Now playing

Wisata

Wisata (6)

Wisata baru pastinya harus punya keunikan dan keunggulan tersendiri. Seperti halnya Wisata Kayangan di desa Brubuh ini.

Salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh pengelola wisata adalah flying fox dengan lintasan yang panjang. Pengunjung akan disuguhkan dengan lintasan flying fox terpanjang di antara wahana yang ada di tempat wisata lain di kabupaten Ngawi, dengan panjang lintasan mencapai 200 meter.

Selain memiliki lintasan terpanjang, flying fox wisata Kayangan desa Brubuh ini menggunakan double tracksekaligus, sehingga bisa digunakan dua orang secara bersamaan. Bukan hanya itu, lintasannya yang membentang di atas sawah juga menjadikan wahana ini semakin istimewa.

Diketahui bahwa Wisata Kayangan baru saja diresmikan pada hari Kamis, (6/6). Tidak hanya flying fox, Wisata Kayangan juga menyuguhkan berbagai wahana seperti river tubing, hammock Susun, Kayangan swing, high swing, ATV dan mini trail.

Pihak pengelola menjelaskan bahwa Wisata Kayangan di desa Brubuh ini buka setiap hari pada jam 08.00-12.00, kecuali hari Jumat yang buka pada 13.00-16.00. Pengunjung cukup membayar tiket masuk seharga Rp 5 ribu/orang, pengunjung sudah dapat menikmati wahana di Wisata Kayangan.

Danang Kurniadi, penggagas wisata Kayangan desa Brubuh menyampaikan bahwa semua lahan wisata merupakan milik warga. Sekitar 30 warga di dusun Kayangan tersebut merelakan tanahnya untuk dijadikan lokasi wisata yang nantinya akan diberlakukan sistem bagi hasil, apabila sudah tertata dengan baik.

Pihaknya juga menjelaskan dalam dua tahun ke depan akan memaksimalkan beberapa master planyang sudah disusun, seperti pembangunan kolam renang dan perbaikan infrastruktur. (sumber:kampoengngawi)

Benteng Van den Bosch, lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Lokasinya mudah dijangkau yakni dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi +/- 1 Km arah timur laut. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam

 

Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan melawan Belanda yang berkobar didaerah dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Di dalam benteng ini terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini, konon K.H. Muhammad Nursalim adalah orang yang menyebarkan agama Islam pertama di Ngawi.

 

Page 2 of 2