Now playing

Rate this item
(0 votes)
Budi Sulityono atau akrab di sapa kanang tidak mengingkan adanya paparan di Kabupaten Ngawi Budi Sulityono atau akrab di sapa kanang tidak mengingkan adanya paparan di Kabupaten Ngawi

Cegah Penyebaran Covid 19, Srigati Ditutup Bupati

By Published October 05, 2020

BAHANA,NGAWI – Pergantian tahun Islam, menjadi hal yang cukup religi bagi warga yang berdomisili di daerah Jawa. Terlebih lagi di Kabupaten Ngawi yang memiliki wisata ritual Srigati masuk Alas Ketonggo, malam pergantian tahun Islam tersebut menjadi momentum yang tidak akan terlewatkan. Seperti ditahun-tahun sebelumnya ritual tersebut acapkali bulan Suro dipenuhi oleh warga dari berbagai daerah, dengan niat dan tujuan masing-masing berharap rejeki.
Dikarenakan tahun ini Kabupaten Ngawi masih dengan status orange, Bupati Budi Sulityono melarang Srigati didatangi oleh wisatawan domestic. Hal ini sebagai langkah pemerintah kabupaten Ngawi untuk mencegah paparan Covid 19, diungkapkan oleh Bupati Ngawi sering terpapar covid berasal dari orang dari luar Ngawi.
“ Kami melarang adanya kegiatan dengan melibatkan banyak orang, termasuk juga Srigati karena saya tidak ingin Ngawi terpapar Covid 19,” Ungkap Bupati Ngawi. Senin (21/08/2020)
Bulan Suro tahun ini Muharam 1442 Hijriyah semua pengunjung dilarang masuk ke lokasi yang masuk Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi tersebut. Alasannya Srigati ditutup sementara untuk menghindari sebaran Covid-19. Larangan Bupati Ngawi ini juga di teruskan kepada pemerintahan di tingkat Kecamatan dan Desa, Srigati jangan sampai menjadi cluter baru. Ditambahkan oleh Camat Paron Eko Yudho Nurcahyo, intruksi Bupati sudah di sampaikan kepada paguyuban untuk dapat dilaksanakan dan penutupan Srigati selama 1 bulan.
"Sesuai dengan kesapakatan paguyupan, Srigati ditutup selama 1 bulan," Jelas Eko Yudho Nurcahyo Camat Paron.
Sesuai dengan intruksi Bupati, kegiatan malam Suro di Srigati tetap ditiadakan termasuk pada 15 Muharam nanti. Sementara ritual ganti langse tetap dilakukan dengan menyesuaikan protokol kesehatan. Untuk wisatawan yang diperbolehkan di lokasi hanya warga lokal dengan jumlah dibatasi tetap dengan protocol kesehatan.
"Ganti langse tetap di laksanakan karena hal itu ritual turun-temurun, hanya saja sesuai dengan protocol kesehatan,” tegasnya. (Ard)

Read 12 times