Now playing

Rate this item
(0 votes)

Tugu Kartoyono Milik Ngawi Bakal Megah

By Published August 26, 2017

Ngawi- Dalam waktu dekat ini, sesuai dengan janji Bupati Ngawi Tugu Kartonyono bakal berubah. Pembangunan yang direncanakan tahun anggaran 2018 murni diambilkan dari APBD pemkab Ngawi. Mini project ini bukan sembarang orang yang mengerjakan, asli di pikir dan direkayasa oleh anak Ngawi. Historynya, keberadaan tugu yang sudah berumur 34 tahun tersebut berganti wajah yakni berupa gading gajah dengan posisi menjuntai keatas berlatar manusia purba yang ditopang dengan tujuh trap.

Karya indah ini telah mengalahkan puluhan peserta yang mengikuti kontes lomba desain tugu Kartoyono. Sesuai dengan keputusan dewan juri karya besar Triyono seorang arsitektur asli Ngawi yang sudah mempersembahkan desain prototipnya demi keindahan dan tata kota kelahiranya. Jarot Kusumo Yudo staf Tata Bangunan dan Tata Ruang (Tabataru) DPUPR Ngawi mengatakan desain Triyono keluar sebagai pemenang polling dari 5 karya arsitek lainya.

“Setelah kami seleksi dari para kontestan yang mengirim desain itu sekitar 28 gambar dari para arsitek. Namun kita ambil 5 besar dan ternyata desain Mas Triyono inilah yang terpakai nantinya sesuai hasil polling,” terang Jarot  Kamis (24/08).

Mendasar penjelasan dari peserta mengambil tema gading gajah menjuntai keatas versi Triyono sengaja membawa konsep yang sangat khas dan kental dengan keberadaan sejarah tentang Kabupaten Ngawi sendiri. Konsep gading yang menjuntai keatas filosofinya sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melambangkan sesuai visi Kabupaten Ngawi dimana Ngawi Sejahtera, Berakhlak Berbasis Pedesaan Sebagai Barometer Jawa Timur.

Sedangkan tujuh trap sebagai penopang gading gajah itu sendiri bermakna universal antara lain, menanggulangi kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan, meningkatkan pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan yang berkwalitas dan berdaya saing. Selain itu, meningkatkan kwalitas insfrastruktur sesuai daya dukung lingkungan dan fungsi ruang dan beberapa lagi makna sesuai jumlah trap yang ada.

Seperti diketahui Tugu Kartonyono dibangun sekitar tahun 1983 yang sebelumnya berada di pertigaan. Ketika jembatan Dungus dibangun menuju ke timur jalur Ngawi-Caruban maka tugu tersebut berubah total menjadi Perempatan Tugu Kartonyono.

Untuk nama Kartonyono sendiri bukan sekedar asal nama melainkan ada mendasar dari sebuah narasi tentang keberadaan rumah Bapak Kartonyono yang tidak lain seorang kepala desa (Kades) Margomulyo sebelum berubah menjadi kelurahan. Dan rumah tersebut sejalan dengan pembangunan Kota Ngawi terpaksa digusur agar diatas lahan itu bisa dibangun jalan menuju jembatan Dungus sebagai akses ke jalur Ngawi-Caruban sekarang ini.

Tegasnya semoga pembangunan Tugu dapat berjalan dengan lancar menuju Ngawi visit year menampilkan keragaman wisata lokal yang menambah PAD secara langsung peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. (ARD)

Read 61856 times