah lebih dari sehari. Untuk mengungkap kejadian kami sudah mengumpulkan keterangan yang ada berikut barang bukti berupa dua linggis besar,” jelas AKP Slamet Suyanto. 

Petugas mengharapkan kepada warga masyarakat yang mengetahui atau saksi kejadian untuk dapat kiranya memberikan informasi kepada anggota, agar kiranya untuk mengungkap kasus pencurian di wilayah Ngawi.(ARD)

Ngawi-Setelah di nilai kuat hokum  dan telah melalui prosedur , proses eksekusi tanah tetap berlangsung oleh Pengadilan Negeri Ngawi kendati mendapatkan perlawanan warga.   Sepertihalnya Pembebasan lahan tol Solo-Kertosono rupanya menyisakan masalah di Ngawi, Jawa Timur. Tepatnya di Dusun Ngadiluwih, Desa Gemarang, Kecamatan Kedunggalar warga menolak eksekusi lahan miliknya yang dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Ngawi (23/08).

Aksi penolakan ini di lakukan oleh Sumiran Mukhlis Ikhsanudin (65) purna Polri warga Dusun Ngadiluwih menolak keras atas dua bidang lahan miliknya masing-masing seluas 10.399 meter persegi dan 146 meter persegi yang akan di eksekusi untuk dimanfaatkan sebagai lahan tol.

Dengan membawa poster sebagai bukti atas penolakan keras yang dilakukan oleh Sumiran ini terlihat dari poster yang terbentang dilokasi eksekusi bertuliskan tema ‘Demi Keadilan Tanah Saya Yang Terkena Jalan Tol’ dan berisikan beberapa tuntutan antara lain Mohon diganti tanah yang luasnya sama, Posisinya sama ditepi jalan yang sejalur, Kalau diganti dengan uang saya minta disesuaikan dengan harga tanah sekarang dan diakhiri dengan kalimat ‘Mohon Jangan Dikerjakan Dulu Sebelum Ada Realisasi’.

Seperti yang dibacakan Ketua Panitera PN Ngawi Djasman dijelaskan, jika pembebasan lahan dua bidang milik Sumiran ini sudah sesuai dengan keputusan dikeluarkan PN Ngawi Nomor 30/Pdt.P. Kons/2017/PN. Ngawi dan Nomor 31/Pdt.P. Kons/2017/PN. Dan proses eksekusi sendiri juga mendasar keputusan PN Ngawi Nomor 25/Pdt.P. Kons/2017/PN Ngawi. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses esekusi petugas pengadilan dijaga ketat oleh Polisi dan TNI. 

“Guna menganstisipasi hal-hal yang menjurus anarki pengamanan dilakukan dari petugas kepolisian dan TNI. Agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan,” terang Kapolsek Kedunggalar AKP Lilik Sulastri, Rabu (23/08).

Jelasnya proses eksekusi tersebut akhirnya berjalan seperti yang diharapkan dua bidang tanah milik Sumiran langsung diratakan menggunakan dua alat berat. Mendasar  keputusan PN Ngawi telah mendapatkan uang ganti rugi yang dibayarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan dititipkan ke PN Ngawi. Pihak pengadilan telah memberikan ganti rugi kepada pihak kedua dalam kasus perdata ini dan itu sudah sesuai dengan amar keputusan lembaga peradilan yang mempunyai kekuatan hokum .(ARD)

Thursday, 24 August 2017 02:43

Guru Ngaji Bantah Lakukan Pencabulan

 Ngawi-Peodefilia menjadi momok bagi kita para orang tua, sebagaimana agar kiranya terjauhkan dalam kasus tersebut. Seperti halnya kejadian diwilayah Desa Jenggrik Kedunggalar Ngawi, tersiar kabar adanya salah satu Ustadz sering kali melakukan pencabulan, akibatnya selain para santri berkurang dan orang tua korban yang tidak terima melaporkan  kejadian tersebut kepada pihak berwajib.  Kasus dugaaan pencabulan yang dilakukan NY (57) seorang guru ngaji pada sebuah TPA di masjid Dusun Ngrobyong, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, rupanya berbuntut panjang. Pasalnya, sesuai laporan para orang tua korban ke Polres Ngawi Selasa kemarin, (22/08), disebutkan aksi NY ini sudah berlangsung lama dan menimpa para bocah dibawah umur yang ada di desanya.

Secara terpisah NY  langsung membantah atas tuduhan pencabulan terhadap bocah yang dialamatkan kepada dirinya. Saat ditemui dirumahnya tidak jauh dari lokasi masjid, pria dengan postur kurus ini menceritakan ia sebagai guru ngaji sejak tahun 1990 sejak saat itu tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan sekarang ini.

Jika ada bocah yang dipangku sewaktu ngaji di TPA tidak lebih dari bentuk kasih sayang antara orang tua dengan anak. Toh dilakukan ditempat terbuka didalam ruangan TPA masjid yang kebetulan satu lokasi dengan tiga ustad lainya.

“Anak asuh saya itu memang anak kecil kecil masih sekolah TK sampai  SD. Gimana ya yang namanya anak kecil itu kan manja terkadang minta dipangku kadang minta digendong terus buang air kecil saja minta diantarkan itu saja tidak bisa melepas celana sebab celana levis, seperti itu disuruh melepaskan,” terang NY, Rabu (23/08).

Tambahnya, dengan adanya laporan pencabulan ke Polres Ngawi membuat dirinya tidak tenang bahkan sama sekali tidak disangka bakal terjadi aksi seperti itu. NY mengungkapkan terkait tuduhan terhadap dirinya ini sangat janggal bahkan terkesan ada pihak tertentu yang sengaja menghembuskan ke permukaan.

Mengingat selama ini rumahnya pun sering di jadikan tempat bermain anak-anak asuhnya di TPA tersebut. Dan itupun tidak terjadi masalah apa-apa tetapi apabila terjadi tindak pencabulan yang ia lakukan secara otomatis si anak itu sendiri pasti kapok dolan ke rumahnya.

Terpisah, kata Siti yang sekaligus orang tua korban menjelaskan, dengan kejadian dugaan pencabulan yang dilakukan NY membuat trauma atas dirinya. Padahal selama ini NY dikenal sebagai tokoh agama dilingkunganya dan tidak pernah tampak ada gelagat yang patut dicurigai. Pihaknya mengharapkan adanya kebenaran dari kasus ini, bukannya pengaduan saja. 

“kalau anak saya sendiri pernah di pangku dan di raba-raba di bagian kemaluannya, cukup trauma atas kejadian tersebut,” jelas narasumber.

Jelasnya, atas perbuatan itu NY pernah digeruduk sama para orang tua sekitar seminggu lalu sebelum kasus dugaan pencabulan dilaporkan ke Polres Ngawi. Dan sekarang ini NY sudah mengundurkan diri sebagai guru ngaji dan diganti ustad lainya. Bahkan dia menyebut korban dugaan pencabulan yang dilakukan NY jumlahnya lebih dari 10 anak yang berumur antara 5 sampai 8 tahun.

Seperti diketahui sebelumnya, beberapa orang warga Dusun Ngrobyong, mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Ngawi sekitar pukul 10.30 WIB, Selasa kemarin (22/08), untuk melaporkan aksi dugaan pencabulan yang dialami putrinya.

Dihadapan petugas kepolisian para orang tua ini melaporkan aksi tidak patut yang diduga dilakukan oleh NY seorang pria yang berprofesi sebagai guru ngaji diwilayah setempat atas tuduhan pencabulan. Karena selama kasus ini menimpa korban di bawah umur sehiingga kasus pencabulan di tangani UPPA polres Ngawi.(ARD)

Page 10 of 16