Now playing

Rate this item
(0 votes)

Ribuan Balita Stunting, Dalam Pengawasan Dinas Kesehatan Ngawi

By Published August 26, 2019

NGAWI – Pemerintah saat sekarang menggalakkan peningkatan gisi anak baik dari rahim hingga dalam tumbuh kembangannya. Terlebih akhir-akhir ini diberitakan marak stunting dikarenakan orang tua tidak memperhatikan pola gizi dan sanitasi yang baik, mengakibatkan terganggunya pertumbuhannya Seperti diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Nila Moelek, sanitasi memang berkaitan erat dengan stunting alias kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dari tinggi badan orang lain seusianya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, satu dari tiga anak di Indonesia menderita stunting.
Mengingat hal tersebut Bupati Ngawi Budi Sulistyono dalam waktu dekat ini merencanakan pembangunan sanitasi guna pembangunan sarana dan prasaranya.Kedepan pengelolaan air bersih maupun penanganan gizi buruk akan menjadi prioritas pemerintah daerah, untuk mewujudkan kesehatan optimal di mulai dari puskesmas.
“ Seminimal mungkin Ngawi akan menekan stunting, kita mulai dari pengawasan dari Puskesmas “
Kanang membenarkan, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral dan buruknya keberagaman pangan dan sumber protein hewani menjadi penyebab stunting. Dengan alasan itu pihaknya meminta kepada tenaga medis di tingkat desa hingga kecamatan untuk berperan aktif dalam usaha pemerintah.

" Stunting dapat di cegah sejak dini, selain kesadaran para orang tua juga partisipasi dari pihak tenaga kesehatan," Tambah Kanang.

Sementara jumlah balita stunting sesuai data dari Dinkes Kabupaten Ngawi mencapai 8.014 balita tercatat sampai 2019 ini. Yudono Kepala Dinkes Kabupaten Ngawi pencegahan balita stunting sudah dilakukan sejak 2014 lalu. Karena yang menjadi faktor utama penyebab stunting adalah asupan gizi anak ketika masih berusia balita. Mendasar hal itu, peran tenaga kesehatan ditingkat bawah tetap pihaknya optimalkan guna pengawasan sejak dini. Peran progam pos pelayanan terpadu (posyandu) menjadi bagian awal guna mengetahui tumbuh kembang anak sejak dini.
“ Peran bidan desa dan puskesmas dan progam posyandu menjadi ujung tombak, penekanan terhadap stunting dan sudah kami laksanakan sejak 2014 lalu “ tegas Kepala Dinas Kesehatan Yudono.
Dari hasil pengawasan dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi 8.014 balita stunting yang tersebar di 24 puskesmas Kabupaten Ngawi, Kecamatan Kendal menjadi peringkat pertama sekitar 40,37%, kedua Kecamatan Bringin 38,97 % dan diurutan ketiga Puskesmas Ngawipurba 35,46 %.
“ kekhawatiran stunting di Kabupaten Ngawi diakui tidak ada, hanya saja dengan menggunakan indikator tinggi secara umum, balita Ngawi masuk dalam kategori stunting “ tegasnya. (ard)

Read 41 times