Now playing

Rate this item
(0 votes)

Di Sumsel, Transmigran Asal Ngawi Tergusur

By Published August 30, 2017

Ngawi-Cukup pelik atas apa yang dialami oleh puluhan transmigran asal Ngawi yang berada di Desa Sungai Naik, Kecamatan Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan (Sumsel). Bagaimana tidak menyedihkan selain nasib mereka belum menentu, masih di tambah lahan yang selama ini mereka garap bakal di gusur oleh perusahaan swasta . Lahan yang di terima oleh pemerintah daerah kepada para transmigran karena kesedianya menempati lahan kosong dan sebagai salah satu jaminan hidup.  Dengan setiap KK mendapatkan lahan untuk di kerjakan dan di manfaatkan sedemikian rupa untuk menyambung hidup di area transmigrasi. 

Mengalami  kerugian secara sepihak, melalui perwakilan transmigran masalah tersebut di keluhkan kepada anggota dewan perwakilan Kabupaten Ngawi. Dalam intinya tujuan mereka mengadu kepada para anggota DPRD Ngawi guna mendapatkan keadilan dan solusi atas apa yang mereka alami,(29/08). 

“Kami sudah lebih dari 5 tahun tinggal di daerah Musiwaras namun secara semena-mena mendapatkan perlakuan pihak swasta, dengan rasa hormat untuk kiranya para anggota legeslatif bisa memberikan solusi masalah kami di perantauan,” terang Lilik Prayitno salah seorang transmigran asal Ngawi.

Lanjut Lilik, pihaknya meminta pejabat didaerah asal untuk mengadvokasi transmigran agar mendapatkan nasib yang jelas. Mereka menuntut hak dan kewajiban yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) bernomor 475.1/14/404.012/2012 dan 180/12/Nakertrans/2012 silam. Sesuai pasal 7 PKS tersebut Pemkab Musirawas berkewajiban menyediakan lahan seluas 2 hektare. Tidak hanya DPRD Ngawi yang pihaknya berikan  masalah ini,  namun sudah melewati Bupati dan dinas yang memberangkatkan kami ke Sumsel. 

“Puluhan KK asal Ngawi di Sumsel mengharapkan uluran tangan untuk lepas dari masalah sengketa tersebut,” tambahnya.

Lilik menuturkan total ada 200 KK transmigran yang tinggal di wilayah tersebut. Dari ratusan KK itu, 11 diantaranya berasal dari Ngawi. Para transmigran yang mengadu nasib di Musirawas, Sumsel itu mencoba bertahan dari berkebun sawit dan karet. Sesuai perjanjian kerjasama yang ditanda tangani Pemkab Ngawi dan Musirawas lima tahun silam transmigran mendapatkan lahan seluas dua hektare. Penyerahan dilakukan oleh Pemkab Musirawas secara bertahap. Tahap pertama 0,25 hektare dan rumah tipe 36. Kedua LU 0,75 hektare, dan terakhir LU 1 hektare.

“Mengejutkan,  Jatah jaminan hidup (Jadup) kami berakhir tahun ini, tidak ada penghasilan yang didapat setelah penggusuran padahal baru  tahap 2 penyerahan lahan dari pemkab setempat,” jelasnya.

Menanggapi masalah pelik para transmigran Ketua Komisi II DPRD Ngawi Khoirul Anam Mukmin,  usai menerima keluhan dari para transmigran  dalam waktu dekat kita bakal melakukan koordinas dengan pejabat Ngawi mendasar karena pihaknya di komisi II bukan menjadi leading sector masalah ini pihaknya secara internal lembaga bakal menyerahkan kewenangannya kepada komisi III.

“Sebagai wakil rakyat kami menerima keluhan masyarakat terlebih lagi warga Ngawi, namun saat sekarang permasalahan tersebut di naungi oleh komisi III akan kami limpahkan secara internal guna di tindaklanjuti,” Jelas Anam demikian panggilan akrabnya. (ARD)

Read 63610 times