Now playing

Rate this item
(0 votes)

Keduk Beji Masih Menjadi History Bagi Ngawi

By Published August 02, 2017

Ngawi- Kabupaten paling barat dari Jawa Timur ini masih menyimpan tradisi yang masih di pegang teguh oleh warganya. Adat istiadat yang sakral dilaksanakan oleh warga, mulai dilirik oleh pemkab setempat dalam pelaksanaannya. Bahkan pihak ketiga dalam hal ini CSR mendukung pula renovasi pembangunan dan kegitaan sekitar lokasi adat tersebut.  Ritual tahunan akan budaya kental ini warga awam menyebutnya ‘Keduk Beji’ di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang digelar secara turun temurun oleh warga sekitar kali ini dikemas berbeda dari tahun sebelumnya, Selasa (04/07). Salah satu adat istiadat asli bumi orek-orek Ngawi ini terlihat makin mentradisi serta dikenal banyak wisatawan dari local maupun luar kota terbukti acapkali kegiatan bersih desa ini di selenggarakan menarik para pengunjung untuk melihatnya.

“Ritual adat istiadat Keduk Beji ini kita harapkan semua elemen masyarakat harus melestarikan khususnya warga Desa Tawun. pasalnya ritual yang sudah turun temurun ini harus diwariskan ke anak cucu kita nanti agar mereka tahu akan budaya yang dimiliki terlebih 2017 ini sebagai tahun kunjungan wisata atau Visit Ngawi Years, Kabupaten Ngawi tengah mempersiapkannya” terang Ony Anwar Wakil Bupati Ngawi yang hadir dilokasi, Selasa (04/07).

Kita mengharapkan, saat sekarang potensi budaya lokal memang dirasakan makin berkurang di ketehuai oleh generasi muda dan tergerus budaya global. Dengan adanya Keduk Beji sebagai satu wahana budaya yang harus dikedepankan sebagai bagian identitas daerah.

“Setiap daerah mempunyai ikon khas akan budaya seperti grebek suro yang ada di daerah lain. Dan di Ngawi ini setidaknya ada Keduk Beji dan menjadi satu pertanyaan apabila kegiatan yang sudah mentradisi ini terkikis oleh budaya luar. Kewajiban kita tidak lain adalah melestarikanya,” bebernya.

Sementara terkait tradisi Keduk Beji dari berbagai sumber yang ada memang menyebutkan selalu digelar pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya selesai. Ritual itu digelar sebagai sarana untuk ucapan rasa syukur atas limpahan rejeki yang diberikan oleh sang Khalik atas adanya sumber mata air yang dipergunakan oleh warga sekitar tawun ini guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan mata air yang sebagai seseorang kali pertama menemukan dan segala prosesi kegiatan Keduk Beji.

Serangkaian prosesi upacara adat istiadat ini di awali dengan berkumpulnya warga asli Desa Tawun di sumber berukuran 20 x 30 meter. Ritual dimulai dengan melakukan pengerukan atau pembersihan kotoran dengan mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori sumber mata air Beji yang berada di Desa Tawun.

Kemudian dilanjutkan Supomo selaku sesepuh Desa Tawun selaku juru silep atau juru selam mengalawali dengan membersihkan mata air di kedalaman di bawah permukaan tanah tanpa menggunakan alat bantu. Sesepuh desa yang cukup di segani ini menjelaskan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu yang terus dilaksanakan secara turun temurun. Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran.

Menurutnya, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber Beji sendiri. Ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Setelah bertapa lama, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya hilang dan muncul air sumber ini. Sehingga sebagai bentuk ucapan terima kasih atas apa yang dilakukan oleh Eyang Ludro Joyo, para pemuda desa setempat membersihkan sumber air dari kotoran  guna terjaga kejernihan air.(ard)                        

Read 45448 times