Now playing

Rate this item
(0 votes)

Hanya Gara-gara Pertahankan Adat Desa Warga Pelang Lor Nekat Tawuran

By Published August 05, 2017

Ngawi-Seakan tidak menghiraukan  orang  yang melerai namun  pertengkaran yang terjadi antar warga ini tetap berlangsung,  dan bahkan mereka terkesan membiarkan serta  mendukung  tawuran tersebut. Hal ini sudah sering terjadi setiap tahun dan bahkan warga Desa Planglor Kedunggalar Ngawi, mengamini tawuran puluhan warga dengan menggunakan lempar nasi menjadi budaya. Seakan tidak tergerus dengan perkembangan dan kemajuan zaman adat desa yang satu ini hingga sekarang masih mempertahankan ritual budaya bersih desa yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyangnya. Peristiwa sakral dan sudah menjadi kegiatan tahunan ini terjadi di Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, Jum’at (04/08).

Sebelumnya ratusan warga dari berbagai kalangan  terlihat bersiaga lengkap dengan senjata digenggaman tanganya masing-masing, yakni sekepal nasi yang siap untuk  di lempar ke lawan. Tidak pelak, dalam beberapa menit kemudian perang akhirnya benar-benar terjadi. Mereka saling membela diri dengan melempari musuhnya dengan segenggam nasi. Atas aksi yang cukup dramatis ini para warga lainya bukanya melerai justru sebaliknya, berjubel melihat tontonan yang dianggap gratis ini terlebih kejadian itu secara sengaja memang di tunggu-tunggu bahkan diabadikan.

Bersih desa yang dilaksanakan setiap Jum’at Legi ini berlangsung di Sendang Tambak di Dusun Tambakselo Timur, Desa Pelanglor.

Tahapannya sendiri sebelumnya warga dusun tersebut membawa ambengan atau nasi yang lengkap dengan lauk pauk kemudian dibawa ke sumber mata air dengan nama “Sendang Tambak”. Setelah semua sesaji dirasa komplit para sesepuh desa langsung membuka tradisi unik dengan saling melempar ambengan terhadap sesama warga.

Adat “Bersih Desa” semacam ini menurut sesepuh desa setempat merupakan warisan dari leluhurnya yang dilakukan secara turun temurun. Menurutnya, ritual warisan yang cukup melegenda tersebut bagian dari nilai-nilai luhur lama dan upaya menunjukkan bahwa manusia menyatu dengan alam. Ritual lempar nasi ini dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap melimpahnya hasil alam yang mampu menghidupi seluruh warga yang ada di desa ini.

Selain itu secara turun temurun adanya adat ‘Bersih Desa’ dengan melempar nasi ambengan tidak lepas dari nilai sejarah yang ada.  Terbukti nama Dusun Tambak Selo Timur ini memiliki cerita sendiri, bahwa ada seorang tokoh perjuangan pada era penjajahan Belanda dengan sebutan Ki Ageng Tambak. Diketahui tokoh besar tersebut merupakan seorang penentang penjajahan atas warga pribumi yang dilakukan Belanda pada masanya.

Suatu ketika Ki Ageng Tambak bersama pengawalnya dikejar-kejar Belanda dan sampailah di tengah hutan belantara. Dengan posisi sudah terjepit musuh, Ki Ageng Tambak yang kebetulan ada didekat sumber mata air atau biasa dikenal dengan “Sendang” langsung bersabda tidak ada satupun peluru dari senapan Belanda yang sanggup menembus lokasi persembunyianya.

Maka untuk mengenang lokasi persembunyianya dengan menandai sebongkah batu hitam ini Ki Ageng Tambak berujar bila kelak daerah persembunyianya menjadi perkampungan ramai maka namanya akan disebut Dusun Tambak Selo.

Sementara Suyadi, Kepala Desa Pelang Lor, mengatakan adat Bersih Desa dilakukan ini tidak lepas dari kepedulian seluruh warganya untuk melestarikan tradisi adat. Selain itu Suyadi menegaskan selama ini kepedulian pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi terhadap pelestarian kebudayaan tersebut masih rendah. Maka dengan sukarela seluruh warganya tetap berupaya semaksimal mungkin mendukung tradisi yang dilakukan secara turun temurun dimana adat Bersih Desa merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang sewajarnya mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah setempat. (ARD)

Read 29824 times