Now playing

Rate this item
(0 votes)

Ngawi barat Jadi sasaran peredaran nrakoba

By Published September 07, 2017

Miris wilayah Ngawi bagian barat menjadi sasaran peredaran narkoba bahkan susah menjajagi kaum pelajar. Terutama di Kecamatan Sine dan sekitarnya menjadi satu daerah rawan peredaran pil koplo jenis Triheyphenidyl. Terbukti dalam sebulan terakhir sudah beberapa pelaku yang berhasil diamankan petugas dari wilayah tersebut. Parahnya sasaran peredaran pil koplo itu sendiri mengarah ke kalangan pelajar setingkat SMP dan SMA.

Hal ini bisa diketahui dari hasil press release Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Ngawi terhadap dua terduga pelaku peredaran pil koplo asal Kecamatan Sine. Masing-masing berinisial AY (25) pria asal Dusun Tulakan Kulon, Desa Tulakan dan DA (21) warga Dusun Tretes, Desa Jagir.

“Hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku ini disebutkan bahwa konsumen dari pil koplo mayoritas pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA,” kata Kasatnarkoba Polres Nagwi AKP Mukid, Rabu (06).

Urai Mukid, dari tangan AY barang bukti yang diamankan sebanyak 122 butir pil koplo jenis Trihexyphenidyl, satu unit handphone merek Samsung dan uang tunai Rp 150 ribu. Sedangkan barang bukti dari tangan DA yang berstatus mahasiswa ini meliputi 1 plastik kresek warna hitam berisi beberapa butir pil koplo jenis Trihexyphenidil meliputi 2 strip masing-masing berisi 10 dan 6 pil koplo.

Selain itu turut diamankan 1 buah handphone merek Xiomi warna putih plus uang tunai sebesar Rp 38 ribu dan sepeda motor jenis Yamaha Vixion warna hitam nopol AE 3087 MG. Baik AY maupun DA berhasil digulung dalam satu hari pada Senin kemarin, (04/09), di Desa Tulakan.

“Semua pil koplo yang didapatkan kedua pelaku berasal dari seseorang pemasok yang katanya berinisial GB asal Sragen. Untuk mengungkap sekaligus menangkap GB tentunya kami melakukan koordinasi dengan Satreskoba Polres Sragen,” jelas AKP Mukid.

Atas keterlibatan bisnis narkoba, baik AY maupun DA bakal dijerat dengan Pasal 196 jo Pasal 98 ayat 2 dan 3 UURI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dengan demikian jika terbukti bersalah di pengadilan DA bakal mendekam dibalik pengapnya sel penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.(ARD)

Read 42693 times