Now playing

Budaya

Budaya (6)

NGAWI – Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam hal ini dinas pariwisata, pemuda dan olahraga mengkalaborasi desainers dan pengusaha batik local dan nasional menggelar Ngawi Batik Fashion (NBF) 2019. Gelaran NBF yang dimulai 4 hingga 5 Oktober 2019 ini, diramaikan oleh quest star Sonia Virgina Puteri Indonesia 2018 dan top 20 miss Universe 2019, Wilda Situngkir Puteri Indonesia pariwisata dan runner up 3 miss supranational 2018, Bela Putri Ekasandra putri Jawa Timur 2019. Tidak hanya itu saja 24 model nasional dan internasional mengenakan baju dari 12 desainer ikut andil dalam kegiatan ini, seperti halnya Safartiwi dari Aceh, Alvy Oktrisni dari Padang dan Mahdalia Makkulau dari Makasar. Bupati Ngawi Ir Budi Sulistyono sebelum membuka NBF mengaku senang dan bangga bahwa dispora berhasil mengemas kegiatan ini dengan sangat apik, dan semoga dalam memperingati hari Batik ini secara tidak langsung batik Ngawi terangkat secara nasional dan Internasional. Sabtu(05/10/2019)
“ Ini bertepatan dengan hari Batik dan sudah event yang ke 7 ini, semoga membawa nama baik Ngawi dan sekaligus Batik asli Ngawi “ Ungkap Bupati Ngawi.
Pagelaran Ngawi Batik Fashion yang dilaksanakan di alu-alun Ngawi, terasa spektakuler dengan hadirnya parade fashion designer yang diantaranya penampilan dari Happa Lestari, hingga Oerip Indonesia yang hadir meramaikan.
Dijelaskan oleh Happa Lestari menurutnya lebih senang dengan mengangkat tema kedaerahan dalam hal ini ciri khas suatu daerah, bisa lebih mengena dan juga membawa suatu kebanggaan daerah.
“ Batik Fashion Show Ngawi ini cukup membuat saya bisa mengapreasiasikan diri dengan membuat parade fashion dengan khas batik dari berbagai daerah “ ungkapnya.
Malam puncak dari lomba fashion dari beberapa kategori yang di selenggarakan di menangkan oleh putra-putri dari Madiun dan juga Solo. Para pemenang mendapatkan thropy , uang pembinaan dan piagam. (ard)

Ngawi  – Warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menggelar tradisi atau upacara adat Keduk Beji di Taman Wisata Tawun guna melestarikan budaya daerah setempat.

 “Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon berdasarkan penghitungan tanggal Jawa Islam. Tujuannya adalah untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu,” ujar sesepuh Desa Tawun yang juga selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo, kepada wartawan

Menurut Mbah Pomo, panggilan akrab Mbah Wo Supomo, inti dari upacara Keduk Beji adalah penyilepan dan penggantian kendi yang disimpan di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut ada di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.”Setiap tahunnya, kendi di dalam sumber air Beji diganti melalui upacara ini. Hal itu dimaksudkan agar sumber air Beji tetap bersih,” kata dia.

 Adapun, sumber air Beji yang berada di Taman Wisata Tawun merupakan sumber air yang sangat penting bagi warga sekitar. Air dari sumber itu digunakan untuk minum, pengairan sawah, dan sumber air di taman Tawun sendiri.

Karena itu, kebersihan sumbernya harus terus dijaga agar tidak mati. Terlebih saat musim kemarau seperti ini, keberlangsungan air di sumber Beji sangatlah penting.

Adapun, upacara Keduk Beji dimulai dengan melakukan pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga Desa Tawun yang berjenis kelamin laki-laki, baik tua, muda, maupun anak-anak turun ke sumber air untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.

Selama proses pembersihan, para kaum laki-laki yang berada di sumber air Beji menari dan melakukan tradisi saling pukul dengan ranting sambil diiringi tabuhan gendang.

Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan penyilepan dan penggantian kendi di dalam pusat sumber. Yang berhak menyelam dan mengganti kendi di sumber air adalah keturunan dari Eyang Ludro Joyo yakni tokoh sesepuh desa yang dulunya dipercaya jasadnya menghilang di sumber Beji saat bertapa.

Upacara dilanjutkan dengan penyiraman air legen ke dalam sumber Beji, dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber. Kemudian, ditutup dengan selamatan dan makan bersama berkat dari Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk mendapatkan berkah.

 Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, selain melestarikan sumber air, upacara Keduk Beji juga merupakan ikon wisata budaya Pemkab Ngawi.

“Keduk Beji telah menjadi salah satu budaya yang khas di Ngawi. Selain itu, agenda Keduk Beji sudah menjadi identitas daerah Ngawi. Kewajiban kita untuk melestarikanya,” kata Bupati Ngawi Budi.

Sementara, setiap tradisi itu digelar, ribuan wisatawan selalu berkunjung ke Taman Tawun, Ngawi, tempat dimana upacara tersebut dilakukan. Mereka berasal dari wilayah Ngawi, Madiun, Magetan dan daerah sekitarnya.

(sumber: https://yukpigi.com/warga-tawun-ngawi-lestarikan-tradisi-keduk-beji/)

Tulang sepanjang 75 cm yang diduga fosil tulang paha Gajah Purba jenis Stegodon ditemukan seorang penambang pasir di Sungai Ketonggo, Tempuran, Paron, Selasa (18/06/2019).

Slamet, warga yang pertama kali menemukan benda ini menuturkan bahwa saat dirinya mencari pasir sempat kaget melihat benda seperti kayu besar.

 

Temuan benda yang diduga tulang gajah purba ini mengundang banyak warga datang untuk melihat langsung ke lokasi.

Benda yang diyakini sebagai fosil gajah purba jenis stegodon ini akhirnya dibawa ke rumah seorang perangkat desa untuk disimpan dan juga dilaporkan kepada pihak terkait.

Sebelumnya, di Desa Rejuno, kecamatan Ngawi pada tahun 2018 lalu juga ditemukan fosil gajah purba yang diduga berusia sekitar 1juta atau 1,5 juta tahun yang lalu

Ngawi - Mungkin anda tidak asing dengan yang satu ini, namanya yang melegenda di tahun 80an masih saja gaungnya terasa hingga sekarang. Kendati para musisinya sudah lanjut namun hal itu tidak menyurutkan para pecintanya.  Grup musik, Krakatau Band menggelar konser nostalgia di lokasi wisata heritage Benteng Pendem Ngawi malam ini, Sabtu (08/04). Band beraliran jazz etnik ini tampil di sebuah pagelaran budaya Ngawi Perform Festival Benteng Pendem Night Artnival. Sejumlah musisi ternama tampil mempesona dalam kemasan Special Performing Krakatau Reunion dengan formasi lengkap yakni Trie Utami, Pra Budi Dharma, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, dan Dwiki Dharmawan .

Meski situasi lokasi disekitar Benteng Pendem atau biasa disebut Benteng Van Den Bosch di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi Kota, baru saja diguyur hujan namun tidak menyurutkan aksi panggung grup musik yang dibesut Dwiki Dharmawan ini. Tak kalahnya lagi, ribuan masyarakat Ngawi pun terhipnotis sejak tembang pertama mulai dilantunkan grup musik asal Kota Bandung tersebut.

“Tidak masalah dengan lokasi yang serba becek maklum baru diguyur hujan sore tadi yang penting bisa nonton konser musik jazz secara gratis. Lagi pula salah satu grup asal kota kembang ini kan dalam rangka tour reuninya,” terang Indri salah satu warga Jalan PB Sudirman Ngawi, Sabtu (08/04).

Sementara sehari sebelumnya saat cek sound sang vokalis Trie Utami kepada media mengatakan, bila konsernya di Kota Ngawi ini menjadi bagian dari tour reuninya setelah di Kota Surabaya pada Januari 2017 lalu. Ia membenarkan, tembang yang dibawa dalam konser di Benteng Pendem Ngawi sekaligus sebagai ajang promo lokasi wisata heritage tersebut merupakan bagian dari album baru kompilasi dari kerinduan setelah belasan tahun tidak bermain bersama dan ngamen bersama.

Jelasnya, dalam album yang dimaksudkan ini ada beberapa di antaranya memilliki nuansa dan karakteristik fusion band Krakatau lama seperti pada lagu “Aku Kamu Kita” yang sangat kental fusion pop-nya. Selain itu, “Aku Kamu Kita” merupakan lagu yang sangat mudah untuk mengingatkan pada Krakatau lama dari Krakatau First Album era 1985. 

Lagu-lagu yang di bawakan oleh Kratatau cukup menghipnotis pengunjung di Banteng Pendem. Bahkan para pejabat teras yang ikut hadir larut dalam nostalgia lagu kenangan mereka di tahun 80an.ARD

Page 1 of 2