Now playing

Rate this item
(0 votes)

Musim Penghujan, Penjual Terompet Alami Rugi Jutaan Rupiah.

By Published January 03, 2020

NGAWI – Menelan pil pahit, mungkin ini yang dirasakan oleh sejumlah penjual terompet yang ada di seputaran Ngawi yang mengadu rejeki, lantaran musim penghujan sepi pembeli. Karena sepi pembeli, penjual terompet di Ngawi, Jawa Timur mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah saat malam pergantian tahun kali ini.
Diungkapkan oleh Suhardi 45 tahun, seorang penjual terompet saat ditemui di alun – alun Ngawi, Rabu (1/1/2020), mengatakan, kondisi sepi pembeli tersebut kemungkinan imbas dari musim penghujan yang melanda Ngawi. Sehingga para pembeli enggan keluar dari rumah, terlebih lagi membawa putra-putri mereka yang biasa menjadi pembeli terbanyak.
“ Hingga menjelang pergantian tahun barupun keuntungan menjual terompet sangat sedikit sekali,” Ungkap Suhardi penjual terompet warga Semarang.
Ditambah lagi, tambahnya, warga yang merayakan malam pergantian tahun tidak seramai dulu. Musim penghujan sepertihalnya saat ini cukup mempengaruhi para warga Ngawi, terlbih lagi menyambut pergantian tahun baru dengan menggunakan terompet.
"Tahun baru sekarang sepi. Dari malam sampai pagi menjelang[378 , saya baru bisa menjual lima buah terompet. Musim penghujan cukup membuat penjualan terompet pada malam pergantian tahun, sudah tidak menjanjikan," tambahnya.
Dia menjelaskan meskipun harga jual terompet tidak mahal, namun peminat semakin menurun. Ia mengharap hingga menjelang detik-detik pergantian tahun baru penjualan terompet miliknya dapat menggantikan biaya produksi.
“ Semoga penjualan terompet, masih bisa menjanjikan dan menggantikan biaya produksi,” harapnya,
Sementara Dedi (31), warga Kelurahan Karangtengah, Ngawi, mengatakan tahun baru tidak ada terompet, seperi halnya makan tanpa minum, untuk menyambut tahun baru dengan terompet sudah ia persiapkan jauh hari sebelumnya.
" Terompet sengaja saya beli jauh hari sebelumnya karena setiap sore Ngawi hujan takut tidak terbeli karena kehujanan," Tegasnya. (ard)

Read 120 times