Now playing

Rate this item
(0 votes)

Alasan Penolakan Korban di Bantah Dari Pihak Keluarga

By Published October 02, 2017

Tewasnya Neny Agustin gadis berumur 16 tahun asal Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi akibat tebasan parang Muh Mudiono pada Selasa lalu, (26/09), tidak sebatas membawa duka bagi keluarganya. Tetapi kabar tersebut membuat duka mendalam bagi teman korban semasa sekolah maupun teman bermain dilingkungan tempat tinggal korban.

Tina Mariyani siswi kelas 3 MTs Al Firdaus Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi yang merupakan teman sekelas korban ketika masih duduk dibangku kelas 2 mengaku kaget peristiwa yang dialami Neny. Padahal beberapa waktu sebelum kejadian korban sempat pamit kepada dirinya sebulan lagi mau nikah dengan Muh Mudiono.

“Pas ketemua dia (korban-red) sempat bilang katanya mau nikah bulan Sapar atau sebulan lagi (Oktober akhir-red). Dan saya disuruh kesana dan saya bilang insyaallah,” terang Tina Mariyani.

Menurut Tina yang rumahnya tidak begitu jauh dari korban menceritakan jika Neny Agustin memang sudah keluar dari MTs Al Firdaus sewaktu kelas 2 semester 2 akhir atau sekitar 5 bulan lalu. Seingat Tina keluarnya korban yang masih familinya ini tanpa sebab yang jelas, hanya saja sebelum Neny keluar sekolah sempat dibawa kabur pelaku (Muh Mudiono-red) selama dua hari dua malam.

Mungkin merasa malu dengan temanya membuat korban memutuskan keluar dari MTS Al Firdaus. Hanya saja saat itu korban sempat bilang kepada Tina mau pindah sekolah yakni ke SMP PGRI yang ada di Jogorogo. Sejalan dengan waktu kenyataanya korban berada dirumah terus tanpa melanjutkan sekolah lagi.

Untuk sikap Neny sendiri dihadapan teman-temanya ketika masih sekolah tambah Tina terbilang sebagai anak pendiam dan tertutup. Bahkan dalam pergaulanya justru dengan orang-orang atau temanya luar sekolah demikian juga setiap kali curhat. Sehingga secara persis seperti apa permasalahan yang dialami Neny pada masa itu hingga keluar sekolah, teman satu kelasnya pun tidak tahu pasti.

Meski demikian sambung Tina, dia cukup berduka atas kehilangan teman sekolah dan masa kecilnya itu. Sebab apapun alasanya, korban diberlakukan secara keji oleh pelaku hingga berujung maut. Dan Tina berharap pelaku harus diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya.

Terpisah, Jayin Kepala MTs Al Firdaus, Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar membenarkan jika Neny Agustin korban pembacokan hingga tewas dulunya tercatat sebagai siswi di sekolahnya. Hanya saja ketika sampai di bangku kelas 2 Neny pamit keluar sekolah tanpa alasan pasti. Demikian juga pihak orang tuanya sudah meminta ijin kepada sekolah kalau si Neny ingin keluar dengan alasan tidak mau melanjutkan sekolah lagi.

“Saat itu dia (Neny Agustin-red) berbicara tidak meneruskan sekolah, terus saya tanya lagi mau kemana jawabanya tidak tahu. Dan pihak orang tuanya juga sudah pamit kalau anaknya itu tidak mau sekolah lagi,” kata Jayin.

Keluarnya Neny tandas Jayin, bukan masalah biaya sebab korban semasa sekolah mendapatkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) sehingga gratis tanpa dipungut biaya apapun. Hanya diduga ada permasalahan di internal keluarganya namun demikian pihak sekolah juga tidak tahu.

Menurut Jayin, kepribadian Neny Agustin sewaktu duduk di sekolah  terbilang sebagai anak pendiam dan penurut serta taat semua aturan sekolah. Dengan kejadian yang dialami korban membuat pihak sekolah merasa kaget sebab selama di sekolah Neny terbilang sebagai anak yang rajin dan tertib masuk sekolah.

“Jadi pihak sekolah tidak ada kecurigaan seperti itu maupun peristiwa seperti itu. Justru yang menonjol dari korban dulunya itu dari ketertibanya dia paling awal ketika berangkat dan sampai sekolah. Dan selama disekolah tidak ada catatan jelek si korban ini meskipun secara prestasi biasa saja dan dia cukup punya sopan santun kepada guru-gurunya sehingga kaget banget dia menjadi korban pembacokan itu,” kupas Jayin.

Dengan keterangan dari teman maupun pihak sekolah semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus bisa disimpulkan ada beberapa hal. Pertama dari keterangan Tina Mariyani kalau korban sempat pamit mau nikah dengan pelaku, maka si korban ini sebelumnya sudah mengamini kalau mau dinikah oleh pelaku.

Padahal di satu sisi dari keterangan Muh Mudiono dia kalap lantaran cintanya tidak disetujui padahal semua administrasi pernikahan sudah dipersiapkan. Kalau demikian siapa yang tidak memberikan lampu hijau pernikahan antara pelaku dengan korban ataukah pelaku sendiri ada motif lain maupun salah paham dibalik aksi kejinya itu.

Dan kedua dari keterangan pihak sekolah yang menyebutkan semasa korban masih duduk dibangku MTs Al Firdaus sebagai anak yang taat dan baik kepribadianya. Maka dari itu ada sederet pertanyaan, kenapa pelaku berbuat keji terhadap korban, apakah pelaku memang punya karakter yang beringas seperti itu.

Sementara dari pengakuan Sumiyem ibu korban kepada bahana menjelaskan pihaknya tidak menyangka bila calon menantunya berbuat senekat itu.(30/9) saat di temui di kediamannya ibu korban mengaku sudah menerima persyaratan yang di bawa pelaku sedikitpun dari neny dan Sumiyem melontarkan kata penolakan. Ibu korban menyempatkan menghaturkan makan siang dan menawarkan secangkir kopi tapi keduanya malah di sabet dengan parang. 

“ Saya sudah mempersilahkan masuk dengan baik-baik dan menawarkan makan serta secangkir kopi kebiasaan pelaku namun saat membalikkan badan usai dari dapur kedua korban di sabet dengan parang berkali-kali” ungkapnya 

Sementara Jumari ayah korban mengharap hukuman yang paling berat atas apa yang dilakukan muhdiono kepada keluarganya.

“ hukuman mati atau seumur hidup saya tidak terima dengan apa yang lakukan Muh” tegas Jumari.(ARD)

Read 88467 times