Now playing

Rate this item
(0 votes)

Kejadian Sadis Muhdiono, Masih Menjadi Trauma Keluarga Korban

By Published October 09, 2017

Ngawi- Terletak di perbatasan antara wilayah Kecamatan Kedunggalar dan Kecamatan Jogorogo tempat peritiswa sadis cukup membuat se warga Ngawi enggan melupakannya. Tidak terkecuali keluarga korban sendiri yang melihat secara langsung dan bahkan menjadi salah satu korban dari peristiwa Senin berdarah.  Setelah menjalani perawatan hampir sepekan di RS At Tin Ngawi kondisi Sumiyati (45) ibu Neny Agustin korban pembantaian si parang maut Muh Mudiono akhirnya terus membaik dan dipersilahkan pulang oleh dokter. Saat ditemui dirumahnya di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi ditemani suaminya Sujari (55) dengan raut wajah sedih Sumiyati mulai biasa diajak komunikasi untuk menceritakan awal kejadian pembacokan yang menimpa putri bungsunya Neny Agustin hingga meninggal.

“Sudah mending tidak begitu pusing hanya saja luka ditangan maupun leher harus diperiksakan lagi ke dokter,” demikian kata Sumiyati mengawali pembicaraan dengan awak media, Selasa (03/10).

Pada Selasa 26 September 2017 tentu sebagai hari yang cukup dikenang bagi Sumiyati dan keluarga besarnya. Mengingat pada waktu tersebut sebuah petaka menimpa, namun apapun alasanya kini Sumiyati sedikit demi sedikit mulai menerima kenyataan itu sebagai musibah meski berat untuk dirasakan. Sebelum kejadian pada Selasa pagi masih segar dalam ingatan Sumiyati demikian juga Sujari menjalani aktivitasnya sehari-hari tanpa ada perasaan bakal terjadi musibah yang bakal dikenang seumur hidupnya.

Menjelang siang Sumiyati seperti biasa bergegas ke sawah untuk mencari rumput untuk pakan ternak kambingnya. Demikian juga Sujari sebagai kepala rumah tangga pagi itu harus bekerja sebagai kuli proyek irigasi di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, maklum keberadaanya sebagai keluarga jauh dari kata mapan. Tetapi dengan penghasilan pas-pasan tidak membuat Sujari maupun Sumiyati berkeluh kesah.

Bagi Sumiyati pagi itu tidak ada firasat apapun tetapi sebaliknya Sujari justru merasakan ada satu keanehan pada diri Neny Agustin. Ketika Sujari pamit untuk bekerja tidak seperti biasa Neny mencium tangan bapaknya tersebut. Padahal kata Sujari selama ini ketika dipamiti Neny hanya menjawab untuk hati-hati dijalan. Dengan perilaku yang lain dari biasanya itu dalam hati kecil Sujari ada pikiran was-was.

“Pagi sebelum kejadian ketika saya pamit kepada anak saya itu tidak seperti biasanya. Dia (Neny-red) mencium tangan saya. Habis itu saya langsung berangkat kerja jadi kuli proyek tetapi selaku orang tua pasti bertanya mau ada apa dengan diri anak saya ini. Dan tahu-tahu ada musibah seperti itu,” kenang Sujari.

Hal berbeda disampaikan Sumiyati, usai dari sawah dirinya langsung menuju ke kandang ternak kambing miliknya itu yang berada di depan rumah untuk menaruh rumput. Lantas dia pun menuju rumah dan melihat Muh Mudiono bersama Neny Agustin duduk dikursi emper rumah. Sebagai orang tua Sumiyati juga menyapa pelaku Muh Mudiono.

“Waktu saya masuk rumah pelaku dan anak saya duduk dikursi emper. Dan di meja rumah ada kopi dua gelas saya tanya kepada Muh Mudiono apa tadi diantar temanya dan dijawab iya,” terang Sumiyati.

Urainya, habis itu dia menyuruh pelaku bersama putrinya untuk sarapan ke dapur. Saat itulah awal mulai kejadian, tanpa sebab yang jelas mendadak kepala bagian belakang Sumiyati langsung dipukul dengan batu hingga tersungkur. Tidak berselang lama pelaku mulai beringas dengan sabit langsung membacok tangan, pundak hingga leher Sumiyati hingga beberapa kali. Melihat kejadian yang tidak wajar secara spontan Neny Agustin meloncat mendekati tubuh ibunya yang sudah berdarah.

Bukanya redam malah Muh Mudiono berganti senjata parang mulai membacok leher Neny secara membabi buta. Dengan sisa tenaga yang ada Sumiyati langsung lari menyelamatkan diri ke rumah tetangganya Sumiyem (40) yang berada disamping rumahnya. Mendengar ada jeritan histeris membuat Pawiro Sikas (65) kakek korban demikian juga Sumiyem minta pertolongan warga sekitarnya.

Namun pada waktu yang bersamaan pelaku muncul dari dalam rumah Sumiyati dengan membawa dua bilang senjata tajam antara sabit dengan parang langsung membacok beberapa kali mengenai tangan Sumiyem demikian kepala dan tangan Pawiro Sikas. Kedua orang ini langsung roboh bersimbah darah.

“Pas kejadian itu ada Mbak Darwati tetangga saya melihat ada pembacokan ketika mendekat malah dia diancam akan dibunuh oleh pelaku. Dia pun lari menyelamatkan diri dan meminta bantuan warga lainya. Tetapi ketika warga berdatangan pelaku sudah kabur,” urai Sumiyati.

Bebernya lagi, sebelum kejadian dirinya tidak melihat ada sesuatu dalam diri pelaku. Hanya saja sepekan sebelum peristiwa yang merenggut putrinya itu pelaku sempat bilang kepada Sumiyati apabila Neny meninggal dirumah pelaku akan menjadi tanggungjawabnya. Namun jika Neny meninggal dirumahnya maka menjadi tanggungjawab antara Sumiyati maupun Sujari.

“Mendengar perkataan seperti itu saya sendiri tidak tahu kalau bakal terjadi pembacokan pada anak saya. Menurut saya peristiwa itu sudah direncanakan oleh pelaku sebelum kejadian,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Sujari, sebelum ada peristiwa tragis beberapa kali pelaku berkeluh kesah pada dirinya tentang kesulitan mencari kroto pakan burung. Oleh Sujari curahan hati pelaku juga ditanggapi secara positif dan meminta pelaku untuk sabar dalam mencari rejeki.

Dengan peristiwa yang menyebabkan Neny Agustin meninggal, Sujari meminta pelaku Muh Mudiono warga Dusun Pondok, Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, untuk dihukum berat sesuai perilakunya. Paling tidak dia berharap, pelaku dihukum mati dan minimalnya seumur hidup. Menyusul dari aksi kejinya yang telah membantai putrinya Neny demikian juga melakukan tindak penganiyaan secara kejam kepada tiga orang lainya itu.

“Saya minta dengan sangat pelaku dihukum mati. Sebab anak saya sudah dibunuh dengan cara seperti itu dan minimalnya seumur hidup. Kalau tidak ada keadilan maka saya akan ke Jakarta menemui Bapak Presiden Jokowi agar hukum ditegakan,” pungkas Sujari.

Secara terpisah pengusutan atas Muhdiono sudah hampir selesai pelaporan pemberkasan oleh pihak kepolisian untuk di serahkan kepada pihak kejaksaan. (ARD)

Read 43421 times