Notice: Undefined index: in /home/bahanafm/public_html/templates/radiowave/includes/variations.php on line 63
Dampak Covid 19 Pengrajin Kripik Tempe Merugi 100 Ribu Perhari

Now playing

Rate this item
(0 votes)
Pengrajin kripik tempe Danny Anggoro tengah mempersiapkan kripik tempe untuk dijual pada hari ini, bertahan di tengah pandemic covid 19 Pengrajin kripik tempe Danny Anggoro tengah mempersiapkan kripik tempe untuk dijual pada hari ini, bertahan di tengah pandemic covid 19

Dampak Covid 19 Pengrajin Kripik Tempe Merugi 100 Ribu Perhari

By Published January 16, 2021

BAHANAFM,NGAWI - Virus covid 19 nampaknya tidak hanya mengakibatkan menghilangnya nyawa seserang tapi juga sangat berdampak dari semua sector. Kaum menengah kebawah yang kesehariannya mengandalkan usaha di bidang perekonomian transaksi jual beli menjadi pukulan telak dengan menurunnya daya beli masyarakat. Kendati sudah menjadi makanan khas Ngawi, pengarajin atau home industri kripik tempe asal Desa Ngawipurba, Kecamatan Ngawi mengaku mengeluh karena biaya produksi yang tinggi namun penjualan alami penurunan. Sehingga sehari bisa mengalami kerugian mencapai 100 ribu, sebagai dampak covid 19 yang dialami oleh para pengrajin kripik tempe.
“ Kalau dihitung perhari kerugian yang kami alami bisa mencapai 100 ribu sejak terjadinya covid 19 ini,” Ungkap Danny Anggoro pengusaha kripik tempe asal Ngawi. Rabu (06/01/2021)
Danny demikian panggilan akrabnya menjelaskan sejak covid 19, omset penjualan semakin hari alami penurunan namun tidak dibarengi dengan turunnya harga bahan kripik tempe. Hal ini berdasarkan harga bahan dasar pembuatan kripik tempe alami peningkatan, sepertihalnya kedelai dari Rp 9.200 menjadi 9.700 perkilonya, Minyak goreng perhari 18 liter dengan harga Rp 210.000 menjadi Rp 230.000, plastic pembungkus dari Rp 32.000 menjadi Rp 37.000 perkilo.
“ Harga kebutuhan dasar semakin hari semakin naik, dan kami para pengrajin tidak bisa mengandalkan kedelai lokal karena kripik tempe sejak dulu menggunakan kedelai impor sehingga tidak bisa di siasati,” Tambah Danny.
Dampak covid 19 menjadi pemandangan tak biasa terjadi di kawasan sentra industri tempe sadang Ngawipurba ini, Jika biasanya kawasan tersebut tak pernah sepi dari pengunjung yang berburu oleh oleh khas Ngawi keripik tempe, namun kondisinya kini sepi, pengrajin pun banyak yang enggan stok berlebih. Sebelum pandemi, Ungkap Danny, dia bisa memproduksi 80 kg kedelai dalam sehari. Keripik tempe itu didistribusikan ke sejumlah toko oleh-oleh Ngawi, lamongan hingga obyek wisata.
“ Biasanya kami perhari bisa menghabiskan 80 kg kedelai namun sekarang hanya 30 kg sampai 35 kg,” Tuturnya.
Momen hari raya dan pergantian tahun berkenaan dengan libur nasional adalah saat panen bagi industri oleh oleh khas Ngawi, namun kini akibat wabah corona, kondisi tersebut tidak bisa mereka rasakan. Usaha keripik tempe di Desa Sadang mulai mengurangi produksi sejak akhir Maret atau setelah pemerintah memberikan imbauan untuk di rumah saja. Apalagi, tempat wisata di Ngawi dan sekitarnya ditutup total. Pengrajin berharap, pandemi covid 19 ini bisa segera berakhir dan kondisi ekonomi bisa kembali normal. Serta mengharapkan kepada pemerintah memperhatikan apa yang dirasakan oleh para pengrajin kripik tempe asal Ngawi dengan membantu menurunkan harga bahan dasar kripik tempe.
“ Karena ini mata pencaharian, sehingga kami berusaha untuk bertahan. Kalau berhenti tidak ada pemasukan. Semoga covid 19 segera berakhir dan pemerintah mengutamakan kami,” Harapnya.(ard)

Read 70 times

Joomla! Debug Console

Session

Profile Information

Memory Usage

Database Queries