bahanafm

bahanafm

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ngawi – Pesta demokrasi mulai dengan tahapannya sepertihalnya yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu saat sekarang. Memasuki hari kedua proses pendaftaran dan verifikasi partai politik (parpol) untuk di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Ngawi masih sepi. Terbukti, belum ada satupun partai baik lama maupun baru mendaftarkan diri ke KPU di daerah tersebut setelah dibuka mulai 03 sampai 16 Oktober 2017, Rabu (04/10).

“hingga memasuki hari kedua dari informasi kesekertariatan belum ada partai yang mendaftarkan diri saya sendiri juga tidak tahu apa alasanya soalnya itu hak masing-masing partai. Hanya saja jangan sampai mepet waktu proses pendaftaranya,” terang Samsyul Wathoni Ketua KPUD.

Dia mengharapkan setiap parpol harus berkomunikasi aktif dengan KPU terlebih sebelum pendaftaran dilakukan. Paling tidak memberikan informasi awal tentang kapan pendaftaran dilakukan oleh partai diantara waktu yang sudah ditentukan agar internal KPU sendiri bisa mempersiapkan mekanismenya.

Untuk berkas kelengkapan bebernya, paling tidak setiap partai harus menyerahkan lebih dari 1000 atau minimalnya 899 salinan KTP maupun KTA. Alasanya, terutama partai baru akan dilakukan verifikasi faktual dengan mengambil 10 persen berkas kelengkapan yang diserahkan ke KPU di daerah.

Meski terkesan masih sepi, Toni sapaan akrab Ketua KPUD Ngawi dia optimis proses pendaftaran parpol secara umum di wilayahnya tidak bakal terjadi kendala. Semua mekanisme maupun tahapan pasti dilalui sesuai yang dijadwalkan oleh KPU sendiri.

“Kemungkinan diatas tanggal 7 Oktober 2017 nanti baru ada yang daftar. Saya yakin semuanya akan lancar termasuk partai baru itu dan terpenting komunikasinya jalan terus agar mereka bisa melengkapi semua syarat administrasinya,” pungkas Toni.

Tahapan pilkada untuk Jawa Timur akan di mulai dengan pemilihan Kepala dan wakil Gubernur Jawa Timur, pemilihan legeslatif, pemilihan kepala daerah tingkat kabupaten/daerah dan terakhir Presiden yang di harapkan semua tahapan ini berjalan dengan lancar. (ARD)

Wednesday, 04 October 2017 00:00

Kembali Jalur Tengkorak Ngawi Memakan Korban

Ngawi- Terkenal lancar tapi mematikan demikian sebutan jalur tengkorak Ngawi terdapat di sepanjang jalur Ngawi kota hingga perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah, kecamatan Mantingan. Kejadian kecelakaan antara sepeda motor vs truk menjadi  menambah daftar korban di jalur tersebut. Peristiwa kecelakaan tragis tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB di Jalan Raya Ngawi-Mantingan kilometer 06-07 tepatnya masuk Desa Ngale, Kecamatan Paron, Ngawi, Selasa (03/10).

Kejadian bermula sepeda motor jenis Honda Vario nopol AE 3778 MS yang dikendarai Novyan Erwanto (33) melaju dari arah Ngawi menuju barat dengan kecepatan sedang sedangkan dari arah berlawanan muncul truk nopol N 8498 UF yang dikemudikan Khoirul Roziq (38). Sesampai di tempat kejadian perkara kendaraan truk yang dikemudikan warga Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Malang tersebut hendak menyalip kendaraan didepanya tanpa memperhatikan arus kendaraan dengan mengambil haluan ke kanan.

Karena jarak terlalu dekat membuat truk langsung menabrak sepeda motor yang dikendarai Novyan Erwanto warga Dusun Plosorejo, Desa/Kecamatan Kedunggalar, Ngawi hingga terseret beberapa puluh meter. Akibatnya kejadian itu, Novyan Erwanto tewas dilokasi kejadian dengan sejumlah luka parah dibagian kepalanya. Usai menabrak sepeda motor, kendaraan truk yang mengangkut makaroni baru bisa berhenti setelah menghantam pohon dipinggiran jalan hingga terguling.

Mendapatkan laporan dari warga petugas Satlantas Polres Ngawi langsung menuju TKP dan langsung mengamankan sopir truk tidak hanya itu saja petugas memaksa buka tutup jalur arus karena bangkai truk memenuhi badan jalan.

“Karena badan jalan habis akibat ada kendaraan di depan sehingga saya tidak bisa mengendalikan kemudi jarak yang dekat akhirnya tabrakan tak dapat terelakkan ,” terang Khoirul Roziq.

Petugas Satlantas Polres Ngawi langsung turun dilokasi kejadian. Korban Novyan Erwanto jenasahnya langsung dievakuasi ke kamar mayat RSUD dr Soeroto Ngawi sedangkan Khoirul Roziq diamankan petugas untuk dimintai keterangan. Pasca kejadian dijalur rawan ini membuat arus lalu-lintas mengalami kemacetan beberapa saat, terpaksa polisi menerapkan arus buka tutup antrian kendaraan baik dari dua arah mencapai puluhan meter akibat kejadian tersebut.(ARD)

Ngawi-Setelah dinyatakan buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) selama 6 tahun terduga pelaku perampokan berinisial SKR alias Gepeng langsung dibekuk anggota Resmob Subnit 1 Satreskrim Polres Ngawi. Pria berumur 41 tahun tersebut dibekuk petugas tidak jauh dari rumahnya sekitar pukul 13.30 WIB di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota, Ngawi, Senin kemarin, (02/10).

Sementara Humas Polres Ngawi menjelaskan, SKR merupakan salah satu dari empat pelaku perampokan dengan korban Waiman (46) warga Dusun Pule, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Ngawi yang terjadi pada Selasa tanggal 29 Nopember 2011 sekitar pukul 00.15 WIB. Saat itu, SKR bersama tiga rekanya berhasil masuk kedalam rumah korban setelah mendobrak pintu dan memaksa korban untuk menyerahkan hartanya.

Mendapat ancaman akan dibunuh, Waiman langsung menyerahkan uang tunai sebesar Rp 17 juta ditambah 2 pasang giwang dan 1 kalung senilai Rp 2 juta serta 1 unit handphone kepada pelaku. Usai melakukan aksi tersebut SKR alias Gepeng ini langsung kabur sedangkan tiga rekanya berhasil ditangkap petugas dan menjalani proses hukum sesuai putusan inkrah dari Pengadilan Negeri (PN) Ngawi.

Penyergapan terhadap SKR sendiri setelah petugas mendapat informasi dari warga yang menyebutkan jika terduga pelaku ada disebuah warung kopi di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota. Dihadapan petugas SKR mengakui segala perbuatanya terkait aksi perampokan 6 tahun lalu. Dan siang itu juga langsung dijebloskan ke sel Mapolres Ngawi untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

 “Dari keterangan unit reskrim polres Ngawi, pelaku saat sekarang dalam pemeriksaan itensif petugas dan tengah di selesaikan pemberkasan untuk di serahkan kepada pihak kejaksaan” (ARD)Setelah Lama Buron Pelaku Perampokan Berhasil di Tangkap Petugas

Setelah dinyatakan buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) selama 6 tahun terduga pelaku perampokan berinisial SKR alias Gepeng langsung dibekuk anggota Resmob Subnit 1 Satreskrim Polres Ngawi. Pria berumur 41 tahun tersebut dibekuk petugas tidak jauh dari rumahnya sekitar pukul 13.30 WIB di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota, Ngawi, Senin kemarin, (02/10).

Sementara Humas Polres Ngawi menjelaskan, SKR merupakan salah satu dari empat pelaku perampokan dengan korban Waiman (46) warga Dusun Pule, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Ngawi yang terjadi pada Selasa tanggal 29 Nopember 2011 sekitar pukul 00.15 WIB. Saat itu, SKR bersama tiga rekanya berhasil masuk kedalam rumah korban setelah mendobrak pintu dan memaksa korban untuk menyerahkan hartanya.

Mendapat ancaman akan dibunuh, Waiman langsung menyerahkan uang tunai sebesar Rp 17 juta ditambah 2 pasang giwang dan 1 kalung senilai Rp 2 juta serta 1 unit handphone kepada pelaku. Usai melakukan aksi tersebut SKR alias Gepeng ini langsung kabur sedangkan tiga rekanya berhasil ditangkap petugas dan menjalani proses hukum sesuai putusan inkrah dari Pengadilan Negeri (PN) Ngawi.

Penyergapan terhadap SKR sendiri setelah petugas mendapat informasi dari warga yang menyebutkan jika terduga pelaku ada disebuah warung kopi di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota. Dihadapan petugas SKR mengakui segala perbuatanya terkait aksi perampokan 6 tahun lalu. Dan siang itu juga langsung dijebloskan ke sel Mapolres Ngawi untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

 “Dari keterangan unit reskrim polres Ngawi, pelaku saat sekarang dalam pemeriksaan itensif petugas dan tengah di selesaikan pemberkasan untuk di serahkan kepada pihak kejaksaan” (ARD)

Setelah Lama Buron Pelaku Perampokan Berhasil di Tangkap Petugas

Setelah dinyatakan buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) selama 6 tahun terduga pelaku perampokan berinisial SKR alias Gepeng langsung dibekuk anggota Resmob Subnit 1 Satreskrim Polres Ngawi. Pria berumur 41 tahun tersebut dibekuk petugas tidak jauh dari rumahnya sekitar pukul 13.30 WIB di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota, Ngawi, Senin kemarin, (02/10).

Sementara Humas Polres Ngawi menjelaskan, SKR merupakan salah satu dari empat pelaku perampokan dengan korban Waiman (46) warga Dusun Pule, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Ngawi yang terjadi pada Selasa tanggal 29 Nopember 2011 sekitar pukul 00.15 WIB. Saat itu, SKR bersama tiga rekanya berhasil masuk kedalam rumah korban setelah mendobrak pintu dan memaksa korban untuk menyerahkan hartanya.

Mendapat ancaman akan dibunuh, Waiman langsung menyerahkan uang tunai sebesar Rp 17 juta ditambah 2 pasang giwang dan 1 kalung senilai Rp 2 juta serta 1 unit handphone kepada pelaku. Usai melakukan aksi tersebut SKR alias Gepeng ini langsung kabur sedangkan tiga rekanya berhasil ditangkap petugas dan menjalani proses hukum sesuai putusan inkrah dari Pengadilan Negeri (PN) Ngawi.

Penyergapan terhadap SKR sendiri setelah petugas mendapat informasi dari warga yang menyebutkan jika terduga pelaku ada disebuah warung kopi di Lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota. Dihadapan petugas SKR mengakui segala perbuatanya terkait aksi perampokan 6 tahun lalu. Dan siang itu juga langsung dijebloskan ke sel Mapolres Ngawi untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

 “Dari keterangan unit reskrim polres Ngawi, pelaku saat sekarang dalam pemeriksaan itensif petugas dan tengah di selesaikan pemberkasan untuk di serahkan kepada pihak kejaksaan” (ARD)

Ngawi- keberhasilan pihak aparat kepolisian Satreskrim Polres Ngawi patut di acungi jempol, bagamana tidak kebolehan koordinasi dan pengembangan kasus, akhirnya berhasil menangkap NH (24) pria asal Dusun Wadangkerep, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Senin (02/10). Bukan karena asal tangkap oleh petugas karena Pria ini diduga yang sebagai pelaku pembacokan terhadap istrinya Lasmi (37) asal Dusun Sidomulyo, Desa Mendiro, Kecamatan Ngrambe, Ngawi pada 20 September 2017 lalu. “Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak keberhasilan penangkapan pelaku berinisial NH kemarin 29 September 2017 dirumahnya. Pelaku ini ditangkap setelah sempat kabur ke Ponorogo dan sekarang keberadaanya di sel Mapolres Ngawi,” jelas Kasubbag Humas Polres Ngawi AKP ES Martono, Kronoogis kejadian ini berawal penganiayaan yang dilakukan pelaku NH terhadap korban Lasmi terjadi pada Rabu, (20/09), sekira pukul 17.30 WIB. Saat itu terduga pelaku menyuruh adiknya Diki untuk memberi pakan kambing ternaknya. Setelah itu terjadi salah paham dengan adiknya berlanjut terjadinya penganiayaan menggunakan senjata tajam jenis golok ke Lasmi yang tidak lain istri pelaku. “Dari keterangan awal pelaku tidak terima dengan perkataan adiknya, istri korban berusah melerai. Ada salah paham dengan korban, pelaku ini memukul kepala korban dengan batu disusul pembacokan menggunakan golok mengenai pergelangan tangan kanan korban,” jelas AKP ES Martono. Terpisah, Wariyanti adik korban membenarkan adanya aksi penganiayaan yang dilakukan kakak iparnya yang menyebabkan Lasmi terluka. Saat di Tanya perihal penyebab adik korban tidak bisa menjelaskan dari aksi kekerasan yang menimpa Lasmi kakak kandungnya itu. “Usai kejadian kakak ipar saya ini menyerahkan Mbak Lasmi kepihak keluarga di Desa Mendiro sini yang katanya sudah tidak kuat lagi. Tetapi untuk penyebab penganiayaan itu saya sendiri tidak tahu pastinya,” pungkas Wariyanti. Pihak keluarga mengharapkan kepada petugas berwajib memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.(ARD)

Ngawi-Jelang Pesta Demokrasi yang dimulai tahun depan hal ini menjadi persiapan bagi panitia penyeleggara pemilu sepertihalnya Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Ngawi membenarkan sudah menggelar sosialisasi kepada partai politik peserta Pemilu 2019 di Aula Notosuman Jalan Raya Ngawi-Mantingan, Kamis kemarin, (28/09). Dalam sosialisasi tersebut disampaikan beberapa hal tentang tata cara pendaftaran dan verifikasi sebagai langkah penetapan partai politik peserta Pemilu 2019.

“Kegiatan sosialiasi itu kami laksanakan berdasarkan Peraturan KPU Nomor 07 Tahun 2017 tentang tahapan, program, dan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019. Parpol calon peserta Pemilu wajib melakukan pendaftaran dan verifikasi, 03-16 Oktober 2017,” kata Toni sapaan akrab Ketua KPUD Ngawi via selular, Sabtu (30/09).

Alasan menyelenggarakan sosialisasi karena sesuai acuan yang tertuang dalam PKPU Nomor 11 Tahun 2017 tentang pendaftaran, penelitian, administrasi, verifikasi faktual, dan penetapan calon peserta pemilu 2019 pasal 12. Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan data dari KPU pusat ada 73 Parpol calon peserta Pemilu 2019, sehingga mereka harus melakukan pendaftaran dan verifikasi jika mereka ingin bertarung di pesta demokrasi pada 2019.

Hanya saja hingga saat ini yang terdaftar di Kesbangpol Kabupaten Ngawi baru 15 partai terdiri 12 partai lama ditambah 3 partai baru yakni Partai Perindo, Partai Berkarya dan PSI. Sedangkan pada proses pendaftaran antara tanggal 03-16 Oktober 2017 pihak KPUD di daerah hanya menerima foto copy KTA dan KTP dengan jumlah masing-masing 1.000 lembar .

“Untuk partai baru memang kami lakukan verifikasi faktual dan untuk pelaksanaanya nanti sesuai jadwal dan tahapanya. Dimana akan dilaksanakan pada 15 Desember 2017 sampai 04 Januari 2018 setelah itu penyampaian hasil verifikasi faktual,” urainya.

Diakuinya, didalam pasal 173 ayat 1 Peraturan KPU Nomor 07 Tahun 2017 hingga sekarang masih berpolemik dan terjadi gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Menyusul pasal yang dimaksudkan itu dinilai masih diskriminatif antara partai lama dengan partai baru.

“ Kami mengharapkan kepada partai untuk segera melaksanakan pemenuhan persyaratannya agar bisa masuk sebagai partai yang memenuhi perundangan” tegasnnya (ARD)

Ngawi-Sudah tidak mendapatkan toleransi kembali bagi nekat melakukan peredaran pil siap beruurusan dengan petugas. Ketegasan ini di ungkapkan oleh Kasat Narkoba Polres Ngawi AKP Mukid. Hal ini mendasar peredaran pil koplo sekarang ini cukup marak disalahgunakan dan terindikasi melibatkan konsumen maupun pengedar kalangan remaja tidak terkecuali lagi di daerah kecil seperti Ngawi, Jawa Timur. Data yang diperoleh dari Satnarkoba Polres Ngawi dalam pekan terakhir September 2017 ini sukses menggulung tiga orang terduga pelaku penyalahgunaan pil koplo berbagai jenis.

Satu bukti yang membuat miris, dalam sehari saja pada Rabu kemarin, (27/09), pihak kepolisian berhasil mengamankan tiga orang masing-masing berinisial DP (25) warga Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, AS (23) dan RAS (17) keduanya tercatat sebagai warga Desa Hargosari, Kecamatan Sine.

Penangkapan para terduga pelaku penyalahgunaan pil koplo tersebut bermula dari DP yang ditangkap petugas sekitar pukul 18.30 WIB, Rabu (27/09), saat nongkrong didepan minimarket Jalan Raya Jogorogo-Ngrambe tepatnya masuk Desa/Kecamatan Jogorogo. Dari informasi DP inilah petugas berhasil menangkap lagi dua orang terduga pelaku lainya sekitar pukul 21.30 WIB baik AS maupun RAS di wilayah Desa Hargosari.

Dari tangan DP petugas berhasil mengamankan 16 pil koplo jenis Trihexyphenidil dan satu unit handphone. Sedangkan dari tangan AS ada 7 butir pil koplo jenis Trihexyphenidil dan dua unit handphone serta terakhir RAS berhasil disita 26 butir pil koplo jenis Trihexyphenidil plus 10 butir pil jenis Tramadol, satu unit handphone dan uang tunai Rp 90 ribu.

“Keberhasilan kami tidak lepas dari peran masyarakat Ngawi yang memberikan informasi kepada petugas, dan juga hasil kerjasama cyber net” ungkap AKP Mukid.

Ketiga orang ini dianggap melanggar dan tidak memiliki ijin edar sesuai terjemahan UURI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dimana setiap orang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi berupa obat atau pil koplo jenis Trihexyphenidil maupun Tramadol dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan kasiat dan kemanfaatan mutu.

“ Dari penangkapan tersangka ini kita akan terus mengembangkan kasus hingga lintas propinsi”  Tegasnnya.(ARD)

Tewasnya Neny Agustin gadis berumur 16 tahun asal Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi akibat tebasan parang Muh Mudiono pada Selasa lalu, (26/09), tidak sebatas membawa duka bagi keluarganya. Tetapi kabar tersebut membuat duka mendalam bagi teman korban semasa sekolah maupun teman bermain dilingkungan tempat tinggal korban.

Tina Mariyani siswi kelas 3 MTs Al Firdaus Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi yang merupakan teman sekelas korban ketika masih duduk dibangku kelas 2 mengaku kaget peristiwa yang dialami Neny. Padahal beberapa waktu sebelum kejadian korban sempat pamit kepada dirinya sebulan lagi mau nikah dengan Muh Mudiono.

“Pas ketemua dia (korban-red) sempat bilang katanya mau nikah bulan Sapar atau sebulan lagi (Oktober akhir-red). Dan saya disuruh kesana dan saya bilang insyaallah,” terang Tina Mariyani.

Menurut Tina yang rumahnya tidak begitu jauh dari korban menceritakan jika Neny Agustin memang sudah keluar dari MTs Al Firdaus sewaktu kelas 2 semester 2 akhir atau sekitar 5 bulan lalu. Seingat Tina keluarnya korban yang masih familinya ini tanpa sebab yang jelas, hanya saja sebelum Neny keluar sekolah sempat dibawa kabur pelaku (Muh Mudiono-red) selama dua hari dua malam.

Mungkin merasa malu dengan temanya membuat korban memutuskan keluar dari MTS Al Firdaus. Hanya saja saat itu korban sempat bilang kepada Tina mau pindah sekolah yakni ke SMP PGRI yang ada di Jogorogo. Sejalan dengan waktu kenyataanya korban berada dirumah terus tanpa melanjutkan sekolah lagi.

Untuk sikap Neny sendiri dihadapan teman-temanya ketika masih sekolah tambah Tina terbilang sebagai anak pendiam dan tertutup. Bahkan dalam pergaulanya justru dengan orang-orang atau temanya luar sekolah demikian juga setiap kali curhat. Sehingga secara persis seperti apa permasalahan yang dialami Neny pada masa itu hingga keluar sekolah, teman satu kelasnya pun tidak tahu pasti.

Meski demikian sambung Tina, dia cukup berduka atas kehilangan teman sekolah dan masa kecilnya itu. Sebab apapun alasanya, korban diberlakukan secara keji oleh pelaku hingga berujung maut. Dan Tina berharap pelaku harus diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya.

Terpisah, Jayin Kepala MTs Al Firdaus, Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar membenarkan jika Neny Agustin korban pembacokan hingga tewas dulunya tercatat sebagai siswi di sekolahnya. Hanya saja ketika sampai di bangku kelas 2 Neny pamit keluar sekolah tanpa alasan pasti. Demikian juga pihak orang tuanya sudah meminta ijin kepada sekolah kalau si Neny ingin keluar dengan alasan tidak mau melanjutkan sekolah lagi.

“Saat itu dia (Neny Agustin-red) berbicara tidak meneruskan sekolah, terus saya tanya lagi mau kemana jawabanya tidak tahu. Dan pihak orang tuanya juga sudah pamit kalau anaknya itu tidak mau sekolah lagi,” kata Jayin.

Keluarnya Neny tandas Jayin, bukan masalah biaya sebab korban semasa sekolah mendapatkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) sehingga gratis tanpa dipungut biaya apapun. Hanya diduga ada permasalahan di internal keluarganya namun demikian pihak sekolah juga tidak tahu.

Menurut Jayin, kepribadian Neny Agustin sewaktu duduk di sekolah  terbilang sebagai anak pendiam dan penurut serta taat semua aturan sekolah. Dengan kejadian yang dialami korban membuat pihak sekolah merasa kaget sebab selama di sekolah Neny terbilang sebagai anak yang rajin dan tertib masuk sekolah.

“Jadi pihak sekolah tidak ada kecurigaan seperti itu maupun peristiwa seperti itu. Justru yang menonjol dari korban dulunya itu dari ketertibanya dia paling awal ketika berangkat dan sampai sekolah. Dan selama disekolah tidak ada catatan jelek si korban ini meskipun secara prestasi biasa saja dan dia cukup punya sopan santun kepada guru-gurunya sehingga kaget banget dia menjadi korban pembacokan itu,” kupas Jayin.

Dengan keterangan dari teman maupun pihak sekolah semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus bisa disimpulkan ada beberapa hal. Pertama dari keterangan Tina Mariyani kalau korban sempat pamit mau nikah dengan pelaku, maka si korban ini sebelumnya sudah mengamini kalau mau dinikah oleh pelaku.

Padahal di satu sisi dari keterangan Muh Mudiono dia kalap lantaran cintanya tidak disetujui padahal semua administrasi pernikahan sudah dipersiapkan. Kalau demikian siapa yang tidak memberikan lampu hijau pernikahan antara pelaku dengan korban ataukah pelaku sendiri ada motif lain maupun salah paham dibalik aksi kejinya itu.

Dan kedua dari keterangan pihak sekolah yang menyebutkan semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus sebagai anak yang taat dan baik kepribadianya. Maka dari itu ada sederet pertanyaan, kenapa pelaku berbuat keji terhadap korban, apakah pelaku memang punya karakter yang beringas seperti itu.

Sementara dari pengakuan Sumiyem ibu korban kepada bahana menjelaskan pihaknya tidak menyangka bila calon menantunya berbuat senekat itu.(30/9) saat di temui di kediamannya ibu korban mengaku sudah menerima persyaratan yang di bawa pelaku sedikitpun dari neny dan Sumiyem melontarkan kata penolakan. Ibu korban menyempatkan menghaturkan makan siang dan menawarkan secangkir kopi tapi keduanya malah di sabet dengan parang. 

“ Saya sudah mempersilahkan masuk dengan baik-baik dan menawarkan makan serta secangkir kopi kebiasaan pelaku namun saat membalikkan badan usai dari dapur kedua korban di sabet dengan parang berkali-kali” ungkapnya 

Sementara Jumari ayah korban mengharap hukuman yang paling berat atas apa yang dilakukan muhdiono kepada keluarganya.

“ hukuman mati atau seumur hidup saya tidak terima dengan apa yang lakukan Muh” tegas Jumari.(ARD)

Thursday, 28 September 2017 00:00

Di Duga Kelaparan Pembunuh Neny Keluar Hutan

Ngawi-Muh Mudiono (31) pelaku pembacokan calon istrinya Neny Agustin (16) warga Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi hingga tewas pada Selasa lalu, (26/09), akhirnya tertangkap petugas kepolisian. Penangkapan terhadap pelaku yang tercatat sebagai warga Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo menyudahi perburuan selama dua hari yang dilakukan petugas kepolisian dari Polsek Jogorogo di back up Polres Ngawi bersama warga masyarakat Desa Dawung.

Dari keterangan yang ada Muh Mudiono ditangkap petugas Unit Reskrim Polsek Jogorogo bersama personel Satreskrim Polres Ngawi sekitar pukul 18.00 WIB, Rabu kemarin (27/09), dilokasi warung kopi masuk Dusun Gagar, Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo. Penangkapan terhadap pelaku tidak lepas dari peran Mujiyono seorang PNS Polsek Jogorogo.

Menurut keterangan Mujiyono sendiri asal Dusun Manyul, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo bermula ada pesan whatsapp masuk di handphonenya sekitar pukul 16.15 WIB. Saat itu dirinya sedang membantu pekerjaan pembangunan mushola dilingkungan rumahnya.

“Ketika saya bekerja di mushola tahu-tahu ada pesan whatsapp dari orang Dusun Sadaan, Desa Umbulrejo masih satu Kecamatan Jogorogo sana yang mengatakan melihat ada orang yang mencurigakan wajahnya mirip dengan pelaku jalan kaki kearah Dusun Manyul. Setelah itu langsung saya tindaklanjuti,” terang Mujiyono, Kamis (28/09).

Dengan kejadian itu Mujiyono yang mengetahui keberadaan pelaku sudah sampai di Dusun Gagar, Desa Ngrayudan. Lantas dia memutar otak dengan Suprapto untuk meringkus pelaku dengan berbagi tugas bersama adiknya itu. Tidak kalah akal Suprapto mencoba memancing Muh Mudiono masuk ke warung kopi.

“Saat itu kondisinya hujan ternyata adik saya Suprapto berhasil mengelabui pelaku untuk bisa masuk kedalam warung dan pelaku ini sempat minum es teh. Dihadapan Suprapto pelaku mengaku jujur kalau toh dirinya asal Dusun Pondok sebagai pelaku pembacokan,” urai Mujiyono.

Tandasnya, tanpa membuang waktu lagi langsung memberikan informasi ke Unit Reskrim Polsek Jogorogo. Selang beberapa menit kemudian dua personel kepolisian datang ke lokasi sasaran dan berhasil membekuk Muh Mudiono. Saat itu juga untuk menghindari amuk massa pelaku langsung dijemput oleh petugas Satreskrim Polres Ngawi.

Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiarja membenarkan penangkapan Muh Mudiono mendasar informasi dari warga dalam hal ini Mujiyono seorang PNS Polsek Jogorogo yang kemudian ditindaklanjuti proses penangkapan. Malam itu juga kata perwira menengah ini pelaku langsung digelandang ke Mapolres Ngawi guna diproses lebih lanjut. Tegas Kapolres hingga saat ini baru 1 senjata yang di temukan oleh petugas sementara pengakuan pelaku ada 2 senjata tajam clurit dan parang.(ARD)

Ngawi -Peristiwa pembacokan secara brutal yang dilakukan Muh Mudiono terhadap calon istrinya Neny Agustin hingga tewas membuat kesedihan mendalam bagi kedua orang tua pelaku. Saat dijumpai dikediamanya Dusun Pondok, RT 05/RW 02, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi pada Selasa kemarin sore sekitar pukul 16.30 WIB ada sederet cerita tentang Muh Mudiono putra bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Sukatmi (70) ibu pelaku menuturkan, pagi kemarin sebelum kejadian tidak ada gelagat apapun terhadap putranya Muh Mudino bakal melakukan aksi keji terhadap calon menantunya tersebut. Seperti biasa aktivitas putranya itu pun layaknya pemuda desa lainya tidak ada sikap atau perilaku yang mencolok. Usai sarapan pagi Muh Mudiono kata Suyatmi mempersiapkan berkas dan syarat pernikahanya untuk dikirim ke calon istrinya Neny di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo.

“Kados biasane enjing sakderenge kedadosan perkawis niku anak kulo sarapan terus ngumpulke surat-surat kangge nikah (Seperti biasanya pagi sebelum kejadian anak saya sarapan terus mengumpulkan surat untuk nikah-red),” terang Suyatmi.

Urainya, setelah semuanya dirasa komplit Muh Mudiono pamit mau pergi ke rumahnya Neny guna mengirim surat kelulusan yang telah jadi. Menyusul sehari sebelum kejadian terang Suyatmi, Muh Mudiono melengkapi diri persyaratan nikah salah satunya surat kesehatan maupun foto. Tanpa menaruh curiga selaku orang tua Suyatmi mengamini pernikahan Muh Mudiono yang hanya lulusan SD dengan gadis pujaanya Neny Agustin yang masih duduk dibangku kelas 2 sekolah setingkat MTs diwilayah Kecamatan Kedunggalar.

Namun bak disambar petir ketika mendapat informasi jika Muh Mudiono melakukan aksi pembacokan kepada calon istrinya demikian juga kepada calon ibu mertua, kakek Neny berikut tetangganya. Suyatmi dengan kalimat terbata-bata menuturkan, dirinya hanya bisa pasrah mendengar kalau anak kandungnya itu berbuat keji kepada calon istrinya dengan cara dibacok secara membabi buta menggunakan parang. Seketika itu kabar pembacokan langsung disampaikan ke suaminya Parno (62) yang tidak lain bapak angkat pelaku Muh Mudiono.

“Kulo langsung lemes mboten saged nopo-nopo bakdone mireng kabar ngoten niku (Saya langsung lemas tidak bisa berbuat apa-apa sesudah mendengar kabar seperti itu-red),” sambung Suyatmi.

Sambungnya hubungan antara Muh Mudiono dengan calon istrinya Neny Agustin sudah berlangsung sekitar 5 bulan. Pada awalnya selaku orang tua Suyatmi tidak begitu setuju terhadap rencana nikah anaknya dengan korban. Mengingat Neny masih duduk dibangku sekolah dan harus menyelesaikan sekolahnya dulu. Tetapi apa boleh buat, seringkali ketika Neny diajak pelaku kerumahnya selalu ditanya kenapa mau dengan Muh Mudiono. Jawaban korban Neny saat itu tuturnya, sudah mencintai Muh Mudiono dan siap untuk dinikah.

“Kulo nyuwun anak kulo enggal kepanggih kaliyan pak polisi punopo nyerahke awake mboten sah mlayu kersane perkarane niku enggal rampung (Saya minta anak saya secepatnya ketemu oleh pak polisi atau menyerahkan diri tidak usah melarikan diri supaya perkaranya cepat selesai-red),” jelasnya.

Pungkasnya, Muh Mudiono dimata keluarganya terbilang sebagai anak kreatif dan tekun bekerja mencari perekonomian terbukti selama tiga tahun terakhir sebagai pencari kroto. Selain itu selaku orang tua Suyatmi tidak tahu asal muasal senjata parang yang dipakai untuk membacok korban dan tiga orang lainya itu. Sebab, yang dia tahu ketika berangkat ke rumahnya Neny tidak membawa senjata tajam apapun.

Terpisah Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono menuturkan, hingga pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB Rabu, (27/09), keberadaan pelaku pembacokan Muh Mudiono belum tertangkap. Diprediksi pelaku masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe. Selain itu pihaknya bersama Satreskrim Polres Ngawi terus mendalami motif pelaku menghabisi korban berikut darimana mana asal senjata parang yang dipakai pelaku.

Hingga kini hari kedua pasca pembunuhan sadis yang dilakukan Muh Mudiono untuk melakukan perburuan terhadap pelaku Satreskrim Polres Ngawi menerjunkan dua anjing pelacak dari Unit Satwa K-9 Polda Jatim, Rabu (27/09).

“Untuk memaksimalkan perburuan terhadap pelaku (Muh Mudiono-red) hari ini kami menerjunkan anjing pelacak dari Polda Jatim. Lokasi penyisiran tetap pada area yang kami prediksi awal yakni di kawasan hutan Krandegan dan sekitarnya,” terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Meski demikian pencarian terhadap pelaku tetap melibatkan puluhan anggota Satreskrim Polres Ngawi di back up petugas Polsek Jogorogo, warga masyarakat Desa Dawung dan relawan dari RAPI. Dalam pantauan, sekitar pukul 12.30 WIB dua anjing pelacak langsung diterjunkan dengan konsentrasi perburuan dikawasan hutan Dares masuk Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren atau sekitar 10 kilometer dari lokasi kejadian. (ARD)

Ngawi- Dawung mencekam demikian pasca kejadian yang menimpa keluarga Neny Agustin (16) korban pembacokan yang dilakukan calon suaminya Muh Mudiono jenasah  tiba dirumah duka Dusun Kapungan, RT 01/RW 03, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi tepat pukul 21.00 WIB. Kedatangan jenasah putri bungsu dari pasangan Sujari – Sumiyati disambut tangisan histeris sanak familinya dan beberapa warga yang merasa terpukul atas kejadian yang menimpa.

Terlihat Sujari demikian juga Atin kakak kandung korban tangisnya langsung pecah ketika peti jenasah diturunkan dari mobil ambulan RSUD dr Soeroto Ngawi. Selang beberapa waktu demikian  usai di sholatkan jenasah Neny langsung dimakamkan di TPU di desa setempat.

 Neny menghembuskan nafas terakhirnya ketika di rawat di RS At Tin Ngawi setelah mendapatkan perawatan medis. Korban diketahui mengalami luka cukup parah akibat bacokan parang pelaku dibagian leher, kepala belakang dan jari tanganya putus. Setelah dinyatakan meninggal jenasah Neny langsung dikirim ke RSUD dr Soeroto Ngawi untuk dilakukan visum.

“Bekas luka yang terdapat di bagian tempurung alami pecah dan bagian belakang alami robek. Kuat dugaan pelaku menggunakan alat tajam yang diarahkan ke tubuh korban beberapa kali,” ungkap tim medis RSUD dr Soeroto Ngawi.

Kemudian hingga malam ini keberadaan Muh Mudiono pelaku pembacokan asal Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo terhadap empat orang hingga salah satu korbanya tewas keberadaanya masih diburu petugas kepolisian. Diperkirakan pelaku yang keseharianya sebagai pencari kroto ini masih bersembunyi di hutan Krandegan masuk wilayah Kecamatan Ngrambe.

Untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut Satreskrim Polres Ngawi mengamankan satu orang berinisial PR warga Desa Macanan untuk dimintai keterangan. Menyusul sebelum kejadian pria ini mengantarkan pelaku ke rumah korban untuk mengantarkan surat lulusan sebagai salah satu syarat nikah antara pelaku dan korban. Hanya saja ketika sampai dirumah korban dan beristirahat beberapa saat PR disuruh pulang oleh pelaku.

“kami sudah mengamankan rekan pelaku yang saat ini masih kita mintai keterangan guna pengembangan penyidikan lebih lanjut,” terang Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono. (ARD)

Page 10 of 19